Mitos atau Fakta: Cangkang Telur Berbintik Berasal dari Ayam Cacingan? - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Mitos atau Fakta: Cangkang Telur Berbintik Berasal dari Ayam Cacingan?
Feb 4th 2026, 13:00 by kumparanMOM

Ilustrasi telur Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Ilustrasi telur Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Moms, belakangan ini media sosial ramai membahas telur dengan cangkang berbintik. Banyak ibu jadi khawatir karena muncul anggapan telur berbintik berasal dari ayam cacingan dan tidak aman dikonsumsi, apalagi untuk anak.

Tapi apakah benar telur dengan cangkang berbintik berbahaya dan tidak boleh dikonsumsi? Yuk cari tahu jawabannya!

Penjelasan Ahli Tentang Cangkang Telur Berbintik

Ilustrasi menyimpan telur dalam posisi yang benar. Foto: Shutterstock
Ilustrasi menyimpan telur dalam posisi yang benar. Foto: Shutterstock

Secara ilmiah, cangkang telur berbintik terjadi karena deposisi pigmen atau kalsium yang tidak merata saat telur terbentuk di dalam tubuh ayam. Selain itu, faktor genetik juga sangat berpengaruh. Artinya, kondisi ini bisa terjadi meskipun ayam dalam keadaan sehat.

Namun ada beberapa faktor lain yang juga dapat memengaruhi munculnya bintik pada cangkang telur, seperti:

  1. Kepanasan ekstrem (heat stress)

  2. Infeksi bakteri

  3. Gangguan metabolisme

  4. Gangguan proses produksi telur

Artinya telur dengan cangkang berbintik tidak otomatis berbahaya dan bukan bukti ayam cacingan, seperti yang ramai dibicarakan, ya, Moms.

"Telur dengan cangkang berbintik tetap aman dikonsumsi. Bahkan telur yang terpapar bakteri pun masih bisa dikonsumsi asal dimasak sampai matang dengan suhu tinggi, karena panas dapat membunuh bakteri berbahaya," kata Prof. Dr. Ir. Niken Ulupi, MS, Guru Besar Tetap Fakultas Peternakan IPB University pada kumparanMOM, Selasa (3/2).

Namun, untuk yang terbiasa mengonsumsi telur setengah matang, perlu lebih waspada. Prof. Niken mengingatkan, konsumsi telur setengah matang sebaiknya dilakukan saat kondisi tubuh benar-benar fit. Karena saat kondisi fit, paparan bakteri di dalam telur cenderung bisa diatasi.

"Masalahnya, kita yang mengkonsumsi itu belum tentu kondisi kita prima. Pada saat kondisi kita tidak prima, bakteri-bakteri itu biasanya Salmonella, E. coli, bisa berkembang," jelas Prof Niken.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url