Peci Batik Jogokariyan yang khas. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Kampung Jogokariyan, Kota Yogyakarta, tak hanya terkenal dengan masjid dan Kampung Ramadan. Ada pula Peci Batik Jogokariyan yang khas. Kini peci tersebut jadi ikon Kampung Jogokariyan.
Perajin Peci Batik Jogokariyan, Jardiyanto (51 tahun), berkisah perjalanan Peci Batik Jogokariyan yang kini mendunia. Karya ini dimulai pada 2015 silam.
Semua ini bermula dari pelatihan pemanfaat kain perca batik.
"Dulu di awal-awal periode itu ada pelatihan pemanfaatan (kain) perca batik ya, yang itu diadakan oleh LPMK (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan) Mantrijeron. Di situ ada 33 peserta, jadi dari 33 beserta itu saya cowok sendiri, lainnya cewek," kata Jardiyanto ditemui di sela-sela kesibukannya, Senin (2/2).
Pembuatan Peci Batik Jogokariyan. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Pelatihan berlangsung tiga hari yakni membuat produk turunan fashion. Ada yang membuat sarung bantal, bando, dompet, sprei, hingga gelang.
Saat itu Jardiyanto adalah peserta laki-laki sendiri berpikir lebih jauh produk untuk laki-laki. Akhirnya tercetuslah Peci Batik Jogokariyan
"Jadi bentuknya masih songkok, belum seperti ini. Kemudian kita nilaikan di mentornya, akhirnya diapresiasi ini bisa dikembangkan ini. Akhirnya dari situlah mulai kita kembangkan. Akhirnya terciptalah Peci Batik Jogokariyan," ujarnya.
Pembuatan Peci Batik Jogokariyan. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
UMKM peci dikembangkan Jardiyanto. Dia memberikan pelatihan pada masyarakat. Tiga di antaranya lalu ikut bekerja dengan Jardiyanto.
"Pada waktu itu omzet kita Rp 13 jutaan per bulan," katanya.
Pada sekitar 2016, Jardiyanto mencoba peruntungan dengan ikut berjualan di Pasar Sore Ramadan Jogokariyan. Pada waktu pembukaan banyak yang tertarik peci batik karena unik. Saat itu belum ada songkok batik.
"Jadi saya masih ingat betul saya baru bikin 18 peci yang saya display untuk dijual di Pasar Sore. Kemudian kan cuma dikit ya satu kotak itu 18. Akhirnya saya beli jamu sama degan (kelapa muda) untuk melengkapi satu meja biar penuh," bebernya.
Pembuatan Peci Batik Jogokariyan. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Penjualan dilakukan secara online. Perlahan tapi pasti, Peci Batik Jogokariyan dilirik mancanegara.
"Kustomer saya online malah dari Belanda yang datang (ke sini) karena melihat postingan saya di FB. 2016 mereka datang akhirnya kita foto-foto, Semenjak itu kemudian kita aktif untuk upload di medsos. Akhirnya banyak yang datang," katanya.
Perbesar Usaha
Pembuatan Peci Batik Jogokariyan. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Melihat potensi yang kian cerah, Jardiyanto memutuskan mengambil pinjaman untuk memperbesar usahanya. Termasuk mendapat CSR dari sebuah BUMN.
Perlahan, karyawan bertambah jadi enam orang. Permintaan pun semakin banyak termasuk penjualan offline.
Banyak pula teman-temannya yang bergerak di digital marketing membantunya. Tercetuslah target produksi satu hari 50 peci. Lalu naik jadi 100 peci per hari.
"Harganya antara Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu," katanya.
Pekerjakan Warga Sekitar
Peci Batik Jogokariyan yang khas. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Kini sudah ada 48 orang yang terlibat dalam produksi maupun penjualan Peci Batik Jogokariyan. Mereka mayoritas warga Jogokariyan dan tersebar di beberapa lokasi.
"Akhirnya kemarin dapet lah sekitar total bisa 48 orang untuk memenuhi target yang 100 peci," katanya.
"Jadi kadang kita mempekerjakan teman-teman atau tetangga yang masih punya anak kecil. Ambil barang setengah jadi di sini. Bawa pulang ke rumah. Nanti kesini tinggal setor," katanya.
Jika dahulu hanya ada empat motif kini motif peci telah mencapai 84. Selain peci, mereka juga merambah baju setelan peci.
Sebagian Keuntungan untuk Masjid Jogokariyan
Lokasi pembuatan Peci Batik Jogokariyan. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Di saat promosi awal, peci ini jadi souvenir bagi pengunjung Masjid Jogokariyan. UMKM ini juga jadi binaan Masjid Jogokariyan.
"Jadi ketika ada event, ada pejabat mau datang Jogokariyan membeli produk dari kita kemudian dikasihkan. Jadi kenang-kenangannya juga pakai itu (peci). Kita saling kolaborasi," katanya.
Jardiyanto mengatakan 5 persen keuntungan Peci Batik Jogokariyan disumbangkan ke Masjid Jogokariyan.
"Dan kalau ditotal ada 10 persen lebih dari net profitnya kita sisihkan untuk kemaslahatan umat," katanya.
Peci batik ini tak hanya jadi ikon Masjid Jogokariyan tetapi jadi oleh-oleh khas dari Jogokariyan.
"Tagline-nya, kalau belum membeli peci batik kayaknya belum afdol sudah mampir ke Jogokariyan. Karena ini sudah jadi ikon, oleh-oleh khas Masjid Jogokariyan," katanya.
Saat ini tak hanya dari Belanda pembeli juga berdatangan dari negara lain seperti Malaysia, Cina, hingga Australia, dan sejumlah negara Eropa.
"Kemudian yang Malaysia Kita sudah kirim lima kontainer di 2018-2019. Itu satu kontainer itu muat kalau 10 ribu peci," katanya.
Persiapan Jelang Ramadan
Peci Batik Jogokariyan yang khas. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Jelang Ramadan persiapan sudah dilakukan sejak tiga sampai empat bulan lalu. Misalnya menyiapkan motif hingga menjaga stok tetap mencukupi.
"Karena ketika masuk Ramadan nanti itu sudah kesusahan, kesulitan untuk memenuhi pesanan. Biasanya itu bisa 3-4 kali lipat dari hari biasa. Pernah kita mengirim satu hari itu 500 peci. Jadi padahal produksi kita cuma 100 sekian 120 per harinya," katanya.
Omzet per bulan dari usaha ini mencapai Rp 200 juta per bulan. Sementara saat Pandemi COVID-19 omzet justru pernah mencapai Rp 400 juta.
"Di masa pandemi itu malah bagus. Kalau isu krisis global ini malah menurun. Malah bagus yang pandemi dulu," ujarnya.
Pembeli juga bisa mengkustom sendiri peci dengan membawa batik yang motifnya sesuai keinginannya. "Kustom bawa batik sendiri bisa," pungkasnya.