CIREMAITODAY.COM, INDRAMAYU – Lonjakan harga tepung tapioka atau aci di pasaran kian mencekik para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sektor olahan pangan. Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, produsen kerupuk khas daerah harus memutar otak agar usaha yang dirintis puluhan tahun tetap bertahan di tengah membumbungnya biaya produksi.
Kenaikan harga bahan baku utama tersebut dirasakan merangkak naik secara bertahap sejak Agustus lalu. Kondisi ini dinilai sangat memberatkan karena tapioka merupakan komponen vital dalam menjaga mutu dan cita rasa produk kerupuk lokal.
Perwakilan Padi Kapas Group, Yuda Prasetya mengungkapkan, lonjakan harga tepung tapioka terjadi sangat signifikan hanya dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir.
“Kenaikannya itu dari bulan delapan (Agustus) ya, bertahap. Dari angka Rp8.000, lalu ke Rp9.800, bulan kemarin menyentuh Rp11.000, sampai hari ini menyentuh angka Rp14.000 per kilogram,” ujar Yuda Prasetya, Jumat (23/10/2026).
Yuda menegaskan, pihaknya enggan berspekulasi menekan biaya produksi dengan beralih ke tapioka kualitas rendah. Hal itu dilakukan guna menjaga mutu kerupuk olahan agar tetap prima merupakan komitmen utama demi mempertahankan kepercayaan konsumen.
“Kalau kita ganti aci ke yang lebih murah, khawatirnya kualitas kita enggak terjaga. Sedangkan aci-aci premium tingkat satu yang benar-benar cita rasanya fresh, itu yang ada kenaikan,” tegasnya.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari para produsen dan pemasok tapioka, kenaikan harga komoditas tersebut dipicu oleh melambungnya harga bahan baku mentah, yakni singkong di tingkat petani.
Dampak lonjakan harga tapioka ini pun merembet pada harga jual produk jadi di tingkat konsumen. Kerupuk Padi Kapas yang menjadi salah satu oleh-oleh khas Indramayu terpaksa mengalami penyesuaian harga demi menutupi beban operasional.
“Per bulan April kemarin kenaikan kerupuk naik Rp20.000. Khususnya kerupuk kami dari harga Rp250.000 menjadi Rp270.000 per bal. Salah satu faktor utamanya ya karena aci yang juga meningkat harganya,” tuturnya.
Meski diterpa tekanan ekonomi, Yuda memastikan pihaknya belum mengambil langkah ekstrem seperti pengurangan tenaga kerja. Namun, kendala utama saat ini terletak pada ketidakmampuan produsen dalam memenuhi tingginya permintaan pasar akibat mahalnya modal bahan baku.
Penyesuaian harga jual ini berdampak langsung pada daya beli dan volume pemesanan dari para agen maupun konsumen. Penurunan omset bisnis bahkan mencatatkan angka yang cukup dramatis.
“Pesanan konsumen menurun juga. Yang biasanya pesan 100 bal setiap satu minggu sekali, ini jadi dua minggu sekali, bahkan ada yang satu bulan sekali. Penurunan omset bisa sampai 40 persen,” kata Yuda.
Selain persoalan harga, proses produksi kerupuk juga memiliki kendala teknis tersendiri dalam pengelolaan stok bahan baku. Tepung tapioka yang dibeli tidak bisa langsung diolah saat itu juga, melainkan membutuhkan masa penyimpanan khusus.
“Aci yang dibeli bulan sekarang, baru bisa dipakai bulan depan. Jadi ada jangka waktu kurang lebih satu bulan baru siap diproduksi. Kendalanya, kita harus memenuhi kebutuhan pasar, tapi tidak bisa memenuhi stok di gudang karena harganya tidak terjangkau,” pungkasnya.
Para pelaku usaha UMKM kerupuk di Indramayu berharap pemerintah dan pihak terkait dapat segera menstabilkan harga tepung tapioka di pasaran. Kepastian harga bahan baku sangat dibutuhkan agar ekosistem usaha kecil tetap bergeliat dan daya beli masyarakat kembali pulih.
The post Pengusaha Kerupuk di Indramayu Keluhkan Tingginya Harga Tepung Tapioka appeared first on Ciremai Today.