Elang Flores: Burung Langka di Bumi, Penjaga Sunyi Hutan Timur Nusantara - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Elang Flores: Burung Langka di Bumi, Penjaga Sunyi Hutan Timur Nusantara
Feb 14th 2026, 01:00 by Fabian Satya Rabani

Salah satu burung paling langka di bumi pemangsa endemik ini hidup dalam bayang-bayang kepunahan, dengan populasi kecil, wilayah jelajah sempit, dan ancaman yang datang dari berbagai arah. Foto: ChatGPT Image
Salah satu burung paling langka di bumi pemangsa endemik ini hidup dalam bayang-bayang kepunahan, dengan populasi kecil, wilayah jelajah sempit, dan ancaman yang datang dari berbagai arah. Foto: ChatGPT Image

Di balik hutan-hutan sunyi di gugusan Sunda Kecil, hidup satu mahakarya evolusi Nusantara yang nyaris luput dari perhatian dunia. Dialah Elang Flores (Nisaetus floris), salah satu elang paling langka di planet ini. Burung pemangsa endemik tersebut hidup dalam bayang-bayang kepunahan, dengan populasi kecil, wilayah jelajah sempit, dan ancaman yang datang dari berbagai arah.

Masyarakat Flores mengenalnya sebagai rajawali hutan. Di Lombok dan Sumbawa, ia disebut elang besar penghuni pegunungan. Nama boleh berbeda, tetapi maknanya serupa: simbol kekuatan, kesunyian, dan kewibawaan alam liar. Sosoknya jarang terlihat, tetapi kehadirannya terasa kuat di lanskap hutan yang masih tersisa.

Secara ilmiah, Elang Flores termasuk Kerajaan Animalia, Filum Chordata, Kelas Aves, Ordo Accipitriformes, Famili Accipitridae, dan Genus Nisaetus. Spesies ini pertama kali dideskripsikan oleh Ernst Hartert pada 1898. Untuk waktu yang lama, ia dianggap hanya subspesies dari elang brontok (Nisaetus cirrhatus). Namun, pandangan itu berubah pada awal abad ke-21.

Populasi Elang Flores tergolong sangat kecil. Pada 2004 diperkirakan hanya ada sekitar 73 hingga 75 pasangan, atau sekitar 150 individu dewasa di alam. Foto: ChatGPT Image
Populasi Elang Flores tergolong sangat kecil. Pada 2004 diperkirakan hanya ada sekitar 73 hingga 75 pasangan, atau sekitar 150 individu dewasa di alam. Foto: ChatGPT Image

Penelitian mendalam oleh Gjershaug dan rekan-rekannya pada 2004 menunjukkan perbedaan morfologi yang signifikan. Kajian molekuler yang dilakukan Lerner dan Mindell pada 2005 semakin menguatkan temuan tersebut. Sejak itu, Elang Flores diakui sebagai spesies mandiri, unik, dan tak tergantikan.

Penampilannya mencerminkan statusnya sebagai penguasa langit hutan. Panjang tubuhnya berkisar antara 60 hingga 82 sentimeter, dengan rentang sayap mencapai 160 sentimeter. Tubuhnya tegap dan gagah. Kepala putih cerah dihiasi jambul panjang yang khas. Lehernya kokoh, menyatu dengan dada yang lebar. Paruhnya melengkung tajam, dirancang sempurna untuk mencabik mangsa.

Bagian atas tubuhnya berwarna coklat gelap, nyaris kehitaman. Dada dan perutnya putih, dihiasi garis-garis kemerahan tipis. Ekornya coklat dengan enam palang gelap yang menjadi ciri khas. Kakinya putih, kuat, dan bercakar tajam. Cakar itulah senjata utama saat ia menyergap mangsa di kanopi hutan.

Perbedaan antara jantan dan betina hampir tak terlihat. Betina sedikit lebih besar, sebagaimana lazim pada banyak jenis elang, tetapi secara visual keduanya nyaris identik. Elang Flores hidup monogamis dan setia pada satu pasangan dalam jangka panjang. Pola hidup ini membuat laju reproduksinya berjalan lambat.

Habitatnya terbatas pada hutan primer dan hutan sekunder tua. Ia juga dijumpai di hutan pegunungan dan kawasan submontana, pada ketinggian sekitar 500 hingga 1.600 meter di atas permukaan laut. Sebarannya sangat terbatas, meliputi Pulau Flores, Lombok, Sumbawa, Rinca, Komodo, dan Satonda. Laporan terbaru bahkan menyebutkan keberadaannya di Pulau Alor.

