Koleksi Ayham Hassan untuk runway debutnya di Central Saint Martins. Foto: Instagram @ayham_hassan_99
Ladies, nama desainer Ayham Hassan belum lama ini mulai terdengar di kancah mode internasional. Lahir dan besar di Ramallah, Palestina, Ayham tumbuh dengan keterbatasan akses dan bayang-bayang konflik.
Namun, hal tersebut tidak menggentarkan semangat Ayham untuk bermimpi. Bagaimana perjalanan seorang anak muda Palestina bisa menembus panggung prestisius Central Saint Martins? Yuk, simak kisah penuh perjalanan Ayham Hassan dalam membawa warisan budaya sekaligus pesan resistensi lewat fesyen.
Mimpi yang berawal dari menonton video dan membaca majalah mode
Sejak remaja, Ayham Hassan sudah jatuh cinta pada dunia fashion. Ia kerap menyelami video pertunjukan Alexander McQueen dan Lady Gaga di YouTube. Sejak saat itu, rasa ingin tahunya tentang dunia mode kian tak membendung.
Sayangnya, akses ke dunia mode di Palestina sangat terbatas. Ayham baru dapat memegang majalah fashion pertamanya ketika menginjak usia hampir 20 tahun, saat itu seorang temannya membawa majalah British Vogue dari Turki.
Melanjutkan pendidikan mode dari Universitas Birzeit ke sekolah mode paling bergengsi di dunia, Central Saint Martins di London, Inggris.
Meski tantangannya besar, Ayham memutuskan untuk tetap melanjutkan pendidikannya. Ia mendaftar di jurusan desain di Universitas Birzeit, salah satu universitas terbesar di Palestina. Di sanalah bakatnya mulai terlihat.
Karya-karya awal Ayham, yang banyak mengeksplorasi tema identitas dan konflik, menarik perhatian seorang dosen bernama Omar Joseph Nasser Khoury. Omar pernah menempuh pendidikan di London College of Fashion dan mengenali potensi besar dalam diri Ayham.
Omar menyarankan Ayham untuk menyusun portofolio yang lebih serius dan mencoba melamar ke Central Saint Martins di London, salah satu sekolah mode paling bergengsi di dunia. Bagi Ayham kala itu saran dari dosennya terdengar mustahil, tapi keberaniannya untuk mencoba akhirnya membawa hasil. Pihak kampus Central Saint Martins terkesan dengan karyanya dan memberinya kesempatan untuk bergabung.
Ketika satu dunia bahu-membahu membawa Ayham menuju mimpinya
Mendapat tempat di kampus prestisius itu rupanya bukan akhir perjuangan Ayham. Masalah biaya pun muncul. London merupakan salah satu kota termahal di dunia, dan biaya kuliah di Central Saint Martins pun tidak murah. Untuk mencari jalan keluar, Ayham membuat kampanye penggalangan dana secara daring pada tahun 2021.
Awalnya, ia tidak yakin akan berhasil. Namun dikutip dari Mille, kampanye itu mendapat perhatian supermodel Bella Hadid, yang juga berdarah Palestina dan terkenal vokal menyuarakan dukungannya untuk Palestina.
Ketika Bella Hadid membagikan kampanye penggalangan dana Ayham di Instagram pribadinya, dukungan pun mulai berdatangan. Meski demikian, uang yang terkumpul belum sepenuhnya cukup.
Melansir Dazed, setelah wawancara eksklusif dengan Dazed, sebuah brand akhirnya menawarkan bantuan untuk menanggung biaya tahun pertama Ayham. Untuk tahun-tahun berikutnya, Ayham kembali berjuang mencari dukungan hingga akhirnya bisa bertahan di London.
Menempa bakat di dunia fashion
Tiga tahun di Central Saint Martins benar-benar membentuk Ayham sebagai seorang individu dan calon desainer global. Ia sempat mendapatkan kesempatan magang selama satu tahun di rumah mode Givenchy yang berlokasi di Paris, Prancis.
Melansir Vogue, dalam proses kreatifnya, Ayham banyak terinspirasi dari sastra Timur Tengah. Salah satunya dari karya Kahlil Gibran, The Prophet, yang diterbitkan pada tahun 1923.
Dari Westbank ke debut di Runway London
Puncak perjalanannya adalah ketika Ayham menampilkan koleksi kelulusannya di Central Saint Martins BA Fall 2025 showcase. Runway koleksi Ayham dipenuhi pigmen warna seperti emas, magenta, ungu, hingga royal blue.
Melansir Dazed, salah satu momen yang menjadi sorotan publik adalah ketika seorang model tampil dengan lapisan tulle dan kerudung besar berhias bordir tatreez khas Palestina. Di tangannya tertulis pesan "Divest now".
Ayham berusaha menghidupkan kembali tekstil dan tradisi Gaza melalui teknik cetak, bordir tangan, kerja kulit, hingga ukiran laser. Ia lebih banyak memakai bahan deadstock dan kulit sisa produksi untuk memperlihatkan komitmennya pada keberlanjutan.
Salah satu tampilan koleksinya dibuat sepenuhnya dari karet gelang, menciptakan efek seperti tali ketapel, yang menurut Ayham menjadi simbol perlawanan rakyat Palestina.
Tampilan lainnya berupa syal rajut tebal dalam warna abu-abu, magenta, dan biru kobalt. Karya ini begitu personal karena dibuat oleh ibunya di Ramallah. Meski sang ibu tidak bisa menghadiri acara akibat perbatasan yang ditutup, hasil karyanya berhasil sampai ke London setelah melewati checkpoint berlapis.