Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan pada konferensi pers APBN KiTa edisi Desember 2025 di Jakarta, Kamis (18/12/2025). Foto: Hafidz Mubarak A/ ANTARA FOTO
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa membeberkan realisasi penerimaan negara per 31 Januari 2026 mencapai Rp 172,7 triliun. Angka ini meningkat sebesar 9,8 persen dari penerimaan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 157,3 triliun.
Nilai tersebut juga setara dengan 5,5 persen dari target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp 3.153,6 triliun.
"Alhamdulilah hingga 31 Jan 2026, realisasi penerimaan negara 172,7 T atau tumbuh 9,8 persen secara tahunan atau year on year (yoy)," kata Purbaya dalam Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi XI DPR RI, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (4/2).
Purbaya menerangkan penerimaan perpajakan menjadi kontributor utama dengan realisasi Rp 138,9 triliun atau 5,2 persen dari target Rp 2.693,7 triliun. Nilai tersebut tumbuh signifikan sebesar 20,5 persen secara yoy.
"Kinerja ditopang penerimaan pajak tumbuh tinggi capai 30,8 persen yoy. Pertumbuhan berasal dari kenaikan penerimaan bruto 7 persen serta penurunan signifikan restitusi hingga 23 persen (yoy). Sehingga seluruh jenis pajak mencatatkan tumbuh positif secara neto," tuturnya.
Petugas melayani wajib pajak di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Jakarta Tanah Abang Dua di Jakarta Pusat, Kamis (11/9/2025). Foto: Fakhri Hermansyah/ANTARA FOTO
Dalam paparan Purbaya dijelaskan, penerimaan perpajakan terdiri dari penerimaan pajak dan Kepabeanan dan Cukai. Penerimaan pajak mencapai Rp 116,2 triliun atau 4,9 persen dari target yang sebesar Rp 2.357,7 triliun, dengan pertumbuhan mencapai 30,8 persen (yoy).
Kemudian penerimaan dari Kepabeanan dan Cukai per 31 Januari 2026 mencapai Rp 22,6 triliun atau 6,7 persen dari target sebesar Rp 336 triliun dengan penurunan atau kontraksi 14 persen secara yoy.
"Penerimaan Bea dan Cukai kontraksi 14 persen, penurunan dipengaruhi lonjakan impor tarif 0 persen sebesar 29 persen dan penurunan harga CPO (Crude Palm Oil) dari USD 1.059 per metrik ton jadi USD 916 per metrik ton atau terkoreksi 13,5 persen," terangnya.
Purbaya juga mengakui kinerja Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga melemah 19,7 persen tercatat sebesar Rp 33,9 triliun atau 7,4 persen dari target Rp 459,2 triliun.
Menurut dia penyebabnya adalah tidak berulangnya penerimaan dividen perbankan sebesar Rp 10 triliun seperti tahun sebelumnya. "Gambaran penerimaan pajak Januari menggambarkan kelihatan pembalikan arah sedang terjadi sehingga pendapatan negara tumbuh dibandingkan tahun lalu," jelasnya.