Ilustrasi cerita Datu Surung. Foto: Generated by AI
Datu Surung dan Asal Usul Kereng Bangkirai di Palangka Raya
Datu Surung merupakan sosok yang cukup dikenal dalam cerita rakyat masyarakat Kereng Bangkirai, Kota Palangka Raya. Nama Datu Surung hingga sekarang masih sering disebut oleh sebagian masyarakat lokal sebagai tokoh yang berkaitan dengan awal kehidupan di kawasan tersebut.
Di tengah perkembangan Palangka Raya yang semakin modern, kisah-kisah lama seperti ini perlahan mulai jarang terdengar. Padahal, cerita rakyat bukan hanya soal legenda atau hal mistis semata, melainkan juga bagian dari ingatan budaya masyarakat tentang bagaimana suatu tempat dahulu dikenal dan dihuni.
Bagi masyarakat Kalimantan pada masa lalu, hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Sungai bukan hanya jalur perjalanan. Alam dipercaya memiliki kehidupan dan keseimbangan yang harus dihormati manusia. Cara pandang seperti itulah yang terasa kuat dalam kisah Datu Surung.
Datu Surung dan Perjalanan Menembus Hutan Kalimantan
Ilustrasi hutan di Kalimantan Barat. Foto: Martinus Sallo/Shutterstock
Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, Datu Surung dikenal sebagai pengembara yang menjelajahi hutan-hutan Kalimantan. Ia disebut hidup sangat lama dan memiliki kemampuan yang tidak dimiliki orang biasa.
Namun di balik cerita tentang kesaktiannya, masyarakat lebih mengenang Datu Surung sebagai sosok yang dekat dengan alam. Ia berjalan menyusuri sungai, melewati rawa, dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain demi mencari wilayah yang dianggap cocok untuk membangun kehidupan.
Dalam perjalanannya, Datu Surung selalu ditemani seekor anjing pemburu. Hewan itu bukan hanya teman perjalanan, melainkan juga penunjuk arah saat melewati kawasan hutan yang masih asing.
Pada masa itu, sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah masih berupa hutan lebat. Perjalanan antartempat tidak mudah dilakukan. Sungai menjadi jalur utama masyarakat untuk berpindah dan mencari penghidupan.
Karena itulah, kemampuan membaca alam menjadi hal penting bagi masyarakat zaman dahulu. Mereka percaya bahwa manusia harus memahami tanda-tanda alam agar dapat hidup selaras dengan lingkungan sekitarnya.
Pertemuan Datu Surung dengan Sosok Maduhara
Salah satu bagian paling dikenal dalam legenda ini adalah ketika Datu Surung tiba di kawasan yang disebut Juking Pulau Gita.
Konon, saat sedang berburu di kawasan tersebut, ia bertemu dengan sosok misterius bernama Maduhara. Dalam cerita masyarakat, Maduhara dipercaya sebagai makhluk gaib penjaga wilayah itu.
Menariknya, pertemuan tersebut tidak digambarkan sebagai pertarungan. Tidak ada kisah peperangan besar atau adu kesaktian seperti dalam banyak legenda lainnya.
Suasana pertemuan itu justru digambarkan sunyi dan penuh kehati-hatian. Datu Surung diyakini memahami bahwa tempat tersebut bukan wilayah biasa. Ada kekuatan yang harus dihormati sebelum manusia tinggal di sana.
Setelah peristiwa itu, Datu Surung memutuskan menetap dan mulai membuka kawasan tersebut bersama keluarganya. Lambat laun, wilayah itu berkembang menjadi permukiman yang kemudian dikenal masyarakat sebagai Kereng Bangkirai.
Cerita ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Kalimantan pada masa lalu memandang hubungan manusia dengan alam dan dunia spiritual sebagai sesuatu yang tidak dapat dipisahkan.
Kehidupan yang Tidak Selalu Mudah
Ilustrasi pernikahan. Foto: thinkstock
Meski sering digambarkan sakti, kehidupan Datu Surung dalam cerita rakyat tidak selalu berjalan tenang.
Istri pertamanya yang bernama Kutung disebut beberapa kali mengalami keguguran misterius. Peristiwa itu menjadi kesedihan besar bagi keluarganya.
Masyarakat sekitar percaya gangguan tersebut berkaitan dengan hantuen atau kuyang, makhluk gaib yang cukup dikenal dalam cerita rakyat Kalimantan.
Cerita mengenai kuyang sendiri masih sering ditemukan di berbagai daerah di Kalimantan hingga sekarang. Sosok ini biasanya dikaitkan dengan gangguan terhadap perempuan hamil dan kehidupan malam masyarakat kampung pada masa lalu.
Walaupun dikenal memiliki kemampuan spiritual, Datu Surung tetap digambarkan sebagai manusia biasa yang merasakan kehilangan dan kesedihan.
Di bagian inilah kisah Datu Surung terasa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Tokoh legenda tersebut tidak hanya digambarkan kuat, tetapi juga mengalami ujian hidup sebagaimana manusia pada umumnya.
Sosok yang Dihormati Masyarakat
Seiring waktu, kawasan yang dibuka Datu Surung mulai didatangi banyak orang. Permukiman kecil perlahan berkembang menjadi tempat tinggal masyarakat.
Dalam cerita yang berkembang, Datu Surung kemudian dikenal sebagai sosok yang dihormati dan dianggap melindungi warga sekitar.
Di masyarakat Kalimantan tradisional, tokoh adat memang memiliki peran penting. Mereka bukan hanya menjadi pemimpin, melainkan juga penjaga keseimbangan hubungan manusia dengan lingkungan dan adat setempat.
Karena itulah, nama Datu Surung tetap bertahan hingga sekarang. Di kawasan Kereng Bangkirai, namanya bahkan diabadikan menjadi nama jalan sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh yang dipercaya memiliki peran dalam sejarah awal wilayah tersebut.
Mengapa Kisah Datu Surung Masih Bertahan?
Ilustrasi media sosial X. Foto: Michele Ursi/Shutterstock
Di era media sosial dan perkembangan teknologi saat ini, banyak cerita lokal mulai tenggelam oleh budaya populer dari luar daerah.
Namun menariknya, legenda seperti Datu Surung masih tetap hidup dalam ingatan sebagian masyarakat Kalimantan Tengah.
Salah satu alasannya mungkin karena cerita rakyat tidak hanya berbicara soal masa lalu. Di dalamnya terdapat nilai tentang hubungan manusia dengan alam, penghormatan terhadap tempat tinggal, dan pentingnya menjaga warisan budaya lokal.
Selain itu, cerita seperti ini juga menjadi pengingat bahwa sejarah suatu daerah tidak selalu tercatat dalam buku resmi. Kadang sejarah hidup melalui cerita yang diwariskan dari orang tua kepada anak-anak mereka.
Beberapa warga tua di Kereng Bangkirai bahkan masih mengenang nama Datu Surung dalam percakapan sehari-hari sebagai bagian dari cerita lama yang pernah mereka dengar sejak kecil.
Penutup
Legenda Datu Surung bukan sekadar kisah tentang kesaktian atau dunia gaib. Cerita ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Kalimantan dahulu memandang alam sebagai bagian penting dalam kehidupan mereka.
Di balik unsur mistis yang menyelimuti legenda tersebut, terdapat gambaran mengenai perjuangan manusia membuka kehidupan baru, menjaga keluarga, dan membangun komunitas di tengah kerasnya alam Kalimantan.
Karena itulah, kisah Datu Surung masih terus dikenang hingga sekarang sebagai bagian dari cerita rakyat masyarakat Kereng Bangkirai di Palangka Raya.