Role Model: The Beauty Power of Tasya Farasya - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Role Model: The Beauty Power of Tasya Farasya
May 10th 2026, 18:00 by kumparanWOMAN

Tasya Farasya untuk Role Model berpose untuk program Role Model kumparan. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Tasya Farasya untuk Role Model berpose untuk program Role Model kumparan. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Siang yang cukup terik di Jakarta hari itu perlahan terasa mereda begitu kami memasuki sebuah rumah megah bergaya klasik Eropa modern. Interiornya didominasi lantai marmer mengilap, detail ornamen elegan, hingga chandelier ikonis beraksen kupu-kupu yang langsung mencuri perhatian sejak langkah pertama. Suasananya hangat, mewah, tapi tetap terasa hidup, seperti merepresentasikan karakter sang pemilik rumah.

Tak lama kemudian, Tasya Farasya muncul menyambut kami dengan senyum ramah. CEO MOP Beauty itu langsung memecah suasana dengan pembawaan yang santai dan hangat. Di balik sosoknya yang dikenal sebagai beauty reviewer kritis dengan standar tinggi, Tasya ternyata menyimpan cerita panjang tentang caranya membangun bisnis, menghadapi tekanan, hingga belajar memercayai diri sendiri.

Dalam perbincangan bersama kumparanWOMAN, Tasya berbagi tentang perjalanan membesarkan MOP Beauty, dinamika menjadi perempuan dengan banyak peran, sampai alasan mengapa ia ingin MOP dikenal sebagai brand yang berdiri kuat lewat kualitas produknya, bukan semata karena nama besar Tasya Farasya. Simak cerita Tasya selengkapnya di edisi Role Model kali ini.

Tasya Farasya untuk Role Model berpose untuk program Role Model kumparan. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Tasya Farasya untuk Role Model berpose untuk program Role Model kumparan. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Question (Q): Tasya dikenal sebagai beauty reviewer dengan standar yang tinggi dan kritis. Bahkan peran Tasya sudah bergeser dari sekadar mereview produk menjadi ikut membentuk standar kualitas makeup di Indonesia, contohnya melalui “Tasya Farasya Approved”. Apa tanggapan kamu soal ini?

Tasya Farasya (T): Aku enggak nganggep diriku setinggi itu. Sebenarnya “Tasya Farasya Approved” juga dibuat untuk aku dan audiens yang sudah lama follow aku, supaya mereka lebih gampang tahu, “Oh, produk ini Tasya Farasya Approved,” jadi memudahkan mereka saat belanja. Sesimpel itu sebenarnya.

Tapi ternyata impact-nya lumayan besar. Jadi ini juga jadi tanggung jawab buat aku. Aku enggak bisa sembarangan nge-review atau sembarangan ngomong. Semua produk yang aku review harus benar-benar dites dan di-trial dulu, karena ternyata dampaknya lebih besar dari yang aku bayangkan.

Q: Apa alasan utama Tasya akhirnya merasa perlu untuk punya brand kosmetik sendiri?

T: Aku memang suka kosmetik dari kecil. Jalannya dimulai dari aku jadi content creator, dan kayaknya semua content creator pasti punya mimpi punya brand sendiri. Karena kita nyobain ribuan produk, pasti ada rasa ingin bikin produk tertentu yang sesuai dengan apa yang kita aspirasikan.

Awalnya karena itu, lalu akhirnya terbentuklah Mother of Pearl. Produknya sesuai dengan aspirasi aku, jiwa seni aku, dan apa yang aku suka. Jadi bukan mengikuti tren, tapi mengikuti aspirasi aku.

Q: Value apa yang ingin Tasya sampaikan melalui MOP Beauty? Bagaimana value itu diterjemahkan ke setiap lini produk MOP Beauty?

T: Value yang mau disampaikan sebenarnya aspirasi seni aku. Aku memang suka banget sama makeup, dan aku pengen orang-orang yang follow aku dari dulu bisa merasakan sebenarnya apa yang aku suka.

