Kuburan salah satu korban kecelakaan kereta di Bekasi, Nuryati (63) dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Karet Tengsin, Jakarta, Selasa (28/4/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Insiden yang terjadi sekitar pukul 21.00 WIB itu sontak memicu kepanikan di dalam gerbong, ketika benturan keras terjadi dan membuat suasana berubah gelap dan mencekam.
Di balik angka dan laporan kejadian, ada cerita-cerita tentang keluarga, harapan, dan kehilangan yang begitu dekat dengan keseharian. Salah satunya datang dari sosok Nuryati (62), seorang ibu yang dikenal hangat dan penuh perhatian bagi anak-anaknya.
Momen saat Nuryati Terjebak di KRL
Kondisi gerbong KRL Commuterline yang bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Senin (27/4/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO
Malam itu, Nuryati pergi ke Cikarang bersama anaknya, Shofiah, serta cucunya yang berusia 5 tahun. Perjalanan ini dilakukan untuk menjenguk anak keduanya yang sedang sakit. Mereka menggunakan KRL seperti biasa. Namun nahas, perjalanan itu berubah menjadi tragedi yang tak pernah dibayangkan.
Sebelum benturan besar terjadi, KRL yang ditumpangi Nuryati sempat berhenti setelah muncul informasi adanya kereta yang menabrak mobil di lokasi yang sama. Nuryati dan Shofiah sempat turun untuk memastikan keadaan, lalu kembali masuk ke dalam gerbong.
Kurang dari lima menit kemudian, guncangan hebat terjadi. KRL tersebut tertabrak KA Argo Bromo Anggrek.
“Pintunya ketutup, lampu mati, semua panik,” kenang Shofiah pada kumparanMOM, Rabu (29/4).
Mereka terpencar, sang anak sempat jatuh sedangkan Nuryati dan Shofiah terombang ambil di dalam KRL.
Dalam kondisi gelap, penumpang berusaha mencari jalan keluar hingga akhirnya pintu berhasil dibuka dengan bantuan petugas keamanan.
Di tengah kepanikan itu, Shofiah lebih dulu menyelamatkan anaknya melalui jendela. Ia kemudian kembali untuk menolong sang ibu keluar dari gerbong.
Namun, setelah berhasil dievakuasi, Nuryati tiba-tiba jatuh pingsan. Ia diketahui memiliki riwayat penyakit jantung.
Meski sempat mendapat pertolongan dari orang-orang di lokasi, nyawa Nuryati tidak tertolong. Ia mengembuskan napas terakhir setelah proses evakuasi.
Mengenang Sosok Nuryati
Di rumah, Nuryati dikenal sebagai sosok ibu yang ramah dan aktif, termasuk dalam kegiatan PKK di lingkungannya. Ia meninggalkan tujuh orang anak, termasuk satu anak yang tengah bersiap menikah dalam waktu dekat.
“Aku mau menikah bulan Juni… tapi Mamah sudah nggak ada. Nanti siapa yang sebar undangan,” ucap sang anak lirih.
Sebetulnya pihak keluarga berencana menikahkan sang anak di depan liang rahat, namun karena situasi yang sangat ramai akhirnya pihak keluarga tidak jadi menikahkan dan menutuskan untuk tetap nikah di bulan Juni.
Sebuah kehilangan yang tak hanya menyisakan duka, tetapi juga ruang kosong yang sulit tergantikan dalam sebuah keluarga.