Tradisi Nginduh sebagai Kebiasaan Unik Masyarakat di Lereng Gunung Ijen - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Tradisi Nginduh sebagai Kebiasaan Unik Masyarakat di Lereng Gunung Ijen
Nov 18th 2025, 12:00 by Teddy Afriansyah

Tradisi menghangatkan badan sembari meminum kopi di lereng Gunung Ijen Bondowoso

Ilustrasi meminum kopi. Sumber: pexels.com
Ilustrasi meminum kopi. Sumber: pexels.com

Kabut dan Jantung Perapian di Ijen

Pegunungan Ijen yang merupakan sebuah kawasan yang dianugerahi kesuburan vulkanik sekaligus diselimuti hawa dingin menusuk. Suhu udara, terutama saat malam menjelang atau pagi buta, sanggup membuat tubuh menggigil hingga ke tulang. Di tengah kondisi alam yang demikian menantang, masyarakat setempat mengembangkan sebuah kearifan lokal yang berfungsi sebagai penangkal dingin sekaligus perekat sosial. Sebuah kebiasaan tersebut memiliki nama lokal yang spesifik yaitu bernama Nginduh.

Nginduh, pada dasarnya merupakan aktivitas berkumpul menghangatkan badan di depan tungku api tradisional. Namun, mereduksi maknanya sebatas menghangatkan diri menjadi sebuah kekeliruan besar. Nginduh merupakan sebuah ritual sosial, sebuah mekanisme pertahanan terhadap alam, sekaligus sebuah bentuk keramahan yang paling murni. Dalam kepulan asap kayu bakar dan pendar cahaya api yang temaram, ada filosofi mendalam tentang cara hidup masyarakat agraris pegunungan. Aktivitas tersebut menjadi representasi bagaimana alam yang keras justru membentuk manusia yang hangat dalam berinteraksi.

Dapur sebagai Ruang Tamu Sebenarnya

Bagi kebanyakan masyarakat urban, ruang tamu menjadi etalase rumah. Sebuah tempat formal menjamu pengunjung, memajang perabot terbaik, dan menjaga jarak sosial. Konsep tersebut seakan luntur dan mencair di rumah-rumah warga lereng Ijen. Seorang tamu yang datang berkunjung mungkin akan disambut di teras depan, namun jamuan sesungguhnya, penghormatan tertinggi, justru diberikan saat sang tamu dipersilakan masuk ke dapur.

Dapur menjadi sentral, menjadi jantung dari sebuah kediaman. Alasan utamanya begitu pragmatis sekaligus filosofis, yaitu adanya keberadaan tungku. Tungku atau yang sering disebut tomang merupakan sumber kehangatan literal. Benda tersebut biasanya terbuat dari tumpukan batu bata, semen, dan berukuran persegi dengan lubang api tempat kayu bakar diletakkan. Keberadaan tomang yang terus menyala sepanjang hari, apalagi menjelang petang, mengubah dapur dari sekadar area fungsional memasak menjadi lounge komunal.

Tata letak rumah pun beradaptasi dengan fungsi baru dapur. Jangan kaget menemukan dipan bambu, kursi santai, bahkan sofa empuk diletakkan berdekatan dengan tomang. Dalam beberapa rumah, sebuah ranjang tidur sederhana bahkan diletakkan tidak jauh dari perapian. Semua pengaturan tersebut bertujuan agar kenyamanan maksimal didapat selagi proses Nginduh berlangsung. Menolak ajakan Nginduh di dapur bisa dianggap sebagai sebuah kejanggalan, sebab menempatkan tamu di ruang depan yang dingin justru dianggap kurang sopan oleh sang empunya rumah.

Kopi, Tomang, dan Percakapan Lintas Generasi

Ilustrasi menghangatkan badan di lereng gunung. Sumber: pexels.com
Ilustrasi menghangatkan badan di lereng gunung. Sumber: pexels.com

Nginduh tidak pernah lengkap tanpa kehadiran sajian pendamping. Bintang utamanya yaitu kopi. Bukan sembarang kopi, melainkan kopi hasil kebun sendiri atau dari perkebunan sekitar yang diproses secara mandiri. Lereng Ijen merupakan surga bagi kopi berkualitas ekspor, namun kopi yang tersaji saat Nginduh memiliki dimensi rasa yang berbeda. Kopi tersebut membawa cerita tentang proses.