Dalam laporan Trainor tahun 2012, diperkirakan terdapat sekitar 70 pasangan Elang Flores di Alor. Angka ini masih bersifat sementara dan membutuhkan verifikasi lanjutan, tetapi temuan tersebut memperluas peta sebaran spesies yang sebelumnya dianggap semakin terdesak.

Sarangnya dibangun di pohon-pohon besar. Ia bertelur satu hingga dua butir, dengan masa pengeraman sekitar 45 hari. Anaknya diasuh selama berbulan-bulan. Sekitar usia enam hingga delapan bulan, anak mulai belajar mandiri. Foto: ChatGPT Image.
Sarangnya dibangun di pohon-pohon besar. Ia bertelur satu hingga dua butir, dengan masa pengeraman sekitar 45 hari. Anaknya diasuh selama berbulan-bulan. Sekitar usia enam hingga delapan bulan, anak mulai belajar mandiri. Foto: ChatGPT Image.

Dalam berburu, Elang Flores mengandalkan kesabaran. Ia sering bertengger di pohon tinggi, mengamati mangsa dari kejauhan. Sesekali, ia melayang di udara dengan memanfaatkan arus panas, teknik yang dikenal sebagai thermal soaring. Makanannya beragam, mulai dari mamalia kecil, burung, reptil, hingga ayam kampung.

Kebiasaan memangsa ayam sering memicu konflik dengan manusia. Di beberapa desa, elang ini diburu karena dianggap hama. Padahal, di dalam ekosistem hutan, Elang Flores berperan sebagai predator puncak. Ia menjaga keseimbangan populasi satwa kecil dan menjadi penanda sehatnya rantai makanan.

Suara Elang Flores melengking, nyaring, dan khas. Vokalisasinya berbeda dari elang brontok, dan menjadi salah satu dasar penguat pengakuannya sebagai spesies tersendiri. Sarangnya dibangun di pohon-pohon besar. Ia bertelur satu hingga dua butir, dengan masa pengeraman sekitar 45 hari.

Anaknya diasuh selama berbulan-bulan. Sekitar usia enam hingga delapan bulan, anak mulai belajar mandiri. Elang Flores diperkirakan baru siap bereproduksi pada usia empat hingga lima tahun. Umur hidupnya di alam liar belum diketahui secara pasti, tetapi raptor sejenis dapat hidup hingga dua dekade. Keterbatasan data membuat banyak aspek biologinya masih menjadi misteri.

Populasi Elang Flores tergolong sangat kecil. Penelitian Raharjaningtrah dan Rahman pada 2004 memperkirakan hanya ada sekitar 73 hingga 75 pasangan, atau sekitar 150 individu dewasa di alam. Kondisi ini membuatnya sangat rentan terhadap perubahan sekecil apa pun di habitatnya.

IUCN pada 2023 menetapkan Elang Flores berstatus Critically Endangered, kategori ancaman tertinggi sebelum punah di alam liar. Ia menjadi satu-satunya spesies elang Indonesia yang berada pada tingkat ancaman tersebut. Di tingkat nasional, Elang Flores dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 serta diperkuat melalui Permen LHK Nomor P.106 Tahun 2018.

Ancaman terhadap kelangsungannya bersifat kompleks dan saling terkait. Deforestasi, fragmentasi habitat, konflik manusia-satwa, perburuan, dan alih fungsi lahan terus menekan populasinya. Namun, di tengah situasi genting itu, secercah harapan tetap ada.

Program edukasi, pengembangan ekowisata raptor, serta konservasi berbasis masyarakat mulai tumbuh di Nusa Tenggara Timur. Workshop konservasi yang digelar pada 2019 menjadi salah satu langkah awal penting untuk membangun kesadaran kolektif.

Elang Flores bukan sekadar burung langka. Ia adalah simbol keutuhan hutan timur Indonesia. Ia juga menjadi cermin rapuhnya hubungan manusia dengan alam. Selama Elang Flores masih bertahan, harapan untuk menjaga hutan dan kehidupan di dalamnya tetap menyala.

Referensi

Gamauf, A., Gjershaug, J.O., Røv, N., Haring, E. 2005. Species-level phylogeny of hawk-eagles. Journal of Zoological Systematics: Wien.

https://doi.org/10.1111/j.1439-0469.2005.00304.x

Gjershaug, J.O., Røv, N., Nilsen, E.B. 2004. Taxonomic status of the Flores Hawk-Eagle. Ibis. Wiley: London.

https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1474-919X.2004.00354.x

IUCN. 2023. The IUCN Red List of Threatened Species: Nisaetus floris. IUCN: Gland.

https://www.iucnredlist.org

Raharjaningtrah, W., Rahman, Z. 2004. Population estimate of Flores Hawk-Eagle. BirdLife International Report: Cambridge.

https://www.birdlife.org

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url