Bukan Tantrum Ditinggal Ibu Temani Adik, Anak Ini Justru Rapikan Rumah! - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Bukan Tantrum Ditinggal Ibu Temani Adik, Anak Ini Justru Rapikan Rumah!
Dec 8th 2025, 15:00 by kumparanMOM

Anak merapikan rumah. Foto: Inna photographer/Shutterstock
Anak merapikan rumah. Foto: Inna photographer/Shutterstock

Ibu pemilik akun TikTok @aifitrihandayani memperlihatkan pemandangan tak biasa. Dalam rekaman CCTV, terlihat anaknya yang berusia 5 tahun tetap tenang saat ditinggal ibunya menidurkan sang adik. Bukannya marah atau tantrum seperti yang biasanya terjadi pada anak usia tersebut, ia justru sibuk membereskan rumah hingga rapi.

Lantas, mengapa perilaku ini bisa muncul? Apakah ini tanda kemandirian, atau ada hal lain yang perlu dipahami orang tua?

@aifitrihandayani.28

🀱 : "Aa tungguin ya mama mau boboin bayi dulu, aa nonton tv aja" πŸ‘Ά : "Gak mau ah takut beledug hujan" (berisiik dikira lagi mainin mainan taunya beberes" Masyaa Allah kak #fyppppppppppppppppppppppp

♬ nhαΊ‘c nền - πŠπˆπ‰π€π˜ - πŠπˆπ‰π€π˜

Kenapa Anak Bisa Tetap Tenang dan Tidak Tantrum?

Menurut Psikolog Anak, Fabiola Priscilla, M.Psi, rasa cemburu atau kebutuhan perhatian pada anak usia 5 tahun adalah hal yang sangat normal. Mereka biasanya mudah merasa tersaingi atau ingin selalu dekat dengan orang tuanya.

Namun, bukan berarti anak usia tersebut tidak dapat menunjukkan kematangan emosional. Perilaku anak dalam video yang tampak tenang dan bahkan membantu membereskan rumah, sangat mungkin terjadi jika sejak kecil ia tumbuh dalam pola asuh yang konsisten.

Anak laki-laki melakukan pekerjaan rumah tangga. Foto: Travelpixs/Shutterstock
Anak laki-laki melakukan pekerjaan rumah tangga. Foto: Travelpixs/Shutterstock

"Oke, kenapa itu bisa terjadi? Ya bisa aja karena misalnya dari sejak kecil orang tua itu menanamkan pola pengasuhan yang konsisten, gitu ya," ujar Fabiola kepada kumparanMOM, Minggu (16/11).

Jadi, anak cenderung akan meniru apa yang sering ia lihat dalam keseharian, terutama dari orang tua.

Cara Mengajarkan Kemandirian, Tanggung Jawab, dan Empati pada Anak

Untuk memahami apakah perilaku anak muncul dari kesadaran atau karena menekan emosi, orang tua dapat memperhatikan bahasa tubuhnya.

Jika anak tampak membereskan rumah tetapi wajahnya menunjukkan ekspresi kesal atau marah, atau gesturnya kaku dan terpaksa, itu bisa menjadi tanda bahwa perilakunya tidak sepenuhnya datang dari hati, melainkan karena merasa harus melakukannya.

Fabiola Priscilla, M.Psi, Psikolog Anak dalam acara IKEA PLAY 2025: Eksplorasi, Imajinasi, Inspirasi di Jakarta Timur, Kamis (6/11/2025). Foto: Eka Nurjanah/kumparan
Fabiola Priscilla, M.Psi, Psikolog Anak dalam acara IKEA PLAY 2025: Eksplorasi, Imajinasi, Inspirasi di Jakarta Timur, Kamis (6/11/2025). Foto: Eka Nurjanah/kumparan

Fabiola juga menjelaskan bahwa perilaku positif seperti yang terlihat dalam video biasanya berawal dari contoh nyata dalam keluarga. Anak belajar dari apa yang ia lihat setiap hari, konsep yang dikenal sebagai social learning theory.

Beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua:

-Memberi contoh langsung, seperti merapikan barang setelah digunakan.

-Membuat rutinitas harian, sehingga anak terbiasa melakukan tugas-tugas kecil.

-Menggunakan storytelling atau film anak, untuk menanamkan nilai empati dan tanggung jawab dengan cara menyenangkan.

-Memberikan pujian yang tepat, agar anak merasa dihargai tanpa merasa harus "sempurna".

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url