Perempuan Cirebon Jadi Korban TPPO, KDM Video Call dan Janji Akan Pulangkan - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Perempuan Cirebon Jadi Korban TPPO, KDM Video Call dan Janji Akan Pulangkan
Mar 1st 2026, 15:46 by kumparanNEWS

Tangkapan layar saat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menghubungi Vina melalui Videocall WhatsApp pada Sabtu (28/2/2026). Foto: Dok.Istimewa
Tangkapan layar saat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menghubungi Vina melalui Videocall WhatsApp pada Sabtu (28/2/2026). Foto: Dok.Istimewa

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM telah menghubungi langsung Vina, perempuan asal Cirebon yang menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan modus penikahan di China. KDM melakukan video call dengan Vina lewat WhatsApp pada Sabtu (28/2).

Dalam panggilan selama 25 menit itu Vina menceritakan secara detail kronologi keberangkatannya hingga terjebak dalam situasi terancam di negeri orang. Ia diminta menyampaikan informasi secara jujur.

Menurut Vina, KDM sempat memberikan teguran. "Dia (KDM) sempat marahin Vina, katanya kenapa mau ya. Tapi Vina terima, karena memang ada kesalahan Vina juga," ujar Vina, Sabtu (28/2).

Kepada Gubernur, Vina menegaskan keinginannya hanya satu, yakni pulang ke Indonesia. Ia mengaku tertahan di China karena seluruh berkas identitasnya dikuasai oleh pihak yang ternyata adalah agen sindikat.

‎Dalam pembicaraannya dengan KDM, Vina mengaku diminta untuk membagikan lokasinya dan mengirimkan kontak-kontak pihak yang terlibat.

‎‎"Katanya tenang aja, kamu bakal dijemput orang KBRI. Semangat, kamu masih punya pemimpin di Jawa Barat," ucap Vina menirukan pesan KDM.

Respons KDM

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi saat menyapa ribuan warga pada acara Safari Ramadan bertajuk 'Tarling Neuleuman Poekna Peuting' di Lapangan Mandala Giri, Desa Kedungjaya, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, pada Sabtu (28/2/2026). Foto: Panji Asmara/kumparan
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi saat menyapa ribuan warga pada acara Safari Ramadan bertajuk 'Tarling Neuleuman Poekna Peuting' di Lapangan Mandala Giri, Desa Kedungjaya, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, pada Sabtu (28/2/2026). Foto: Panji Asmara/kumparan

KDM menegaskan akan menyelamatkan Vina. Ia menyampaikan hal itu dalam acara Safari Ramadan bertajuk 'Tarling Neuleuman Poekna Peuting' di Lapangan Mandala Giri, Desa Kedungjaya, Sabtu (28/2) malam.

‎Dedi menyatakan bahwa pihaknya telah menjalin komunikasi terkait kasus ini dan memastikan langkah evakuasi akan segera dilakukan.

‎‎"Hari ini ada warga Cirebon yang menjadi korban penjualan orang di China. Saya sudah berkomunikasi, insyaallah nanti ditangani dan akan dijemput seperti warga lainnya. Silakan sampaikan data-datanya ke Bupati," ujar KDM di tengah gemuruh selawat.

Perempuan Jawa Barat Rentan

KDM juga menyoroti kerentanan perempuan Jawa Barat yang kerap terjebak janji manis pernikahan dengan mahar tinggi. Padahal ujung-ujungnya berakhir pada eksploitasi.

‎‎"Banyak sekali perempuan Jawa Barat ini yang mudah terbujuk oleh satu, janji uang; dua, janji dinikahi dengan mahar yang mahal," ungkapnya.

‎‎Dengan nada satire, ia membandingkan janji-janji palsu tersebut dengan janji politisi yang sering kali tidak ditepati.

‎‎"Pada akhirnya seluruh janji itu tidak ditepati seperti janjinya politisi. Tepuk tangan! Saya politisi," kelakarnya disambut tawa dan tepuk tangan ribuan warga.

Korban TPPO Modus Pernikahan

Sebelumnya Hengki Maulana, perwakilan keluarga Vina, membeberkan kronologi memilukan yang dialami saudaranya tersebut. Segalanya bermula pada Mei 2024 saat Vina bekerja di kawasan PIK, Jakarta Utara.

Vina awalnya bekerja sebagai karyawan biasa. Di sana, ia mengenal seorang WN China bernama Zhang Haibo yang merupakan rekan dari kerabat bosnya.

Zhang mulai mendekati Vina, memotretnya diam-diam, hingga menawarkan jodoh pria asal China.

"Awalnya Vina tidak menggubris. Tapi karena terus didesak dan merasa tidak enak karena pelaku adalah rekan kerja bosnya, Vina akhirnya mau diajak bertemu di sebuah mal di Jakarta Pusat," ujar Hengki kepada kumparan, Jumat (27/2/2026).

Pertemuan itu menjadi pintu masuk petaka. Vina dibawa ke sebuah rumah di Purwakarta untuk dipertemukan dengan pria bernama Wang Jun.

Para pelaku yang terdiri dari Zhang Haibo, Nisa (WNI), Susi, dan Herman diduga merupakan agen perjodohan yang menyamar sebagai keluarga mempelai pria.

Untuk meyakinkan keluarga Vina di Cirebon, para agen tersebut datang berkali-kali. Mereka menjanjikan kehidupan layak serta uang bulanan untuk keluarga di Indonesia.

Pada 5 Agustus 2025, pihak pria memberikan mahar sebesar Rp 100 juta. Mereka juga meyakinkan perangkat desa setempat bahwa Wang Jun telah mualaf dengan menunjukkan surat pernyataan tertulis.

"Mereka berjanji akan menikahkan Vina secara syariat Islam di Jakarta. Tapi nyatanya, Vina langsung dibawa terbang ke China pada 7 Agustus 2025," lanjutnya.

Setibanya di China, mimpi buruk Vina dimulai. Ia baru menyadari bahwa Wang Jun memiliki kondisi berkebutuhan khusus (autis).

Saat Vina meminta pulang dan bersedia mengembalikan mahar Rp 100 juta, ayah mertuanya justru meminta ganti rugi sebesar Rp 500 juta.

Vina dikurung, paspornya disita, dan ia dipaksa melayani kebutuhan seksual Wang Jun. Jika menolak, ia mengalami kekerasan fisik.

"Saya pernah berontak dan kabur ke kantor polisi Fuyang. Tapi di sana saya justru dijemput paksa, diseret, dan dipukuli oleh mertua di depan polisi. Pihak polisi di sana malah memalingkan wajah," tulis Vina dalam pesan tertulisnya di Beijing, 8 Desember 2025.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url