Kenapa Baju Perempuan Jarang Punya Saku? Ini Sejarah di Baliknya - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Kenapa Baju Perempuan Jarang Punya Saku? Ini Sejarah di Baliknya
Jan 6th 2026, 17:29 by kumparanWOMAN

Ilustrasi Saku Baju Perempuan. Foto: ViDI Studio/Shutterstock
Ilustrasi Saku Baju Perempuan. Foto: ViDI Studio/Shutterstock

Sadar nggak, Ladies, kalau baju perempuan jarang punya saku? Kalau pun ada, biasanya ukurannya kecil, untuk menyimpan barang-barang yang fungsional saja.

Detail yang tampak sepele ini ternyata menyimpan cerita panjang tentang sejarah, standar kecantikan, hingga kepentingan industri mode.

Sejarah di Balik Baju Perempuan yang Minim Saku

Ilustrasi Saku Dress. Foto: Red Umbrella and Donkey/Shutterstock
Ilustrasi Saku Dress. Foto: Red Umbrella and Donkey/Shutterstock

Sejak lama, pakaian perempuan dirancang dengan pertimbangan estetika yang lebih dominan dibanding fungsi. Padahal, jika menengok ke belakang, perempuan pernah memiliki ruang simpan yang cukup di pakaian mereka. Pada abad ke-16 hingga 17, perempuan menggunakan tie-on pockets, yaitu kantong kain yang diikat di pinggang dan disembunyikan di balik rok. Kantong ini dipakai untuk menyimpan uang, kunci, hingga barang pribadi dan pada masanya, menjadi simbol kemandirian.

Perubahan mulai terjadi ketika dunia mode mengagungkan siluet ramping dan pinggang kecil. Saku dianggap mengganggu bentuk tubuh dan merusak garis busana. Sejak saat itu, saku perlahan dihilangkan dari pakaian perempuan.

Selain estetika, faktor industri juga memainkan peran besar. Tanpa saku, perempuan menjadi lebih bergantung pada tas tangan. Hal ini menciptakan pasar aksesori bernilai besar dalam industri fashion, dari tas harian hingga statement bag mewah.

Akademisi mode dari University of the Arts London, Caroline Stevenson, menyebut saku sebagai elemen yang bersifat politis.

"Membatasi ruang simpan di pakaian perempuan secara tidak langsung membatasi kebebasan bergerak dan kemandirian mereka," ujar Stevenson.

Ilustrasi Saku Baju. Foto: PR Image Factory/Shutterstock
Ilustrasi Saku Baju. Foto: PR Image Factory/Shutterstock

Dari sisi bahasa tubuh, penulis Elizabeth Evitts Dickinson juga menjelaskan bahwa meletakkan tangan di saku sering diasosiasikan dengan rasa percaya diri dan otoritas. Ketika perempuan tidak diberi ruang itu, secara harfiah, ada makna simbolik yang ikut hilang.

Tak heran, pada 2023, gerakan #WeWantPockets ramai digaungkan di media sosial. Banyak perempuan menuntut desain pakaian yang lebih fungsional, bukan hanya cantik dipandang. Saku tak lagi dianggap detail kecil, melainkan bagian dari kenyamanan, kemandirian, dan kebebasan bergerak.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url