Ilustrasi bendera China. Foto: Samuel Borges Photography/Shutterstock
Di balik kemajuannya, ternyata China pernah mengalami masa-masa kelam yang oleh banyak sejarawan disebut sebagai Century of Humiliation (Abad Penghinaan).
Periode yang bukan hanya ditandai oleh kekalahan militer maupun kekuatan ekonomi saja. Bagi masyarakat China periode itu adalah simbol dari kehinaan nasional, ketika kedaulatan negara direbut, harga diri diinjak, dan bangsa mereka dipaksa tunduk pada kekuatan asing.
Lalu bagaimana periode ini bisa membawa penghinaan bagi bangsa China?
Perang Candu I dan II
Pada awalnya, perang ini dimulai dari penyelundupan candu oleh Inggris ke China dengan tujuan untuk menghemat devisa negara, ini dilakukan karena pada masa itu bangsa barat sering membeli barang-barang dari dinasti Qing yang saat itu masih menggunakan mata uang perak untuk melakukan transaksi.
Hal inilah yang mengharuskan bangsa-bangsa barat untuk menukar uang mereka menjadi perak yang membuat mereka harus menguras cadangan devisa negaranya. Akhirnya, bangsa barat mulai memikirkan cara lain untuk melakukan transaksi yang lebih menguntungkan tanpa harus menguras cadangan devisanya yaitu dengan menggunakan candu.
Inggris mulai menyelundupkan candu ke China yang awalnya hanya beberapa ton per tahun, dan semakin bertambah mencapai ratusan ton per tahunnya. Dampaknya sangat menguntungkan bagi Inggris, karena tidak hanya mendapatkan keuntungan devisa tetapi berhasil memonopoli perdagangan di China melalui candu. Di sisi lain, dinasti Qing justru mengalami kerugian akibat penyelundupan candu.
Kemudian dinasti Qing melakukan tindakan terhadap pengedaran candu, salah satunya menerapkan hukuman mati bagi para penyelundup lokal, menyita gudang candu milik Inggris, dan memaksa Inggris untuk menandatangani perjanjian agar tidak menyelundupkan candu ke China. Tetapi tindakan itu, justru membuat Inggris marah dan menjadi awal meletusnya Perang Candu Pertama, 第 一次 鴉片戰爭 (Dìyīcì Yāpiàn Zhànzhēng).
Perang Candu I terjadi dari tahun 1839-1842. Perang yang diakibatkan dari penyitaan dan penghancuran candu milik Inggris di Kanton, yang menyebabkan kemarahan Inggris dan langsung mengirimkan pasukannya untuk menyerang dinasti Qing.
Akibat kekalahan dinasti Qing dalam Perang Candu Pertama yang sangat merugikan, pemerintah Qing terpaksa menandatangani Perjanjian Nanjing 南京條約 (Nánjīng Tiáoyuē). Perjanjian yang membuat China harus kehilangan Hongkong dan harus membuka 5 pelabuhan di Guangzhou, Fuzhou, Xiamen, Ningbo, dan Shanghai untuk melakukan perdagangan bebas dengan bangsa barat, serta harus membayar 21 juta mata uang perak kepada Inggris.
Sedangkan Perang Candu Kedua 第二 次鴉片戰爭 (Dì'èrcì Yāpiàn Zhànzhēng) yang terjadi pada tahun 1856 akibat salah satu seorang pejabat dinasti Qing menggeledah kapal Inggris The Arrow di Guangzhou. Perang yang melibatkan Inggris dan Prancis yang berhasil menduduki Guangzhou hingga tahun 1861 ini membuat dinasti Qing kembali kalah dalam peperangan dan dipaksa menandatangani Perjanjian Tianjin 天津条约 (Tiānjīn Tiáoyuē) pada tahun 1858 dengan Inggris serta Prancis.
Sejak saat itu China terbuka bagi bangsa barat dengan hak ekstrateritorialnya. Perjanjian ini juga membuka peluang bagi para misionaris barat dalam menyebarkan agama Kristen dan melegalkan impor candu. Tetapi dinasti Qing melanggar perjanjian, kemudian perang kembali pecah pada tahun 1859 saat dinasti Qing menghalangi diplomat asing untuk masuk ke Beijing ketika Inggris ingin merealisasikan pasal-pasal dalam Perjanjian Tianjin.