Tapi itu di awal-awal saat MOP masih kecil. Semakin besar MOP, kami sudah enggak bisa pakai cara seperti itu lagi. Jadi sekarang caranya adalah mendengarkan apa yang audiens inginkan, lalu digabungkan dengan apa yang aku suka. Dari situ akhirnya terbentuk produk-produk MOP.

Q: Apa blueprint jangka panjang Tasya untuk MOP Beauty agar tetap relevan dalam 10 tahun ke depan?

T: Blueprint-nya adalah we don’t follow the trend, we create the trend. Selain itu, kami juga mendengarkan audiens, melihat apa yang sebenarnya dibutuhkan di pasaran. Tapi tetap di balik lagi, apakah itu sesuai dengan jiwa seni aku atau enggak.

Jadi blueprint-nya adalah kombinasi dari dua hal itu. Makanya biasanya kami enggak mengikuti pasar sepenuhnya. Misalnya brand lain sedang launching produk A, MOP bisa tiba-tiba mengeluarkan produk B. Karena ada aspirasi dari aku sendiri juga di dalamnya.

Tasya Farasya untuk Role Model berpose untuk program Role Model kumparan. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Tasya Farasya untuk Role Model berpose untuk program Role Model kumparan. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Q: Sebagai founder yang juga sangat memahami formulasi, bagaimana proses Tasya dalam mengawasi R&D? Sejauh mana Tasya terlibat langsung dalam pemilihan bahan, tekstur, hingga performa produk?

T: Sejauh itu, semuanya aku terlibat. Di MOP, aku paling terlibat di bagian R&D karena menurut aku R&D adalah DNA dari produk dan brand itu sendiri. Jadi bagian yang paling enggak bisa aku lepas adalah R&D.

Aku juga sangat bekerja sama dengan tim product development untuk membuat produk-produk MOP yang berkualitas, sesuai dengan level taste aku dan juga apa yang masyarakat sukai. Dari awal kami sudah sampling, lalu aku coba sendiri, test drive lagi, dan kritik lagi. Brand lain saja aku perlakukan seperti itu, apalagi brand sendiri.

Karena masyarakat punya ekspektasi besar terhadap produk MOP. Ada anggapan bahwa produknya pasti harus bagus karena yang punya Tasya Farasya. Itu jadi pressure besar buat aku, tapi di sisi lain juga membuat MOP berkembang karena kami mendengarkan kritik dan saran dari pembeli.

Aku juga terlibat langsung sampai ke detail-detailnya. Kadang aku sendiri yang mengaduk warna produknya, termasuk corrector. Aku ambil sendiri warnanya dan mengaduk sampai jadi warna tertentu yang memang ingin aku develop. Sejauh itu keterlibatanku di R&D.

Q: Apa kesalahan terbesar yang pernah Tasya lakukan dalam membangun brand, dan apa pelajaran terpentingnya?

T: Dulu di awal aku sangat idealis. Aku enggak mau menurunkan ego dan ingin produk MOP benar-benar terasa wah. Semuanya harus wah, sampai akhirnya aku membuat packaging yang waktu itu belum pernah dimiliki brand lain.

Masalahnya, saat itu aku belum punya tim. Jadi enggak ada proses uji coba, tes suhu, dan prosedur-prosedur yang seharusnya dilakukan. Ternyata packaging itu malah jadi petaka buat MOP.

Akhirnya tahun lalu kami benar-benar melakukan rebranding dan repackaging secara menyeluruh, dengan proses yang baik dan benar sesuai prosedur yang seharusnya dilakukan.

Q: Tasya pernah berada di posisi sebagai reviewer yang mengkritik brand. Kini berada di sisi sebaliknya sebagai brand owner. Apa perspektif paling mengejutkan yang Tasya pelajari setelah berada di balik layar industri?

T: Yang paling mengejutkan adalah dulu, sebelum ada MOP, aku mereview produk berdasarkan pengalaman pribadi. Misalnya produk ini terlalu matte di aku, terlalu glowy di aku, atau warnanya cocok banget di skin tone aku. Semua terasa sangat personal.

Tapi setelah punya MOP, ternyata pendapat orang bisa sangat berbeda-beda. Ada influencer yang bilang produknya matte, ada yang bilang glowy, ada yang bilang satin. Bahkan kadang berbeda dengan apa yang aku rasakan sendiri terhadap produk yang aku ciptakan.

