Moms, penahkah si kecil tiba-tiba menangis saat tidur? Ada yang terbangun sambil berteriak histeris dan sulit ditenangkan, ada juga yang bangun dengan wajah ketakutan lalu langsung memeluk orang tuanya.
Situasi seperti ini sering membuat orang tua cemas dan bertanya-tanya, apakah ini sekadar mimpi buruk biasa atau ada kondisi lain?
Meski sama-sama terjadi saat tidur, nightmare (mimpi buruk) dan night terror adalah dua hal yang berbeda. Untuk itu, memahami perbedaannya dapat membantu orang tua merespons dengan lebih tenang dan memberikan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan anak. Yuk cari tahu penjelasannya di sini, Moms.
Perbedaan Nightmare dan Night Terror
Ilustrasi Night Terror. Foto: Shutter Stock
Menurut dokter spesialis anak, dr. Nitish Basant Adnani, Sp.A, ada perbedaan mencolok antara night terror dan nightmare meski keduanya terjadi pada malam hari.
Night terror
Biasanya terjadi pada fase tidur NREM dalam (slow wave sleep).
Umumnya pada 1–3 jam pertama setelah anak tertidur.
Anak bisa tiba-tiba duduk atau berdiri, berteriak, napas cepat, dan tampak panik. Namun secara neurologis, ia masih berada dalam fase tidur dalam.
Anak sering kali tidak mengenali orang tua dan sulit ditenangkan.
Kondisi ini biasanya cuma terjadi 5-15 menit, setelahnya anak akan tertidur nyenyak lagi.
Nightmare
Terjadi pada fase REM sleep, yang lebih sering muncul menjelang pagi.
Anak benar-benar terbangun dalam keadaan sadar.
Ia responsif, mengenali orang tuanya, dan biasanya bisa ditenangkan dengan pelukan atau kata-kata yang menenangkan.
Keesokan harinya ia masih bisa mengingat mimpi yang dialami.
"Dari segi ingatan, anak yang mengalami night terror umumnya tidak mengingat kejadian tersebut keesokan harinya. Sementara itu, anak yang mengalami nightmare sering kali dapat menceritakan kembali isi mimpinya secara detail," jelas dr. Nitis pada kumparanMOM, Minggu (22/2).
Nightmare Bisa Lebih Bahaya Ketimbang Night Terror
Ilustrasi Anak Mengalami Mimpi Buruk. Foto: Shutterstock
Night terror paling sering terjadi pada usia 3–8 tahun yang dipicu oleh kurang tidur atau jadwal yang tidak teratur. Sedangkan nightmare bisa terjadi di segala usia.
"Meski night terror dapat membuat orangtua cemas karena tampak dramatis, tetapi seringkali bersifat jinak. Sebaliknya, nightmare dapat lebih berkaitan dengan faktor emosional dan psikologis, sehingga bisa menjadi entry point untuk mengeksplorasi adanya stres atau kecemasan pada anak," ujar dr. Nitish.
Tapi jika keduanya sering terjadi dengan pola berulang, segera konsultasikan dengan dokter ya, Moms, agar bisa dievaluasi lebih lanjut oleh ahlinya.