Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan pers terkait pencairan dana pemerintah di Jakarta, Jumat (12/9/2025). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa perbankan penerima suntikan likuiditas sebesar Rp 200 triliun harus berani menyalurkan kredit dengan bijak. Ia mengingatkan agar dana besar yang sudah digelontorkan tidak berujung menjadi kredit macet atau non-performing loan (NPL).
Menurut Purbaya, perbankan tidak bisa lagi bersembunyi di balik alasan kondisi ekonomi yang belum kondusif. Baginya, regulator dan pelaku industri keuangan harus mengambil langkah berani agar perekonomian bergerak.
"Kalau mereka kasih pinjaman nggak hati-hati jadi NPL, ya harusnya mereka dipecat," ujarnya kepada wartawan di Istana Negara, Selasa (16/9).
Purbaya menjelaskan bahwa strategi fiskal yang ia jalankan merupakan pendekatan yang wajar. Ia menolak anggapan bahwa langkahnya terlalu agresif jika dibandingkan dengan pendahulunya.
Bagi Purbaya, kebijakan fiskal seharusnya dijalankan sesuai rencana anggaran yang sudah ditetapkan. Ia menekankan pentingnya konsistensi dalam belanja negara.
"Ketika Anda punya, Anda sudah anggarkan, habisin. Kalau nggak berani nggak habisin, jangan didesain, jangan direncanakan," tegasnya.
Menanggapi kekhawatiran soal rendahnya permintaan kredit di tengah situasi ekonomi global yang tidak menentu, Purbaya justru balik mempertanyakan dasar argumen tersebut. Ia menilai anggapan itu keliru.
"Siapa bilang? Ada ekonom yang bilang begitu? Dia mesti belajar lagi ekonomi," ucapnya.
Ia mencontohkan pada 2021, ketika pertumbuhan kredit sempat melambat. Saat itu, pemerintah mengambil langkah berani dengan menyuntikkan likuiditas ke sistem keuangan. Hasilnya, pertumbuhan uang beredar dan kredit meningkat secara signifikan.
"Cukup signifikan, M0 (uang beredar) tumbuh double digit. Dalam waktu yang hampir bersamaan, kredit juga tumbuh," jelasnya.
Purbaya menekankan, mekanisme ekonomi bekerja dengan pola yang relatif konsisten. Menurutnya, perilaku sistem perekonomian tidak berubah dalam jangka pendek, sehingga kebijakan fiskal yang tepat bisa mendorong reaksi pasar yang serupa dengan periode sebelumnya.
Ia memperkirakan dampak kebijakan ke ekonomi akan terlihat dalam dua hingga tiga bulan, sementara penyaluran kredit bisa lebih cepat.
"Biasanya sih ke ekonomi ini dua bulan, tiga bulan kelihatan. Tapi kalau pertumbuhan dengan kredit seharusnya satu bulan sudah kelihatan," ujarnya.
Meski perbankan disebut tengah gelisah, Purbaya optimistis dana yang digelontorkan akan masuk ke sistem perekonomian. Ia menilai perubahan sentimen itu akan membawa dampak positif.
"Yang tadinya anda takut-takut, oh Indonesia gelap. Mungkin sebentar lagi Indonesia terang sedikit. Pertamanya semakin ke depan, semakin terang lagi. Jadi enggak usah takut," tuturnya.