Pengangguran Gen Z semakin menjadi sorotan menjelang Ramadan 2026. Feeds social media penuh postingan teman yang dapat THR, sementara lo masih refreshemail menunggu panggilan interview.
Realita pengangguran Gen Z memang pahit. Ada yang pamer outfit lebaran, ada yang nge-story belanja hampers mahal, ada yang flexing THR pertama mereka. Meanwhile, lo masih stuck di fase "Update CV" untuk kesekian kalinya dan nge-stalk LinkedIn sampai pegel.
Welcome to the reality of 7,35 juta orang Indonesia yang masih menganggur per November 2025 menurut data BPS. Plot twist? Pengangguran Gen Z dan milenial, yang katanya generasi paling educated dan tech-savvy, ternyata paling banyak mengalami quarter-life crisis ini.
Lulusan SMK paling tinggi angka penganggurannya (8,45 persen), disusul SMA (6,55 persen), dan sarjana (5,38 persen). Yup, ijazah yang dulu dijanjikan bakal jadi tiket masuk dunia kerja, sekarang cuma jadi pajangan di lemari.
Pengangguran Gen Z di Indonesia: FOMO vs Realita
Yang bikin makin galau? Culture Gen Z yang serba terlihat sukses di social media. Scroll bentar aja, ketemu teman sekampus sudah jadi "Marketing Executive" dengan gaji UMR++, mantan gebetan udah kerja di startup unicorn, atau teman SMA yang tiba-tiba jadi "CEO" brand fashion online-nya sendiri.
Belum lagi bombardir pertanyaan keluarga jelang Ramadan: "Sudah kerja belum?", "Kapan interview?", "Teman-teman lo pada sudah pada kerja kan?". Awkward dinner intensifies.
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) bahkan ungkap ada 45 ribu lulusan S1 dan 6 ribu lulusan pascasarjana yang sudah "putus asa" alias feeling hopeless dalam job hunting mereka. Bukan karena mereka nggak capable, tapi sistem pendidikan dan pasar kerja kita yang gap-nya selebar Selat Sunda.
Main Character Energy, Tapi Versi Survival Mode
Tapi hey, being jobless doesn't define your worth. Banyak Gen Z yang akhirnya pivot ke alternatif path:
Side hustle culture is booming. Dari jual thrift, jadi freelance designer, bikin konten TikTok, sampe jualan kue lebaran, semuanya valid! Rezeki nggak melulu dari kantor kok.
Upskilling jadi new flex. Daripada nge-stalk mantan, mending upgrade skillbaru di Coursera atau Google Skills. LinkedIn profile dengan sertifikat bertebaran juga aesthetic kok.
Community over competition. Join komunitas sesama job seeker. Sharing info loker, tips interview, atau sekadar venting bareng. Lo nggak sendirian dalam perjuangan ini.
Mental health first. Jangan sampe toxic positivity bikin lo down. It's okay to feel anxious, it's okay to rest. Job hunting is exhausting, and you deserve break.
Pengangguran Gen Z: Harapan di Ramadan 2026
Mungkin Ramadan tahun ini berbeda dari yang lo bayangin. Nggak bisa kasih THR ke orang tua, nggak bisa belanja baju baru, nggak bisa ikutan bukber kantor yang seru. Tapi percaya deh, every rejection is redirection.
Manfaatin bulan Ramadan buat memperbaiki diri, upgrade skill, perbanyak networking, dan yang paling penting: jangan kehilangan harapan. Rezeki sudah diatur, timing-nya yang mungkin belum pas.
So, untuk lo yang masih nganggur jelang Ramadan: it's okay to not be okay, tapi don't give up. Your time will come, and when it does, semua struggle ini bakal jadi cerita sukses yang worth it.
Stay strong, job seekers! đź’Ş
Ilustrasi pengangguran Gen Z mencari pekerjaan jelang Ramadan 2026 (Freepik)