Inggris dan Prancis kemudian berhasil menguasai Beijing dan membakar Istana Musim Panas Kaisar. Akhirnya, melalui Konvensi Peking 北京条约 (Běijīng tiáoyuē) tahun 1860 dinasti Qing dipaksa mematuhi syarat-syarat Perjanjian Tianjin dengan tambahan konsekuensi seperti wilayah Hongkong disewakan dan menjadi koloni Britania Raya selama 99 tahunsejak 1 Juli 1898.
Ilustrasi Pelabuhan di Hongkong. Foto: Shutterstock
Pemberontakan Taiping
Selain menghadapi tekanan dari luar, dinasti Qing juga mengalami tekanan dari dalam negeri akibat terjadinya Pemberontakan Taiping 太平天国运动(Taìpíng Tīanguó Yùndòng), merupakan perang saudara yang dimulai dari selatan China dan kemudian meluas dari tahun 1850-1864 yang dipimpin oleh seorang mualaf Kristen yakni Hong Xiuqan.
Hong telah mengaku menerima penglihatan dalam mimpinya dan mengumumkan bahwa dirinya sebagai adik Yesus Kristus. Ia percaya bahwa misinya adalah untuk melawan pemerintahan dinasti Qing yang diperintah oleh bangsa Manchu. Pemberontakan ini mengakibatkan sekitar 20 juta orang tewas yang sebagian besar adalah warga sipil.
Perang China-Prancis
Perang antara dinasti Qing China dan Prancis pada tahun 1884-1885 ini lebih dikenal sebagai "Kampanye Tonkin". Perang yang disebabkan oleh keinginan Prancis untuk menduduki Tonkin (Vietnam Utara) dan memperkuat protektoratnya di wilayah itu.
Tonkin termasuk ke dalam lingkup pengaruh kekuasaan China karena adanya Sungai Hong (Sungai Merah) yang menghubungkan provinsi Selatan China dengan laut dan menjadi jalur perdagangan penting.
Akhirnya operasi militer skuadron timur jauh di bawah komando Laksamana Amédée Courbet, menjadi titik penting dalam peperangan ini. Dimulai dari kekalahan armada China dalam Pertempuran Fuzhou, Penaklukkan Keelung, blokade Prancis atas Pelabuhan-pelabuhan Taiwan, dan pendudukan Kepulauan Pescadores.
Perjanjian-Perjanjian Tidak Setara
Bukan hanya melalui peperangan, abad penghinaan ini ditandai dengan sejumlah perjanjian yang dikenal sebagai Perjanjian-Perjanjian Tidak Adil 不平等条约(bù píngděng tiáoyuē). Perjanjian yang ditekankan oleh bangsa-bangsa asing terhadap dinasti Qing China yang nyatanya membawa kerugian besar bagi China selama abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Berikut daftar sejumlah perjanjiannya:
Perjanjian Nanjing 南京條約 tahun 1842 (Qing-Inggris)
Perjanjian Wangxia 中美望厦条约 tahun 1844 (Qing-Amerika Serikat)
Perjanjian Whampoa 黄埔条约 tahun 1844 (Qing-Prancis)
Perjanjian Aigun 瑷珲条约 tahun 1858 (Qing-Rusia)
Perjanjian Tianjin 天津条约 tahun 1858 (Qing-Inggis-Prancis-Rusia)
Konvensi Peking 北京条约 tahun 1860 (Qing-Inggris-Prancis-Rusia)
Perjanjian Shimonoseki 下関条約 tahun 1895 (Qing-Jepang)
Protokol Boxer 辛丑各国和约 tahun 1901 (Qing-aliansi dari 8 negara)
Pemberontakan Boxer
Arloji Patek Philippe Ref 96 Quantieme Lune yang pernah dimiliki oleh Aisin-Gioro Puyi, kaisar terakhir dinasti Qing terlihat dipajang di Hong Kong. Foto: Tyrone Siu/REUTERS
Pemberontakan Boxer 义和团运动 pada awalnya adalah sebuah gerakan untuk mendukung pemberontakan petani pada tahun 1900-an yang berupaya untuk mengusir bangsa barat dari China.
