Wall Street Ditutup Menguat, Investor Nantikan Akhir Konflik Iran - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Wall Street Ditutup Menguat, Investor Nantikan Akhir Konflik Iran
Mar 10th 2026, 06:14 by kumparanBISNIS

Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock

Bursa saham AS atau Wall Street berhasil ditutup menguat pada perdagangan Senin (9/3). Penguatan ini terjadi setelah pasar berbalik arah pada akhir sesi, didorong harapan meredanya konflik antara AS, Israel, dan Iran.

Mengutip Reuters pada Selasa (10/3), pada penutupan perdagangan indeks Dow Jones Industrial Average naik 239,25 poin atau 0,50 persen ke level 47.740,80, indeks S&P 500 menguat 55,97 poin atau 0,83 persen ke posisi 6.795,99, dan Nasdaq Composite melonjak 308,27 poin atau 1,38 persen menjadi 22.695,95.

Sebelumnya, pasar sempat mengalami tekanan tajam sepanjang perdagangan. Namun menjelang penutupan, indeks saham berbalik naik setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan perang antara AS-Israel melawan Iran kemungkinan segera berakhir.

Trump mengatakan konflik tersebut telah berjalan "jauh di depan" dari perkiraan awalnya yang menyebut perang bisa berlangsung sekitar empat hingga lima minggu.

Pada awal perdagangan, harga minyak sempat melonjak ke level tertinggi sejak pertengahan 2022. Kenaikan ini dipicu gangguan pasokan akibat terganggunya jalur pelayaran selama konflik Iran yang telah memasuki hari ke-10.

Ilustrasi kilang minyak Ras Tanura, Arab Saudi. Foto: Evannovostro/Shutterstock
Ilustrasi kilang minyak Ras Tanura, Arab Saudi. Foto: Evannovostro/Shutterstock

Lonjakan harga energi ini menimbulkan kekhawatiran baru terhadap inflasi, terutama di tengah kondisi konsumen AS yang masih menghadapi tekanan biaya hidup.

Namun harga minyak kemudian turun setelah muncul laporan bahwa pemerintahan Trump tengah mempertimbangkan pelonggaran sanksi minyak terhadap Rusia.

Pergerakan pasar yang berayun tajam sepanjang hari mencerminkan tingginya volatilitas akibat perkembangan geopolitik yang terus berubah.

"Masih ada banyak sekali ketidakpastian mengenai durasi konflik, serta durasi penutupan Selat Hormuz," kata Chief investment strategist CFRA Research di New York, Sam Stovall.

"Sekali lagi hari ini, melihat pembalikan relatif dalam pergerakan harga menunjukkan bahwa investor mencari setiap peluang untuk kembali masuk ke pasar saham," sambungnya.

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi juga meningkat setelah laporan ketenagakerjaan AS pada Jumat lalu (6/3) menunjukkan hasil yang lebih lemah dari perkiraan.

Kondisi ini, ditambah kenaikan harga energi, memunculkan risiko stagflasi, yaitu situasi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat.

"Laporan ketenagakerjaan yang lemah tersebut, bersamaan dengan kenaikan harga energi menunjukkan potensi stagflasi," ujar Senior portfolio manager Dakota Wealth di Fairfield Connecticut, Robert Pavlik.

Meski demikian, pelaku pasar masih memperkirakan bank sentral AS atau Federal Reserve bakal mempertahankan suku bunga acuannya setidaknya hingga paruh pertama tahun ini.

Adapun sembilan dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500 ditutup di zona hijau, dengan sektor teknologi mencatatkan kenaikan terbesar. Sektor keuangan dan energi menjadi dua sektor yang ditutup melemah.

Indeks semikonduktor Philadelphia juga menguat, dengan saham produsen chip seperti SanDisk, Broadcom, dan Nvidia melonjak antara 2,7 persen hingga 11,7 persen.

Sebaliknya, saham perusahaan pembangunan rumah, perbankan, serta sektor kedirgantaraan dan pertahanan menjadi sektor yang berkinerja paling lemah.

Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis pekan ini, termasuk data inflasi Consumer Price Index (CPI) dari Departemen Tenaga Kerja, revisi data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal keempat dari Departemen Perdagangan, serta laporan Personal Consumption Expenditures (PCE). Data-data tersebut berpotensi memberikan arah baru bagi pergerakan pasar dalam waktu dekat.

Dari sisi perdagangan saham, di Bursa New York jumlah saham yang melemah sedikit lebih banyak dibanding yang menguat dengan rasio 1,06 banding 1. Tercatat 105 saham mencetak level tertinggi baru dan 204 saham menyentuh level terendah baru.

Sementara di Nasdaq, sebanyak 2.645 saham naik dan 2.107 saham turun, dengan rasio saham naik terhadap turun sebesar 1,26 banding 1.

Volume transaksi di seluruh bursa AS tercatat mencapai 22,41 miliar saham, lebih tinggi dibanding rata-rata 19,99 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url