Proses pengolahan kopi dilakukan secara tradisional. Biji kopi yang sudah dijemur akan disangrai menggunakan wajan tanah liat di atas tomang yang sama. Aroma hangus biji kopi bercampur dengan wangi asap kayu bakar. Setelahnya, biji kopi matang ditumbuk menggunakan lesung, alat penumbuk kayu tradisional yang menghasilkan bubuk kopi dengan tekstur khas. Setiap rumah hampir pasti menyimpan stok kopi buatan sendiri, siap diseduh kapan pun ada kehangatan yang perlu dibagi.

Saat secangkir kopi panas tersaji dan ditemani penganan sederhana seperti kentang rebus hasil kebun, saat itulah esensi Nginduh mencapai puncaknya. Dalam suasana dingin di luar, kehangatan tomang dan kehangatan kopi berpadu dengan kehangatan percakapan. Nginduh menjadi ajang bertukar cerita, berbagi kabar, atau sekadar berdiam bersama menikmati gemeretak kayu yang terbakar. Di banyak dusun yang bahkan belum tersentuh sinyal telekomunikasi kuat atau siaran televisi stabil, interaksi langsung di depan tomang menjadi hiburan utama. Tradisi lisan, nasihat orang tua, dan canda tawa mengalir alami jauh lebih utama ketimbang menatap layar gawai.

Simbol Ketahanan Budaya di Era Modern

Zaman boleh berganti. Bantuan kompor gas dari pemerintah mungkin sudah diterima dan tersimpan rapi di sudut dapur. Namun, tomang tetap menyala. Bagi masyarakat lereng Ijen, tomang bukan sekadar alat masak kuno. Ada keyakinan kuat bahwa cita rasa masakan yang diolah di atas api kayu bakar memiliki kelezatan berbeda, lebih sedap, lebih beraroma. Asap yang dihasilkan (sangit) dipercaya memberi karakter unik pada masakan.

Sikap teguh mempertahankan tomang merupakan bentuk ketahanan budaya. Masyarakat memilih kenyamanan tradisi ketimbang kepraktisan modernitas. Kompor gas mungkin dipakai saat terburu-buru, namun tomang menjadi pilihan utama demi menjaga kualitas rasa dan melestarikan warisan. Pilihan tersebut menunjukkan sebuah sikap hidup yang tidak mudah silau oleh hal-hal baru yang dianggap lebih efisien. Ada nilai-nilai yang jauh lebih penting seperti rasa otentik, kebersamaan, dan identitas budaya.

Keunikan arsitektur dapur yang menyatu dengan ruang komunal merupakan bukti fisik bagaimana budaya membentuk ruang hidup. Rumah tidak hanya dirancang berdasarkan estetika, tetapi berdasarkan kebutuhan primer seperti bertahan dari dingin dan menjaga ikatan sosial.

Nginduh: Warisan Keramahan yang Menghangatkan

Tradisi Nginduh merupakan sebuah paket lengkap kearifan lokal. Berawal dari respons adaptif terhadap iklim dingin pegunungan, ritual tersebut berkembang menjadi sebuah pranata sosial yang kompleks. Nginduh merupakan cara masyarakat lereng Ijen merayakan kebersamaan, menghormati tamu, dan menjaga kewarasan di tengah sunyinya malam pegunungan.

Dalam aktivitas sederhana duduk mengelilingi api, ada pelajaran berharga tentang keramahan (hospitalitas). Para tamu diperlakukan layaknya keluarga sehingga diajak merasakan kehangatan yang sama dengan penghuni rumah. Meskipun terlihat sederhana, sajian kopi dan kentang rebus disuguhkan dengan ketulusan yang melampaui hidangan mewah di restoran mahal.

Eksotisme Nginduh terletak pada kesederhanaannya. Suara gemeretak kayu, kepulan asap yang wangi, cahaya temaram api, dan percakapan tanpa distraksi digital merupakan kemewahan yang langka ditemukan di dunia yang serba cepat. Nginduh membuktikan bahwa kebahagiaan dan kehangatan sejati seringkali ditemukan bukan pada teknologi, melainkan pada interaksi manusiawi yang paling dasar yang dipusatkan di sekitar jantung rumah.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url