Boxer adalah julukan yang diberikan para misionaris Kristen Amerika Serikat kepada para pemuda di Shandong yang tergabung dalam kelompok militan bernama Yihéquán dan berlatar belakang sebagai ahli ilmu bela diri tradisional dan petarung andal. Namun kelompok Boxer segera berubah menjadi organisasi politik sekitar tahun 1890-an yang berkembang pesat dalam dua tahun.
Pemberontakan ini merupakan upaya perlawanan yang dilakukan masyarakat China untuk menentang dominasi Inggris di dataran China. Adanya keterlibatan negara Eropa lainnya seperti Inggris, Amerika Serikat, Prancis, Rusia, Jepang, Jerman, Italia dan Austria-Hongaria yang juga memperparah peristiwa ini.
Pada tahun 1897-1898 terjadi bencana kekeringan yang melanda China Utara, terutama provinsi Shandong dan Zhili yang saat itu menjadi basis simpatisan Boxer. Pemberontakan ini dilandasi oleh rasa dendam dan keagamaan di dalam jiwa para petani dengan tujuan utamanya adalah menghancurkan bangsa asing dan faktor kedua untuk menentang bangsa asing karena dianggap sebagai pusat dari ketidakstabilan.
Salah satu yang dianggap sangat menggangu adalah keberadaan para misionaris yang menyebarkan ajaran Kristen. Kemudian mereka menjadi target pemusnahan, bukan hanya misionaris dari Eropa tetapi juga para misionaris dari China yang dijuluki sebagai Er Maozi. Para misionaris ini dianggap sebagai orang-orang yang telah menggangu kepercayaan kemurnian dari leluhur China dan menyebabkan kemurkaan dewa serta mendatangkan bencana alam di berbagai wilayah.
Puncaknya terjadi ketika kemarau panjang saat musim semi-panas pada tahun 1900 di daerah Utara China. Untuk mendapatkan simpati masyarakat dalam mewujudkan tujuan, organisasi Boxer menyebarkan poster berisikan perintah bagi rakyat China untuk membunuh semua orang asing dan orang China yang berhubungan dengan orang asing. Hal itu dilakukan karena mereka menganggap China akan terbebas dari orang asing dan dewa akan menjadi tenang serta menurunkan hujan kembali di China.
Pada Mei 1900 pemberontak memusatkan serangan di banyak wilayah, kelompok Boxer juga mengarahkan pemberontakan di desa-desa yang kemudian diperluas hingga wilayah kota seperti pusat Kota Peking yang menjadi pusat lokasi pemberontakan hingga para pasukan Boxer berhasil mengepung pasukan tentara Inggris yang dipimpin Sir Claude MacDonald. Selain itu pada 11 Juni 1900 perwakilan Jepang untuk China yakni Sugiyama tewas dalam peristiwa pemberontakan itu dan pemberontakan semakin meluas ke seluruh Beijing.
Kemudian, pemberontak mengepung kota Beijing dan melakukan pembakaran gereja serta pemukiman orang-orang Eropa sekaligus membantai penduduk yang beragama Kristen baik pribumi maupun Eropa. Pada tanggal 14 Juni 1900, organisasi Boxer melakukan serangan ke kedutaan Barat di Beijing yang mengakibatkan terbunuhnya menteri kebangsaan Jerman Clemens von Kettler.
Sedangkan di Tianjin, pemberontak membakar gereja dan toko-toko yang menjual barang dari negara Barat, penjara-penjara dihancurkan, dan para tahanan dibebaskan. Situasi ini semakin memanas yang membuat terdesaknya pasukan Inggris dan segera meminta bantuan.
Akhirnya tentara internasional dari aliansi delapan negara pun didatangkan, pada pertengahan Agustus 1900 pasukan internasional berjumlah 19.000 termasuk 2.500 tentara Amerika Serikat tiba di China. Austria-Hongaria, bersama Italia mengirimkan 296 pasukan dan empat kapal penjelajah. Akibat serangan yang terus dilancarkan oleh aliansi delapan negara, akhirnya China terpaksa menandatangani Protokol Boxer pada tanggal 7 September 1901 yang menandai berakhirnya pemberontakan.