Dari situ aku sadar kalau opini orang memang berbeda-beda. Jadi menurut aku enggak ada influencer yang benar atau salah, semuanya adalah pendapat pribadi. Dan semua masukan itu bagus untuk pengembangan MOP ke depannya.

Q: Bagaimana Tasya membangun kredibilitas MOP Beauty agar tidak semata dipersepsikan sebagai “brand milik influencer”, melainkan brand yang melahirkan produk berkualitas?

T: Aku benar-benar terlibat langsung dengan manufaktur. Revisi terus dilakukan berkali-kali. Bahkan kalau ingredients tertentu enggak ada di Indonesia, kami bawa ke Korea untuk dicoba lagi dengan material dari sana, lalu dibawa kembali ke Indonesia.

Semua itu awalnya aku jalani sendiri. Belum ada tim research and development, product development, atau PDI. Jadi semuanya bergantung di tangan aku. Kalau ada kesalahan saat launching, berarti itu salah aku juga karena aku sendiri yang mengerjakan R&D-nya.

Waktu itu semuanya benar-benar one man show. Dari packaging, konsep kreatif, photoshoot, makeup, sampai desain baju, semua aku jalani sendiri. Apalagi kami launching di saat brand makeup sudah mulai oversaturated, jadi aku merasa enggak bisa setengah-setengah. Semua harus dikeluarkan yang terbaik.

Akhirnya aku merekrut empat orang pertama, dan sekarang mereka sudah menjadi head di MOP. Timnya juga berkembang jadi sekitar 50–60 orang. Dan sampai sekarang pressure-nya justru semakin besar karena produk yang kami develop dan launching juga semakin banyak.

Tasya Farasya untuk Role Model berpose untuk program Role Model kumparan. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Tasya Farasya untuk Role Model berpose untuk program Role Model kumparan. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Q: Sebagai CEO, bagaimana Tasya mendeskripsikan gaya kepemimpinan dalam membangun dan memimpin tim?

T: Kalau dengan tim, aku menganggap mereka seperti keluarga. Aku suka hubungan kerja yang terasa akrab, jadi kalau ada keluhan, kesenangan, atau urusan semi personal, kami bisa ngobrol dengan santai.

Tapi di sisi lain tetap harus ada batasan yang firm. Posisi aku tetap sebagai CEO dan tim juga harus mendengarkan arahan aku. Jadi aku berusaha menjaga keseimbangan antara kedekatan dan profesionalitas.

Menurut aku, membangun tim itu enggak cukup hanya melihat orangnya pintar atau berpengalaman. Harus ada chemistry juga. Makanya dari awal sampai sekarang, head tim MOP enggak berganti karena kami sudah menyatu dan chemistrynya sudah terbentuk kuat. Itu yang bikin tim jadi lebih solid.

Q: Kamu perfeksionis?

T: Aku sudah melewati fase perfeksionis. Sekarang aku lebih fokus untuk berusaha memberikan yang terbaik, karena menurut aku perfect itu enggak ada. Definisi sempurna juga berbeda-beda di mata setiap orang. Jadi sekarang aku sudah enggak berada di fase perfeksionis lagi.

Q: Sebagai pemimpin perempuan, tantangan terbesar apa yang Tasya hadapi, dan bagaimana cara Tasya mengatasinya?

T: Menurut aku tantangannya bukan karena sebagai perempuan, tapi sebagai pemimpin secara umum. Gender menurut aku enggak terlalu berpengaruh dalam kepemimpinan.

Sebagai pemimpin, tantangannya adalah bagaimana menjaga batasan dan ketegasan, tapi di sisi lain tetap menunjukkan kelembutan dan kasih sayang kepada tim. Karena bagaimanapun juga kalau enggak ada tim, enggak ada MOP, enggak ada TFJA, dan enggak ada TFARA. Semua berjalan bersama-sama, jadi solidaritas itu harus dijaga.

Makanya sebagai pemimpin harus bisa balancing antara keakraban dan ketegasan.

