Menteri Keuangan Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa menghadiri konferensi pers bulanan mengenai anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (5/6/2026). Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyebut harga BBM nonsubsidi Pertamax bisa ikut turun seiring dengan melandainya harga minyak mentah dunia.
Purbaya menjelaskan, harga Pertamax yang naik menjadi Rp 16.250 per liter disebabkan melonjaknya harga minyak mentah global. Kendati begitu, harga BBM subsidi dipertahankan dan tidak mengalami kenaikan.
“Salah satu tekanan yang kita alami adalah ketika harga minyak dunia naik, kita terpaksa menaikkan sebagian harga BBM yang tidak disubsidi walaupun yang subsidi kita pertahankan, tapi tekanannya sudah menimbulkan kegaduhan di masyarakat,” jelasnya saat Raker Komite IV DPD RI, Senin (22/6).
Purbaya menilai, momentum pertumbuhan ekonomi diharapkan dapat membaik ke depan usai kesepakatan damai antara AS dan Iran, meskipun masih ada ketidakpastian, yang menyebabkan tekanan kepada harga minyak mentah melandai.
“Tapi saya yakin dengan potensi menurunnya harga minyak dunia, harga Pertamax dan lain-lain pun akan turun, sehingga pondasi pertumbuhan ekonomi kita akan semakin kuat,” tegasnya.
Di sisi lain, Purbaya mengakui pasar keuangan Indonesia menghadapi tekanan dalam beberapa bulan terakhir. Namun, dia melihat bahwa nilai tukar Rupiah mulai menguat, IHSG mulai rebound, imbal hasil obligasi menurun, dan arus modal asing mencatatkan inflow.
“Hal ini mengindikasikan market confidence meningkat dengan peluang perdamaian AS dan Iran yang terbuka, diharapkan akan semakin meningkatkan stabilitas nilai tukar, cost of fund semakin kompetitif, investasi semakin menguat dan pada akhirnya momentum pertumbuhan dapat terus diperkuat,” tutur Purbaya.
Purbaya menegaskan bahwa ketidakpastian ekonomi global merupakan ujian berat. Hanya saja, dengan beberapa data terkini, dia mengeklaim bahwa pemerintah sudah melewati masa ujian tersebut dan tinggal memperbaiki pondasi ekonomi yang sudah ada.
"Jadi keadaan memang bukan ideal, tapi yang jelas kita terpaksa mengambil tindakan untuk memitigasi dampak global supaya ekonomi kita masih bisa bertahan dan alhamdulillah sampai dengan sekarang masih bisa tumbuh baik,” jelasnya.
“Saya harap ke depan dengan adanya tadi prospek membaiknya kondisi di perang Iran-Israel dan harga minyak yang mulai rendah, harusnya kita akan lebih baik di paruh kedua tahun ini. Mudah-mudahan hal ini terjadi terus,” imbuh Purbaya.
Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga menaikkan harga Pertamax dan Pertamax Green mulai 10 Juni 2026. Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.
Purbaya menilai kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap inflasi karena penggunaannya lebih banyak untuk kendaraan pribadi.
“Dampaknya harusnya relatif minim karena kan Pertamax enggak dipakai angkutan barang,” kata Purbaya di Kompleks Parlemen RI, Rabu (10/6).