Danau di Kongo Lepas Karbon Purba ke Atmosfer, Picu Kekhawatiran Global - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Danau di Kongo Lepas Karbon Purba ke Atmosfer, Picu Kekhawatiran Global
Mar 19th 2026, 02:30 by kumparanSAINS

Ilustrasi karbon dioksida Foto: geralt/pixabay
Ilustrasi karbon dioksida Foto: geralt/pixabay

Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa danau dan sungai berair hitam di kawasan Congo Basin ternyata melepaskan karbon purba ke atmosfer. Temuan ini bikin ilmuwan terkejut karena sebelumnya karbon tersebut diyakini tersimpan aman di lahan gambut di sekitarnya.

Penelitian ini sekaligus mematahkan anggapan lama bahwa karbon dari gambut kuno tetap terperangkap di bawah tanah. Sebaliknya, hasil studi yang terbit di jurnal Nature Geoscience menunjukkan bahwa sebagian lahan gambut tropis berpotensi berubah dari penyerap karbon (carbon sink) menjadi sumber emisi karbon yang signifikan.

"Kami kini dihadapkan pada pertanyaan besar terkait 30 juta ton karbon, apakah ini hanya kebocoran alami dalam skala kecil, atau awal dari ketidakstabilan besar?" ujar Travis Drake, penulis utama studi sekaligus ahli biogeokimia karbon dari ETH Zurich, dikutip Live Science.

Dalam empat tahun terakhir, Drake bersama timnya telah melakukan tiga kali ekspedisi penelitian ke wilayah tersebut. Fokus utama mereka adalah Cuvette Centrale, kawasan hutan dan rawa seluas sekitar 145.000 kilometer persegi di Republik Demokratik Kongo yang menyimpan kompleks lahan gambut tropis terbesar di dunia.

Di kawasan ini terdapat dua danau besar berair hitam, yakni Lake Mai Ndombe dan Lake Tumba, serta Sungai Ruki River yang mengalir menuju Sungai Kongo.

Perairan berwarna hitam ini mengandung banyak sisa-sisa tanaman yang membusuk atau karbon organik terlarut, yang menjadi penyebab warna gelapnya. Bersama dengan karbon dioksida (CO2) yang berasal dari hutan dan rawa di sekitarnya, kondisi ini menciptakan kadar CO2 yang sangat tinggi di perairan tersebut. Akibatnya, danau dan sungai tersebut melepaskan CO2 dalam jumlah besar ke atmosfer.

Lake Mai Ndombe. Foto: Ahmad moussa/Shutterstock
Lake Mai Ndombe. Foto: Ahmad moussa/Shutterstock

Selama ini, para ilmuwan meyakini bahwa CO2 tersebut tidak berasal dari gambut purba di kawasan Cuvette Centrale. Hal ini karena lapisan gambut tersebut berada di lingkungan yang minim oksigen dan jenuh air, sehingga dianggap sangat stabil dan terlindungi dari proses penguraian.

Namun, studi baru menunjukkan hal sebaliknya. Peneliti menemukan bahwa sebagian besar CO2 yang dilepaskan dari perairan tersebut berasal dari karbon gambut yang berusia antara 2.170 hingga 3.500 tahun.

"Kami sangat terkejut karena sebelumnya kami sepenuhnya mengira karbon dioksida ini berasal dari sumber modern," kata Drake.

Kesimpulan tersebut diperoleh dari pengukuran yang dilakukan di Lake Mai Ndombe pada 2022 dan 2024, serta di Lake Tumba dan Ruki River pada 2025. Peneliti menggunakan perahu kecil untuk mengakses lokasi penelitian, meski menghadapi tantangan seperti angin kencang yang hampir membuat perahu mereka terbalik.

Drake menambahkan bahwa ekosistem di kawasan tersebut masih relatif alami. Permukiman manusia memang ada di sekitar danau, namun jumlahnya sedikit dan tersebar.

Dalam penelitian ini, tim mengukur sedimen, gas rumah kaca, karbon organik terlarut, serta karbon anorganik terlarut, termasuk CO2, ion bikarbonat, dan ion karbonat. Selanjutnya, sampel tersebut dianalisis di laboratorium menggunakan spektrometri presisi tinggi untuk membedakan karbon modern dari tumbuhan dengan karbon tua yang berasal dari tanah.

Awalnya, peneliti mengira karbon anorganik di danau juga berasal dari sumber modern. Namun, hasil analisis awal menunjukkan bahwa sekitar 40 persen karbon tersebut ternyata berusia ribuan tahun.

Lake Mai Ndombe. Foto: Noa Luna/Shutterstock
Lake Mai Ndombe. Foto: Noa Luna/Shutterstock

Temuan ini mendorong tim untuk menganalisis lebih banyak sampel, dan hasilnya konsisten. Penelitian lanjutan di Lake Tumba dan Ruki River juga menunjukkan kadar tinggi karbon anorganik yang berasal dari gambut purba.

Para peneliti menduga mikroorganisme di kawasan tersebut berperan dalam menguraikan karbon gambut menjadi CO2 dan metana, yang kemudian masuk ke perairan dan akhirnya dilepaskan ke atmosfer. Secara global, Cuvette Centrale diperkirakan menyimpan sepertiga dari total karbon yang tersimpan di lahan gambut tropis dunia, setara dengan sekitar 30 miliar ton.

Penelitian ini menyebut kemungkinan bahwa pelepasan karbon purba tersebut merupakan bagian dari proses alami pembentukan gambut baru, sehingga menciptakan keseimbangan ekosistem. Namun, ada juga kekhawatiran bahwa perubahan iklim dapat mengganggu stabilitas simpanan karbon yang telah lama terkubur, dan membuat kawasan ini mendekati titik kritis (tipping point).

"Jalur ini menunjukkan kerentanan yang serius. Jika kawasan ini mengalami kekeringan di masa depan, proses pelepasan karbon bisa semakin cepat, dan mengubahnya dari penyerap karbon menjadi sumber emisi besar," jelas Drake.

Ke depan, para peneliti berencana menganalisis air yang terperangkap di dalam lapisan gambut untuk memahami lebih jauh bagaimana mikroba melepaskan karbon purba tersebut.

"Tujuan kami adalah memastikan apakah proses ini terjadi di seluruh kawasan Cuvette Centrale dan mengukur laju oksidasi untuk mengetahui apakah ini merupakan kondisi alami atau tanda ketidakstabilan," pungkasnya.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url