Q: Tasya pernah bosan enggak dengan dunia beauty?

T: Sering banget. Aku pernah burnout, kreatif block, dan merasa jenuh. Kadang juga muncul perasaan seperti, “Ini another launch product yang sama lagi.” Sebagai reviewer, aku yakin hampir semua beauty reviewer dan beauty influencer pernah mengalami fase itu.

Tapi menurut aku masa-masa seperti itu justru menentukan kita mau dibawa ke arah mana. Kalau diikuti terus, kita bisa down dan enggak berkembang. Tapi kalau berhasil breakthrough dan memaksa diri keluar dari zona nyaman, kita bisa berkembang lagi.

Tasya Farasya untuk Role Model berpose untuk program Role Model kumparan. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Tasya Farasya untuk Role Model berpose untuk program Role Model kumparan. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Q: Jadi harus dipaksa terus?

T: Iya, dipaksa. Bisa karena biasa, biasa karena dipaksa. Menurut aku memang harus dipaksa.

Q: Seiring pertumbuhan MOP Beauty, bagaimana Tasya menjaga keseimbangan antara idealisme kreatif dan realitas bisnis?

T: Cara menyeimbangkannya ya dengan dijalani saja. Kami harus melihat pattern-nya setiap hari, hari ini seperti apa dan besok bagaimana. Jadi enggak bisa selalu 50-50. Kadang porsinya 80%, kadang 20% antara aku dan tim. Jadi keseimbangannya memang dibangun dengan menyesuaikan situasi seperti itu.

Q: Apa momen terendah dalam hidup Tasya dan bagaimana kamu bisa bangkit kembali?

T: Momen terendah dalam hidup aku adalah ketika kehilangan kepercayaan dari orang yang paling aku percaya. Kerugiannya juga cukup besar.

Cara mengatasinya ya dengan diterobos saja. Bangkit lagi, memaksa diri lagi untuk melewati semuanya. Tetap menjalani hidup, tetap kuat, dan tetap percaya diri. Sekarang alhamdulillah semuanya sudah berlalu dan justru jadi lebih baik.

Tim juga sangat berpengaruh buat aku karena dari awal aku memang membangun hubungan seperti keluarga. Jadi tim tahu apa yang aku butuhkan. Misalnya saat aku butuh break, me time, atau saat harus stop dan move on dari sesuatu, itu semua dikomunikasikan dengan tim.

Karena tim aku memang terasa seperti keluarga inti. Kadang kami sedih bersama, lalu bangkit bersama juga. Jadi menurut aku chemistry dan sistem kekeluargaan itu sangat penting dalam berbisnis.

Q: Apa mimpi Tasya untuk MOP dalam satu dekade ke depan?

T: Sejujurnya aku termasuk orang yang jarang bermimpi terlalu jauh. Aku lebih fokus melihat apa yang terjadi hari ini dan menjalani hari ini dulu, baru melihat besok. Karena apa yang aku jalani sekarang sebenarnya sudah melampaui mimpi aku. Bisa jadi content creator dan beauty influencer saja sudah di luar bayangan aku dulu.

Tapi untuk perusahaan tentu kami punya rencana. Kami ingin go international dan dikenal lebih banyak orang lagi. Aku ingin orang mengenal MOP sebagai Mother of Pearl, bukan hanya karena itu brand milik Tasya Farasya.

Aku juga ingin orang melihat bahwa produknya memang bagus dan bisa “berbicara sendiri”, bukan hanya karena dibuat oleh Tasya Farasya sehingga dianggap pasti bagus. Itu yang jadi impian aku ke depannya.

Tasya Farasya untuk Role Model berpose untuk program Role Model kumparan. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Tasya Farasya untuk Role Model berpose untuk program Role Model kumparan. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Q: Kenapa Tasya ingin MOP dikenal sebagai brand, bukan sekadar brand milik Tasya Farasya?

T: Karena menurut aku akan lebih membanggakan kalau produknya bagus dan orang membeli bukan karena Tasya Farasya, tapi karena memang mereka butuh dan menyukai produknya.

