Cerita Ibu: 4 Tahun Berjuang Dampingi Anak Terapi Kaki Pengkor dan Kini Pulih! - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Cerita Ibu: 4 Tahun Berjuang Dampingi Anak Terapi Kaki Pengkor dan Kini Pulih!
Feb 4th 2026, 12:00 by kumparanMOM

Ilustrasi kaki bayi pengkor. Foto: Shutter Stock
Ilustrasi kaki bayi pengkor. Foto: Shutter Stock

Kinanti tak akan pernah lupa momen saat melahirkan putranya, Farel. Persalinan anak pertamanya di sebuah bidan itu berjalan lancar, namun sesaat setelah Farel lahir, ada satu hal yang langsung membuatnya dan sang suami terkejut. Yaitu bentuk kaki Farel terlihat bengkok dan berbeda dari bayi pada umumnya.

Bidan pun menyampaikan bahwa kemungkinan besar Farel mengalami CTEV (Congenital Talipes Equinovarus), kelainan bawaan pada kaki yang memerlukan penanganan dokter ortopedi, alias kaki pengkor.

Sempat Jalani Pengobatan Alternatif

Kinanti dan keluarga tinggal di sebuah kampung di Jambi. Lingkungan sekitar mereka menyarankan pengobatan alternatif terlebih dahulu. Sebab, khawatir bayi yang masih sangat kecil harus menjalani operasi.

Sejak usia Farel 4 hari, Kinanti rutin membawanya ke tukang urut setiap dua hingga tiga hari sekali. Kaki Farel dipijat, diolesi ramuan rempah, lalu dililit daun bunga bakung merah.

"Tapi, ternyata setelah 2 bulan kami rutin ke tukang urut itu, ternyata enggak ada hasil sama sekali," kata Kinanti saat dihubungi kumparanMOM, Selasa (3/2).

Akhirnya Kinanti dan suami memutuskan berhenti. Mereka berdiskusi dengan keluarga dan memilih jalan medis. Saat Farel berusia dua bulan, Kinanti membawanya ke dokter ortopedi di Kota Jambi. Sayangnya, dokter menyebut penanganan sudah agak terlambat.

Tulang yang seharusnya masih sangat lentur ketika baru lahir, saat itu sudah mulai kaku. Proses gips pun dimulai, dengan estimasi awal empat kali gips sebelum operasi. Namun, hingga enam kali gips kaki Farel masih kaku dan akhirnya dokter menyarankan operasi.

Masalah lain pun muncul, yakni proses pengobatan gips tidak bisa menggunakan BPJS dan akhirnya pakai dana pribadi. Setiap kali Farel di-gips, Kinanti harus mengeluarkan sekitar Rp1,8 juta. Ketika operasi, biaya yang dibutuhkan sekitar Rp30 juta untuk kedua kaki.

"Cuma setelah dipikir-pikir karena aku belum tahu pasti track record dokter Farel yang menangani ini, apa sudah pernah berhasil atau belum menangani kasus CTEV, jadi kami tuh kayak ragu, takut kalau misalnya udah keluar duit sebanyak itu, ternyata hasilnya nggak ada," ucapnya.

Berobat Jauh ke Solo, Pulang Membawa Harapan Baru

Dengan berat hati, keluarga memberi izin Kinanti dan suami membawa Farel berobat jauh dari Jambi ke Solo. Bahkan Kinanti sempat membawa orang tuanya langsung ke RSO agar mereka melihat sendiri banyaknya pasien CTEV dari seluruh Indonesia yang berhasil ditangani di sana.

Di Solo, Kinanti dan keluarga harus ngekos selama 2,5 bulan. Suaminya memutuskan resign demi mendampingi Farel, sementara Kinanti bersyukur masih bisa bekerja secara WFH.

"Alhamdulillah jadi masih bisa dapat pemasukan dari pekerjaan aku," sambung Kinanti.

Di RSO, dokter menjelaskan bahwa kondisi CTEV Farel cukup berat dan kaku, namun tetap diupayakan koreksi dengan gips terlebih dahulu sambil mempersiapkan kemungkinan operasi.

Proses gips berjalan hingga empat kali. Kaki kanan menunjukkan perbaikan signifikan, namun kaki kiri tetap kaku dan akhirnya harus dioperasi. Total, Farel menjalani delapan kali gips hingga posisi kedua kakinya benar-benar terkoreksi dan tampak normal.

Setelah itu, Farel harus menggunakan sepatu khusus bernama FAB. Sepatu ini bukan untuk mengoreksi, melainkan mempertahankan posisi kaki agar tidak kembali bengkok, karena CTEV sangat rentan kambuh (relapse).

"Untuk jam pemakaian sepatunya, awalnya itu 23 jam per hari. Jadi dibukanya cuma 1 jam dalam sehari kan, jadi itu dibagi setengah jam di mandi pagi dan setengah jam di mandi sore," tutur ibu dua anak itu.

Menurut penjelasan yang Kinanti terima, waktu tidur adalah fase paling rawan terjadinya relapse karena pertumbuhan kolagen pada kaki berlangsung cepat. Itulah sebabnya, meski Farel sudah bisa berjalan dan berlari normal di usia 16 bulan, penggunaan sepatu tetap harus disiplin dijalani.

Akhirnya, pada Oktober 2025, saat usianya genap empat tahun, Farel dinyatakan lulus terapi. Ia tak lagi perlu memakai sepatu khusus. Kakinya kini kuat dan berfungsi seperti anak-anak lainnya.

Perjalanan Kinanti dan Farel menjadi pelajaran bahwa CTEV bukan akhir segalanya, namun membutuhkan penanganan medis yang tepat, cepat, dan konsisten, Moms.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url