Angkat Fenomena Fatherless, Ini 5 Pelajaran dari Film Suka Duka Tawa - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Angkat Fenomena Fatherless, Ini 5 Pelajaran dari Film Suka Duka Tawa
Jan 29th 2026, 10:04 by kumparanWOMAN

Potret keluarga di film Suka Duka Tawa. Foto: Suka Duka Tawa Film
Potret keluarga di film Suka Duka Tawa. Foto: Suka Duka Tawa Film

Peliknya hubungan antara anak dan orang tua tertuang dalam film Suka Duka Tawa yang disutradarai oleh Aco Tenriyagelli. Tayang sejak 8 Januari 2026, film ini mengangkat fenomena fatherless yang memengaruhi emosi anak khususnya perempuan saat tumbuh dewasa.

Topik yang cukup berat tersebut dikemas dalam balutan humor lewat dialog antar tokoh.Meski demikian, guyonan yang disampaikan tidak mengesampingkan pesan hangat tentang keluarga yang ingin disampaikan.

Lalu, Seperti apa kisah dalam film Suka Duka Tawa dan apa saja pelajaran yang dapat diambil? Berikut ulasannya yang telah kumparanWOMAN rangkum khusus kamu.

Sekilas tentang film Suka Duka Tawa

Film ini tentang keluarga kecil yang terdiri dari Keset (Bapak: Teuku Rifnu Wikana), Cantik (Ibu: Marissa Anita), dan Tawa (Anak:Rachel Amanda) yang memiliki hubungan rumit karena masa lalu.

Sejak kecil, Tawa harus berpisah dari ayahnya akibat persoalan ekonomi. Ia tumbuh hingga usia 21 tahun tanpa kehadiran sosok ayah, membuatnya berada dalam kondisi fatherless yang memengaruhi kestabilan emosi, serta cara ia memahami bentuk cinta dalam hidupnya.

Luka batin akibat kehilangan figur ayah membentuk amarah yang terpendam. Tawa kemudian meluapkan kekesalannya melalui materi stand-up comedy dengan membuka aib sang ayah. Namun, langkah tersebut justru menjadi bumerang yang berdampak buruk bagi Tawa dan keluarganya.

5 hal yang bisa kamu pelajari dari film Suka Duka Tawa

Lewat kisah keluarga yang emosional dan relevan, Suka Duka Tawa menghadirkan beragam pesan yang dapat dipetik. Berikut lima pelajaran penting dari film ini versi kumparanWOMAN.

1. Maaf = Magical world untuk memperbaiki keadaan

Potret keluarga di film Suka Duka Tawa. Foto: Suka Duka Tawa Film
Potret keluarga di film Suka Duka Tawa. Foto: Suka Duka Tawa Film

Meski sederhana, kata "maaf" susah terucap karena ego masing-masing individu. Padahal magical word ini dapat membantu memperbaiki keadaan sesulit apa pun, asal diucapkan dengan hati yang tulus.

Hal tersebut tergambar dalam film ketika ayah dan ibu Tawa sama-sama kesulitan mengungkapkan permintaan maaf satu sama lain. Penundaan ini justru membuat situasi semakin keruh, membebani setiap anggota keluarga, dan membuat mereka terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu.

Ketika akhirnya keluarga ini berani saling meminta maaf, hubungan perlahan membaik. Meski luka yang ada tidak serta-merta pulih sepenuhnya, langkah tersebut menjadi awal dari proses penyembuhan.

2. Fatherless memengaruhi sisi emosional anak hingga dewasa

Figur ayah dalam tumbuh kembang anak memiliki peran penting, khususnya bagi anak perempuan. Kondisi fatherless seperti yang dialami Tawa dapat memengaruhi cara anak mengelola emosi hingga dewasa.

Salah satunya dalam membangun dan menjaga hubungan dengan orang-orang terdekatnya. Sehingga Tawa sulit membuka diri mengenai perasaannya terhadap orang lain, terutama lawan jenis.

3. Ibu jadi sandaran aman bagi anak perempuan

Ibu Cantik dan Tawa. Foto: Suka Duka Tawa Film
Ibu Cantik dan Tawa. Foto: Suka Duka Tawa Film

Meski hubungan ibu dan anak kerap diwarnai pertengkaran, sosok ibu tetap menjadi sandaran aman bagi anak perempuan. Di balik konflik dan perbedaan pandangan, kehadiran ibu mampu menghadirkan rasa aman yang sulit tergantikan.

Dalam film ini, konflik kecil antara Tawa dan ibunya ditampilkan dengan penuh emosi, namun tetap dilandasi cinta. Terlihat bahwa seberapa pun sang ibu berusaha menjauh, seorang anak nyatanya tidak benar-benar bisa kehilangan sosok ibu dalam hidupnya.

Dalam salah satu dialog yang menyentuh, Tawa menyampaikan: "Yang lain boleh bohong, boleh pergi ninggalin. Tapi ibu nggak boleh". Kalimat ini menggambarkan ketakutan terdalam Tawa akan kehilangan satu-satunya tempat ia bersandar.

4. Anak perempuan belajar mengenal cinta pertama kali dari sosok ayah

Banyak yang bilang kalau ayah adalah cinta pertama anak perempuan. Namun, ketika sosok tersebut tidak hadir untuk mengenalkan makna cinta, anak dapat tumbuh dengan kebingungan.

Akibatnya saat anak perempuan tumbuh dewasa, mereka berisiko sulit membedakan antara cinta yang sehat dan hubungan yang merugikan. Dalam film ini Tawa mengungkapkan kalau dirinya tidak mengetahui seperti apa bentuk cinta karena kondisi fatherless yang ia alami.

5. Belajar berdamai dan menerima luka

Ayah Keset dan Tawa. Foto: Suka Duka Tawa Film
Ayah Keset dan Tawa. Foto: Suka Duka Tawa Film

Berdamai serta menerima luka masa lalu bukanlah hal yang mudah. Namun, jika terus diabaikan, luka tersebut dapat menggerogoti kebahagiaan dan merenggangkan hubungan antar anggota keluarga.

Seperti yang dilakukan keluarga Tawa, mereka akhirnya belajar untuk saling berdamai dengan luka yang dibawa seiring bertambahnya usia. Hal ini mengajarkan bahwa tidak ada salahnya menghadapi masalah dan melewatinya bersama, termasuk melalui momen-momen bahagia yang mampu mempererat kembali ikatan keluarga.

Film ini juga berpesan bahwa tidak ada keluarga yang benar-benar sempurna. Namun, pasti ada keluarga yang mau belajar memahami, menerima kekurangan, dan saling bertumbuh.

Baca juga: Serial Netflix Meghan Markle Disebut Tak Akan Dilanjut ke Musim 3, Kenapa?

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url