Marah-Marah: Ilusi Pelepasan Emosi dan "Kebisingan" dalam Komunikasi - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Marah-Marah: Ilusi Pelepasan Emosi dan "Kebisingan" dalam Komunikasi
Feb 14th 2026, 02:00 by Atef Fahrudin

freepik.com/
freepik.com/

Dalam budaya populer, kita sering mendengar nasihat: "Keluarkan saja rasa marah itu, jangan dipendam, nanti jadi penyakit." Nasihat ini didasarkan pada model hidrolik emosi—gagasan bahwa kemarahan seperti uap di dalam panci presto yang harus dilepaskan agar tidak meledak. Namun, dari kacamata psikologi komunikasi, "marah-marah" atau meluapkan amarah secara agresif (venting) seringkali bukan solusi, melainkan sebuah kegagalan dalam proses encoding pesan.

Marah-marah sering dianggap sebagai bentuk ketegasan, padahal secara psikologis, itu adalah bentuk komunikasi yang penuh noise (gangguan). Ketika seseorang meledak, mereka mungkin merasa lega sesaat (gratifikasi instan), namun pesan yang ingin disampaikan justru hancur di tengah jalan.

Mitos Katarsis: Mengapa "Nge-gas" Tidak Membantu

Banyak orang percaya pada teori catharsis—bahwa meluapkan kemarahan akan mengurangi agresi. Namun, riset psikologi sosial modern justru membuktikan sebaliknya. Sebuah studi klasik dari Brad Bushman (2002) yang diterbitkan dalam Personality and Social Psychology Bulletin menemukan bahwa orang yang meluapkan kemarahannya (misalnya dengan memukul samsak sambil memikirkan orang yang membuatnya kesal) justru menjadi lebih agresif, bukan lebih tenang, dibandingkan mereka yang diam sejenak.

Dalam konteks komunikasi, ini berarti kebiasaan marah-marah tidak menyelesaikan konflik intrapersonal. Alih-alih meredakan ketegangan, otak kita justru memperkuat jalur saraf yang mengasosiasikan kemarahan dengan agresi verbal. Akibatnya, kita menjadi "terlatih" untuk marah-marah setiap kali menghadapi masalah, menciptakan siklus komunikasi yang toksik.

Pembajakan Amigdala: Putusnya Logika Komunikasi

Mengapa sulit berdiskusi dengan orang yang sedang marah-marah? Jawabannya terletak pada neurobiologi. Daniel Goleman menyebut fenomena ini sebagai "Amygdala Hijack" (Pembajakan Amigdala).

Saat seseorang berada dalam puncak kemarahan, amigdala (pusat emosi otak) mengambil alih kendali dari korteks prefrontal (pusat logika dan bahasa). Dalam kondisi ini, kemampuan seseorang untuk memproses argumen rasional menurun drastis. Komunikasi yang terjadi bukan lagi pertukaran gagasan, melainkan pertarungan sinyal ancaman. Kata-kata kasar yang keluar saat marah-marah hanyalah residu dari respons fight-or-flight, bukan pesan yang terstruktur. Ini menjelaskan mengapa penyesalan sering datang setelah amarah mereda; karena saat itu, akses kita terhadap logika baru pulih kembali.

Marah sebagai "Emosi Sekunder"

Dalam psikologi komunikasi, penting untuk memahami bahwa marah seringkali adalah "topeng" atau emosi sekunder. Di balik teriakan atau bentakan, seringkali tersembunyi emosi primer yang lebih rentan: rasa takut, rasa malu, perasaan tidak dihargai, atau kesedihan.

John Gottman, seorang peneliti hubungan terkemuka, mencatat bahwa ekspresi kemarahan yang bersifat menyerang karakter (kritik dan penghinaan) adalah prediktor kuat retaknya hubungan. Marah-marah menutup pintu empati lawan bicara. Lawan bicara tidak lagi mendengar "apa yang Anda butuhkan", melainkan hanya mendengar serangan terhadap diri mereka, yang memicu sikap defensif.

Menuju Komunikasi Asertif

Marah itu sendiri adalah emosi yang valid dan manusiawi. Ia adalah sinyal bahwa ada batasan yang dilanggar. Namun, "merasakan marah" dan "marah-marah" adalah dua hal berbeda. Psikologi komunikasi menawarkan jalan tengah: Asertivitas.

Komunikasi asertif mengubah energi kemarahan menjadi kalimat yang konstruktif menggunakan formula "I-Message" (Pesan Saya). Alih-alih berteriak "Kamu selalu tidak becus!" (yang memicu pertengkaran), kita bisa mengatakan "Saya merasa kecewa ketika laporan ini terlambat karena saya jadi cemas dengan tenggat waktu klien."

Kesimpulannya, marah-marah mungkin terasa memuaskan bagi ego kita sejenak, tetapi ia adalah strategi komunikasi yang buruk. Ia menciptakan kebisingan, bukan kejelasan. Mengelola amarah bukan berarti menekan perasaan, melainkan menerjemahkan impuls emosional yang mentah menjadi pesan yang bisa dipahami oleh orang lain.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url