Runtuhnya Kekaisaran dan Terbentuknya Republik China
Arah runtuhnya Kekaisaran China semakin menguat sejak terjadinya perang Rusia-Jepang pada 1904-1905, untuk memperebutkan wilayah kekuasaan China (Manchuria, Korea, dan Shandong). Saat itu, China tidak berani memprotes aksi tersebut yang membuat China yang di bawah Kekaisaran Dinasti Qing menjadi boneka bagi bangsa asing.
Ini membuat rasa kecewa yang mendalam di kalangan masyarakat China dan berubah menjadi kebencian untuk menghapuskan pemerintahan dinasti Qing. Masyarakat menggangap dinasti Qing sebagai pemerintahan asing karena non Tionghoa dan berasal dari Manchuria. Sosok penting sebagai pemimpin gerakan revolusi China muncul yakni Sun Yat Sen, dengan mendirikan gerakan anti Mantsu 同盟会 (Tóngménghuì) saat merantau ke berbagai negara seperti Jepang.
Pada tanggal 10 Oktober 1911 (Double Ten) revolusi nasional akhirnya meletus di Wuchang dan Sun Yat Sen segera memproklamasikan Republik China yang wilayahnya meliputi China Selatan saja. Sedangkan China Utara masih dikuasai oleh Kaisar terakhir China yakni Pu Yi, sehingga membuat China terbelah menjadi dua.
Akhirnya, Kaisar Pu Yi diturunkan dari tahta Kekaisaran Dinasti Qing pada tanggal 12 Februari 1912 dan Republik China pun bersatu. Namun, tak lama Sun Yat Sen menggundurkan diri sebagai presiden dan segera mendirikan Partai Nasionalis Kuomintang 中国国民党(Zhōngguó Guómíndang).
Perang Saudara China dan Akhir Abad Penghinaan
Ilustrasi Nanjing Massacre di China. Foto: Dave Colman/Shutterstock
Saat China dihadapi ancaman imperialisme Jepang di Manchuria, sebuah perang saudara China antara Kuomintang dan Komunis China meletus pada tahun 1927. Perang yang dimulai pada tanggal 12 April 1927 ketika Kuomintang yang saat itu sudah berada dibawah kepemimpinan Chiang Kai Shek melakukan serangan mendadak dan mengusir kaum Komunis di Shanghai. Akhirnya, Kuomintang mendirikan pemerintahannya di Nanking dan Komunis di Kiangshai.
Pada tahun 1928 Chiang Kai Shek menyerbu China Utara dan berhasil menyatukan seluruh China ke dalam Republik China dengan menggabungkan Manchuria. Kemudian Jepang yang mendengar adanya perang saudara ini, segera menyerang China untuk mengambil Manchuria pada tahun 1931 dan memulai Perang China-Jepang II.
Untuk mencegah meluasnya perang dengan Jepang, akhirnya Chiang Kai Sek dan Partai Komunis China yang saat itu berada di bawah pimpinan Mao Zedong bersatu untuk melawan Jepang yang berambisi untuk menduduki China Utara.
Pasca berakhirnya Perang Dunia II dan menyerahnya Jepang pada tahun 1945, perang saudara pun kembali pecah pada tahun 1946 dan berakhir dengan kemenangan Komunis China pada tahun 1949. Tak lama setelahnya, Chiang Kai Shek akhirnya meninggalkan daratan China bersama ratusan ribu pasukan Kuomintang dan segera mendirikan Republik Tiongkok di Taiwan.
Akhir dari abad penghinaan seiring dengan berakhirnya Perang Dunia II dan proklamasi berdirinya Republik Rakyat Tiongkok oleh Mao Zedong pada 1 Oktober 1949. Namun, abad penghinaan baru dapat dikatakan benar-benar berakhir sejak terjadinya Reunifikasi Hongkong dan Makau dengan kembalinya kedua negara tersebut kepada China pada tahun 1997 dan 1999 yang sebelumnya HongKong merupakan koloni Inggris sedangkan Makau di bawah koloni Portugis.
Abad penghinaan telah menjadi catatan pahit yang bukan hanya menggoreskan luka mendalam bagi bangsa China, tetapi juga berhasil membentuk arah perjalanan sejarah China hingga hari ini. Penjajahan, perjanjian tidak setara, dan serangkaian keterpurukan nasional telah meninggalkan trauma kolektif yang akan terus dikenang sebagai pengingat betapa rapuhnya sebuah bangsa ketika kehilangan kedaulatannya.