Aku melihat brand seperti Estée Lauder atau Chanel. Orang memakai produknya tanpa harus selalu tahu sosok di baliknya. Itu juga jadi mimpi aku untuk MOP. Makanya aku enggak memberi nama brand ini “Tasya Farasya Beauty”. Aku enggak mau hanya menjual nama aku saja.

Aku ingin MOP bisa berdiri sendiri, menjadi brand yang dipercaya banyak orang, dan menjadi semacam comfort brand. Jadi saat orang bingung memilih produk, mereka merasa, “Sudah beli MOP saja karena memang bagus.”

Q: Banyak perempuan menjadikan Tasya sebagai role model. Nilai apa yang paling ingin Tasya tularkan untuk sesama perempuan?

T: Menurut aku, yang paling penting adalah percaya pada diri sendiri. Buat aku, percaya diri bukan hal yang sederhana. Maknanya sangat dalam, yaitu bagaimana kita benar-benar percaya kepada diri sendiri.

Aku pernah melewati fase tidak percaya diri sama sekali. Di masa itu aku merasa enggak berkembang, enggak punya prestasi, dan enggak tahu arah hidup mau dibawa ke mana. Sampai akhirnya aku belajar menerima kelebihan dan kekurangan diri sendiri, lalu mencintai keduanya. Dari situ aku mulai percaya kalau aku bisa.

Jadi percaya diri menurut aku bukan sekadar terlihat pede, tapi benar-benar memahami kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Kekurangan itu juga bisa dijadikan sesuatu yang membuat kita berkembang.

Pesan aku untuk perempuan adalah belajar percaya dan menyayangi diri sendiri dulu, baru melangkah maju dalam karier. Karena itu sangat memengaruhi proses ke depannya.

Q: Apa momen yang membuat Tasya sempat kehilangan rasa percaya diri?

T: Sempat karena fisik. Dulu aku pernah gemuk dan merasa seperti kehilangan arah. Aku juga pernah berada di fase tidak tahu hidup ini mau dibawa ke mana dan merasa enggak punya tujuan.

Sampai akhirnya aku kembali ke diri sendiri dan mulai berpikir, “Oke, aku Tasya Farasya. Ini kelebihan aku, ini kekurangan aku.” Kalau kekurangannya masih bisa diperbaiki, ya diperbaiki. Kalau memang di luar kontrol aku, berarti harus diterima.

Lalu aku fokus mengasah kelebihan yang aku punya sampai akhirnya bisa menghasilkan sesuatu yang membanggakan. Setelah melewati fase itu, semuanya seperti berubah dan berjalan di luar ekspektasi aku.

Tasya Farasya untuk Role Model berpose untuk program Role Model kumparan. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Tasya Farasya untuk Role Model berpose untuk program Role Model kumparan. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Q: Siapa role model Tasya selama ini?

T: Role model aku itu mama. Selalu mama. Karena itu contoh yang benar-benar ada di depan mata.

Mama adalah sosok perempuan yang kuat, independen, percaya diri, enggak mengikuti tren, tapi menciptakan tren. Beliau juga sukses, bisa berdiri di kaki sendiri, menerima kekurangan yang dimiliki, dan bangga dengan kelebihannya. Jadi role model nomor satu aku selalu mama.

Kalau untuk di industri, semakin aku menjalani bisnis dan berbagai peran sebagai influencer, CEO beauty brand, sampai lini bisnis lain, aku justru merasa enggak perlu terlalu melihat keluar. Karena di rumah sendiri sudah ada contoh yang nyata. Jadi tetap mama role model aku nomor satu.

Q: Menurut kami di kumparanWOMAN, Tasya adalah role model. Bagaimana perasaan kamu?

T: Waduh, itu berat. Rasanya tentu tersanjung kalau apa yang aku lakukan setiap hari, mulai dari duduk di sini, mereview produk, sampai berusaha memberikan yang terbaik, bisa membuat orang melihat aku sebagai role model.

Itu sangat mengharukan dan membuat aku tersanjung. Karena aku sendiri kadang masih enggak menyangka bisa berada di titik ini dan disebut sebagai role model. Jadi aku sangat bersyukur dan berterima kasih.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url