Sisi Lain Anak Bungsu: Kesenjangan Komunikasi dalam Dinamika Keluarga - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Sisi Lain Anak Bungsu: Kesenjangan Komunikasi dalam Dinamika Keluarga
Jan 7th 2026, 05:00 by Fathiinah Nisa

Foto anak bungsu mengintip dari balik pintu saat keluarga berdiskusi serius (sumber: GPT AI)
Foto anak bungsu mengintip dari balik pintu saat keluarga berdiskusi serius (sumber: GPT AI)

Anak bungsu sering di anggap sebagai posisi anak yang paling diuntungkan. Sering dianggap selalu dimanja, dilindungi, dimudahkan semua jalannya. Namun, pada kenyataannya tidak semua anak bungsu berada di posisi seperti itu merasakan adanya privillage itu, malah mereka terkadang merasa tertinggal, kesepian, bahkan sampai terasa jauh dengan keluarga.

Sebagai anak perempuan terakhir saya sangat merasakan bahwa kalimat, "Enak banget jadi anak terakhir, udah tenang. Kakak-kakaknya udah pada kerja kamu tinggal santai." adalah omong kosong belaka. Mungkin untuk beberapa orang dan di beberapa aspek, itu adalah benar.

Namun, jika dilihat secara keseluruhan, kalimat itu jauh dari realitasnya. Saya sebagai anak bungsu, malah merasa sebaliknya. Karena, kakak kita juga sudah punya kehidupan mereka sendiri, apalagi jarak umur kami cukup jauh. Mereka sudah bersama dunia mereka, dan kita jug tetap harus menjalani hidup di dunia sendiri.

Anak Bungsu Biasanya Tidak Diikutsertakan dalam Komunikasi Keluarga

Dalam komunikasi keluarga, umumnya seorang anak bungsu biasa selalu tidak diajak untuk berdiskusi. Kata mereka, kamu masih terlalu kecil belum mengerti hal dewasa. Sama seperti yang dikatakan Blair, L. (2011). Pada bukunya yang berjudul Birth Order: What Your Position in the Family Really Tells You About Your Character. (Piatkus Publishing), "Seorang anak dengan jarak lima tahun atau lebih dari saudara terdekatnya sering kali secara psikologis berfungsi sebagai anak tunggal. Mereka menyaksikan 'dunia dewasa' saudara dan orang tua mereka dari kejauhan."

Posisi sebagai pengamat dari kejauhan inilah yang membuat rumah menjadi terasa sunyi, walaupun secara fisik tidak kosong. Saat semua orang sibuk dengan urusan masing-masing, si anak bungsu hanya bisa memperhatikan pintu kamar mereka yang tertutup atau mendengar percakapan yang tidak melibatkan si anak bungsu.

Sebagai anak bungsu, saya juga merasa bahwa komunikasi dengan saya di rumah hanya bersifat instruksi, seperti, "sudah makan?" atau "kerjakan tugasmu", bukan yang bersifat koneksi, seperti, "apa yang kamu pikirkan hari ini?" atau saat diskusi keluarga ditanyakan pendapat. Sehingga berdampak pada si bungsu yang merasa tidak memiliki tempat dalam narasi keluarga

Keinginan Memiliki dik

Kondisi seperti itu pun membuat anak bungsu merasakan ingin memiliki seorang adik. Bukan hanya untuk mencari teman bermain, melainkan mencari seseorang yang setara untuk diajak berbicara atau berdiskusi tanpa merasa "paling kecil" atau "tidak tahu apa-apa", yang di mana itu dapat ditemukan pada seorang teman atau adik.

Seperti yang dijelaskan oleh Alfred Adler, seorang psikolog yang meneliti urutan kelahiran, bahwa anak bungsu sering merasa kesepian karena tidak memiliki "pengikut" di dalam rumah. "Anak bungsu berada dalam posisi yang aneh; mereka tidak memiliki penerus. Dalam keluarga di mana setiap orang sibuk dengan perkembangan mereka sendiri, anak bungsu mungkin menderita karena kurangnya persahabatan, yang memicu keinginan mendalam untuk memiliki seseorang 'di bawah' mereka untuk dirawat." Katanya dalam The Science of Living. Routledge.

Keinginan untuk memiliki seseorang yang dapat dirawat juga tidak sepenuhnya tentang kuasa, tetapi tentang kesempatan untuk terlibat. Ketika sejak awal anak bungsu lebih sering menjadi pendengar, pengamat, atau sekadar penerima instruksi, muncul dorongan untuk memiliki relasi di mana mereka dapat berperan , hadir, dan dianggap. Relasi tersebut menjadi bentuk pencarian atas keterlibatan emosional yang selama ini tidak mereka rasakan.

Dengan demikian, kesepian yang dirasakan anak bungsu bukan sekadar muncul tanpa sebab, tapi hasil dari dinamika keluarga yang menempatkan anak bungsu di posisi terakhir, baik secara umur maupun secara komunikasi. Ketika suara anak bungsu jarang didengar.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url