Anak Mengambil Mainan Teman Diam-diam, Bagaimana Sebaiknya Orang Tua Merespons? - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Anak Mengambil Mainan Teman Diam-diam, Bagaimana Sebaiknya Orang Tua Merespons?
Nov 27th 2025, 17:13 by kumparanMOM

Ilustrasi anak nangis. Foto: Shutter Stock
Ilustrasi anak nangis. Foto: Shutter Stock

Seorang ibu membagikan pengalaman menyentuh ketika putranya diam-diam mengambil mainan milik temannya. Awalnya, sang anak meminta izin untuk berkunjung ke rumah temannya tanpa alasan jelas. Kecurigaan muncul, hingga akhirnya ia mengaku telah mengambil mainan mobil tersebut tanpa izin. Momen itu menjadi titik penting, bukan karena kesalahan yang dibuat anak, tetapi karena keberaniannya berkata jujur.

Psikolog Klinis Anak dan Remaja, Raden Mutiara Puspa Wijaya, M.Psi, menegaskan bahwa ketika anak berani mengakui kesalahan, itu berarti ia sedang memahami nilai benar–salah. Lalu, bagaimana orang tua sebaiknya bersikap ketika menghadapi situasi seperti ini?

Apa yang harus dilakukan?

Hal pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah tetap tenang dan menunjukkan apresiasi atas kejujuran anak. Untuk anak pada fase ini, mengakui kesalahan adalah bagian dari proses perkembangan moral yang masih berlangsung.

"Saat anak berkata jujur, itu berarti ia sedang mempraktikkan internal moral compass. Bukan karena takut dimarahi, tapi karena mulai memahami nilai benar–salah." kata Raden Mutiara Puaspa Wijaya, M.Psi kepada kumparanMOM, Rabu (26/11).

Selain itu, ini yang bisa dilakukan orang tua

  1. Beri ruang bagi anak untuk meluapkan emosi, kemudian ajak berdiskusi mencari solusi bersama. Dengan pola respons seperti ini, anak belajar bahwa melakukan kesalahan itu manusiawi, namun bertanggung jawab adalah bagian dari proses tumbuh besar. Sebaliknya, reaksi marah justru dapat membuat anak takut untuk berkata jujur di masa depan.

  2. Hindari respons yang berlebihan atau mempermalukan anak.

Orang tua juga perlu memahami bahwa anak balita masih berada dalam fase egosentris, yaitu berpikir bahwa dunia berjalan sesuai keinginannya. Konsep tentang berbagi, meminta izin, dan memahami kepemilikan tidak muncul secara otomatis. Semuanya perlu diajarkan melalui contoh dan pengulangan yang konsisten.

"Karena kemampuan berpikir sebelum bertindak masih terbatas, anak usia 3 tahun membutuhkan contoh nyata, bukan ceramah panjang. Tapi memasuki usia sekitar 5 tahun, anak mulai dapat memahami konsep sebab-akibat secara sederhana," tutup Mutiara.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url