5 Gaya Khas Ikon Feminis Dunia: Kartini Berkebaya sampai Malala dengan Dupatta - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
5 Gaya Khas Ikon Feminis Dunia: Kartini Berkebaya sampai Malala dengan Dupatta
Sep 16th 2025, 21:38 by kumparanWOMAN

Malala Yousafzai. Foto: Valerie Macon/AFP, Angela Davis. Foto: MARCEL BINH/AFP, Yoko Ono.  Foto: Wojtek Radwanski/AFP
Malala Yousafzai. Foto: Valerie Macon/AFP, Angela Davis. Foto: MARCEL BINH/AFP, Yoko Ono. Foto: Wojtek Radwanski/AFP

Bicara tentang perempuan inspiratif memang tidak akan ada habisnya. Para ikon feminis dunia dikenal akan perjuangan mereka membela hak-hak perempuan dan kesetaraan gender. Namun, mereka juga punya gaya khas dalam berpakaian, loh. Mulai dari Kartini dengan kebaya sampai Malala Yousafzai dengan dupatta-nya.

Yuk, intip bagaimana lima ikon ini memadukan semangat perjuangan dengan tampilan khas mereka.

R.A. Kartini dan kebaya Kartini

Ilustrasi RA Kartini. Foto: Hanifah Hafasya/Shutterstock
Ilustrasi RA Kartini. Foto: Hanifah Hafasya/Shutterstock

Raden Ajeng Kartini adalah pelopor emansipasi perempuan Indonesia. Ia lahir dari keluarga bangsawan Jawa dan dikenal lewat surat-suratnya yang memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan. Gagasannya tentang kesetaraan gender dalam pendidikan bahkan banyak dikagumi oleh kalangan Belanda pada masa kolonial. Pemikirannya kemudian memberikan kontribusi besar dalam lahirnya kesadaran baru tentang kesetaraan gender di Indonesia.

Gaya khas Kartini terwakili lewat tampilan kebaya yang sederhana dan anggun. Saking khasnya model kebaya yang dikenakan Kartini semasa hidupnya, namanya pun disematkan sebagai nama model kebaya tersebut.

Model kebaya Kartini memiliki ciri khas kerah berbentuk segitiga atau V-neck dengan belahan panjang di bagian depan. Kebaya ini biasanya dipadukan dengan kain batik yang memberi kesan berwibawa. Potongannya lurus, simpel, tanpa banyak hiasan, sehingga memberi kesan anggun, sopan, dan berwibawa.

Malala Yousafzai dan busana tradisional Pakistan yang berwarna mencolok

Malala Yousafzai. Foto: Valerie Macon/AFP
Malala Yousafzai. Foto: Valerie Macon/AFP

Malala Yousafzai dikenal sebagai aktivis perempuan dari Pakistan yang berjuang untuk hak pendidikan bagi anak perempuan. Ia menjadi simbol keberanian setelah selamat dari serangan Taliban akibat perjuangannya. Kini, Malala terus bersuara di panggung internasional sebagai penerima Nobel Perdamaian termuda bersama Kailash Satyarthi pada 2014.

Gaya Malala lekat dengan pakaian tradisional Pakistan yang penuh warna cerah. Busananya kerap terdiri dari shalwar kameez dengan dupatta yang disampirkan anggun.

Shalwar kameez merupakan pakaian tradisional perempuan yang terdiri atas dua bagian, shalwar dan kameez. Shalwar berbentuk celana longgar dengan potongan lebar, sementara kameez berbentuk atasan panjang berpotongan lurus yang menutupi hingga lutut atau lebih.

Lalu, dupatta adalah kain panjang berbentuk selendang yang menjadi pelengkap shalwar kameez. Panjangnya bisa mencapai dua meter, biasanya dikenakan di bahu, menutupi dada, atau kadang dijadikan penutup kepala. Busana ini populer di Pakistan, India, dan Bangladesh.

Gloria Steinem dengan tampilan black-on-black

Gloria Steinem. Foto: Lisa O'connor/AFP
Gloria Steinem. Foto: Lisa O'connor/AFP

Gloria Steinem adalah salah satu tokoh feminis paling berpengaruh di Amerika Serikat. Ia dikenal sebagai jurnalis, aktivis, sekaligus pendiri majalah Ms. yang menjadi wadah penting bagi gerakan perempuan di era 70-an. Kiprahnya melawan diskriminasi gender menjadikannya ikon feminisme internasional.

Gaya khas Gloria Steinem tampak dalam pilihan busana serba hitam. Tampilan black-on-black andalannya memberi kesan elegan dan tegas.

Angela Davis dengan rambut afro, turtleneck oranye, dan jaket kulit

Angela Davis. Foto: MARCEL BINH/AFP
Angela Davis. Foto: MARCEL BINH/AFP

Angela Davis merupakan aktivis hak sipil Amerika yang lantang memperjuangkan kesetaraan gender dan ras. Ia juga dikenal sebagai akademisi yang pemikirannya berpengaruh besar dalam gerakan feminis dan anti-kapitalis.

Gaya khas Angela Davis tercermin lewat potongan rambut afro yang ikonis, dipadukan dengan turtleneck oranye yang mencolok serta jaket kulit dengan kemeja.

Pilihan Angela Davis untuk mengenakan gaya rambut Afro pada akhir 1960-an hingga 1970-an merupakan langkah politik yang sarat makna. Rambut Afro kala itu hadir sebagai lambang kebanggaan identitas kulit hitam serta bentuk penolakan terhadap standar kecantikan ala Barat.

Yoko Ono dengan potongan rambut pixie dan topi fedora

Yoko Ono.  Foto: Wojtek Radwanski/AFP
Yoko Ono. Foto: Wojtek Radwanski/AFP

Yoko Ono adalah seniman avant-garde sekaligus aktivis perdamaian asal Jepang yang dikenal dengan karya-karyanya yang eksperimental. Ia kerap menyuarakan pentingnya kebebasan berekspresi dan kesetaraan gender melalui seni dan aksi sosial. Kehadirannya tidak pernah gagal untuk menantang norma konvensional.

Gaya khas Yoko Ono adalah potongan rambut pixie yang modern serta topi fedora yang selalu menghiasi penampilannya. Sebelumnya, Yoko Ono memiliki potongan rambut lurus dan panjang sampai awal 1970. Bersama John Lennon, Yoko Ono memotong rambut mereka dan menjadikannya bagian dari aksi publik serta kampanye perdamaian. Kombinasi gaya Yoko Ono yang konsisten hingga saat ini memberinya aura eksentrik yang ikonis.

Penulis: Zulfa Salman

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url