Ilustrasi kedekatan orang tua dan anak. Foto: LightField Studios/Shutterstock
Gaya bicara anak-anak Gen Alpha belakangan ini menjadi perbincangan di kalangan orang tua. Salah satu yang cukup sering disorot adalah kebiasaan anak memanggil orang tua dengan sebutan "aku–kamu", yang oleh sebagian orang dinilai terdengar kurang sopan.
Fenomena ini pun memunculkan pro dan kontra. Ada yang menganggapnya wajar seiring perkembangan zaman, tetapi tidak sedikit pula yang khawatir penggunaan bahasa tersebut dapat mengaburkan batas antara anak dan orang tua.
Anak Gen Alpha Ngomong "Aku–Kamu" ke Orang Tua, Wajar atau Tidak Sopan?
Ilustrasi ibu dan anak, ibu berbincang dengan anak. Foto: yamasan0708/Shutterstock
Psikolog Klinis Anak dan Remaja, Vera Itabiliana, M.Psi, Psikolog, menjelaskan kebiasaan ini berkaitan dengan tahap perkembangan anak, terutama dalam membangun identitas diri.
"Anak usia sekolah mulai membangun sense of self. Kata 'aku' atau ke-aku-an itu menandai kemandirian," jelas Vera kepada kumparanMOM beberapa waktu lalu.
Selain faktor perkembangan, lingkungan juga berperan besar dalam membentuk cara anak berkomunikasi. Mulai dari tontonan yang dikonsumsi, teman bermain, hingga pola komunikasi dalam keluarga dapat memengaruhi kebiasaan berbahasa anak.
Meski begitu, penggunaan "Aku–Kamu" tidak serta-merta berarti anak menjadi tidak sopan. Rasa hormat tetap bisa terlihat dari nada bicara, ekspresi, hingga respons anak terhadap orang tua.
"Namun, orang tua tetap perlu memberikan arahan, terutama jika penggunaan bahasa tersebut mulai tidak sesuai konteks. Misalnya saat digunakan dalam situasi formal, terdengar kurang santun, atau ketika batas antara anak dan orang dewasa mulai kabur," ujar Vera.
Karena itu, penting bagi orang tua untuk menyikapi hal ini dengan bijak. Beberapa langkah yang bisa dilakukan, antara lain:
Memvalidasi kebiasaan anak terlebih dahulu
Menjelaskan konteks penggunaan bahasa secara lembut
Memberikan contoh cara berkomunikasi yang diharapkan
"Konsistensi orang tua juga menjadi kunci agar anak memahami bahwa bahasa memiliki aturan sesuai situasi," pesan Vera.
Dengan pendekatan yang tepat, anak dapat belajar bahwa penggunaan bahasa bukan hanya soal kebiasaan, tetapi juga tentang memahami konteks dan menghargai lawan bicara.