Terdampak Gempa Bawean M6,5, Seperti Ini Kerusakan yang Dialami RS Unair
25 Mar, 2024
Halaman ini telah diakses:
Views
Tenda darurat yang sempat dipasang di halaman RS Unair pasca gempa Bawean. Foto: Dok. BPBD Surabaya
Gempa M6.5 yang mengguncang Bawean dan terasa hingga Kota Surabaya pada Jumat (22/3) sore berdampak adanya kerusakan di sejumlah fasilitas di Universitas Airlangga (Unair). Beberapa titik di lingkungan Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) mengalami kerusakan.
Ketua Pusat Komunikasi dan Informasi Publik (PKIP) Unair Martha Kurnia Kusumawardani, dr., Sp.KFR(K), dalam keterangannya membenarkan adanya dampak gempa di RSUA. Ada sejumlah kerusakan nonstruktural di gedung Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) di sisi luar, bukan gedung RSUA. Lokasi gedung RSKI terpisah dengan gedung RSUA.
"Gedung RSKI selama ini lebih banyak dipakai untuk aktivitas riset sehingga minim pasien," ujar Martha, seperti dikutip Basra, Senin (25/3).
Lebih lanjut, Martha menyampaikan bahwa pemberlakuan prosedur khusus telah dilakukan. Prosedur baku apabila terjadi gempa bumi (code Green) adalah pasien dan semua pengunjung dievakuasi dari gedung rumah sakit untuk mengantisipasi supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, terutama kepada pasien.
"Langkah-langkah antisipasi dan evakuasi berdasar prosedur baku pasien telah kami lakukan," katanya.
RSUA telah melaksanakan penanganan sesuai SOP terkait musibah gempa yang terjadi. Termasuk dengan mengamankan pasien, terutama pasien rentan (bayi dan pasien ICU). RSUA juga telah memastikan bahwa tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti penculikan bayi dan anak (code Pink).
Saat ini RSUA telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya. RSUA juga telah mengembalikan pasien ke ruang perawatan secara bertahap dengan tetap mempertimbangkan antisipasi risiko yang mungkin terjadi.
"Tidak ada korban jiwa yang diakibatkan oleh bencana gempa bumi yang berdampak pada RSUA," ucapnya.
Martha juga menegaskan, saat ini pihaknya terus berkoordinasi dengan stakeholder terkait sebagai upaya antisipasi lanjutan.
BMKG sendiri telah mengganti nomenklatur gempa Tuban dengan gempa Bawean karena jarak gempa dengan magnitudo tertinggi 6,5 lebih dekat ke Bawean dari pada ke Tuban.