CIREMAITODAY.COM, KUNINGAN – Udara sejuk menyambut siapa pun yang datang ke kawasan Desa Puncak, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Di tengah hamparan hijau perkebunan, tanaman kopi tumbuh di antara kontur tanah pegunungan yang berada pada ketinggian hingga 1.200 meter di atas permukaan laut.
Di tempat inilah secangkir kopi tidak sekadar berbicara tentang rasa. Ada cerita tentang kebun, petani, ketekunan, hingga sebuah mimpi untuk membawa nama kopi Kuningan ke pasar dunia.
Robi Taufik, pengelola Kopi Botanika sekaligus Ketua Kelompok Tani Pasir Tengah, menjadi salah satu orang yang ikut merawat mimpi tersebut.
Perjalanan berkebun kopi di kawasan itu sebenarnya sudah dimulai sejak 2000-an. Namun, pengembangan kembali dilakukan secara lebih serius sejak 2022.
Dari sana, kebun mulai diperluas. Sekitar 10.000 pohon kopi ditanam di lahan seluas 16 hektare. Tak berhenti di lahan inti, kelompok tani juga membangun kemitraan dengan petani yang mengelola lahan hampir 25 hektare.
“Untuk penanaman pertama kita di 10.000 pohon dengan area kita di 16 hektar. Dan untuk mitra petani, kita sama mitra petani itu hampir 25 hektar,” ujar Robi kepada wartawan, Kamis (10/9).
Kini, kebun tersebut mampu menghasilkan sekitar 20 hingga 25 ton cherry kopi setiap tahun.
Angka itu tidak lahir dalam sekejap. Di baliknya ada tangan-tangan petani yang setiap hari merawat tanaman, menunggu buah matang, kemudian memilih satu per satu buah kopi yang berwarna merah.
Hampir 30 petani kini terlibat dalam pengembangan kopi tersebut. Padahal pada masa awal, jumlahnya hanya sekitar lima hingga 10 orang.
“Awal-awal memang dari lima sampai 10 orang. Dan alhamdulillah tahun ke tahun kita lebih meningkat lagi,” kata Robi.
Tanaman Kopi yang sedang berbuah di Perkebunan Kopi Botanika Desa Puncak, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Foto: Tarjoni/Ciremaitoday
Merawat Rasa dari Ketinggian
Di kebun itu, Arabika menjadi pemeran utama.
Sekitar 70 persen tanaman kopi yang dikembangkan merupakan jenis Arabika. Sisanya Robusta, sementara Liberika masih dalam tahap pengembangan.
Kondisi geografis menjadi salah satu modal penting. Perkebunan berada pada ketinggian sekitar 750 hingga 1.200 mdpl.
Buah kopi tidak sekadar dipetik. Robi dan para petani menerapkan petik merah untuk menjaga kualitas bahan baku.
Hasilnya adalah karakter kopi yang menurut Robi memiliki rasa manis, smooth, dengan sentuhan fruity yang lebih terasa.
“Kita di sini cenderung kopinya lebih manis, smooth, untuk buahnya juga lebih ada. Untuk fruity-nya cenderung gaya Arabika,” tuturnya.
Bagi penikmat kopi, karakter rasa tersebut menjadi bagian dari identitas yang ingin terus dipertahankan.
Sebab, kopi yang baik bukan hanya soal bagaimana biji diproses. Ceritanya sudah dimulai jauh sebelum biji masuk mesin sangrai. Cerita itu dimulai dari tanah, ketinggian, tanaman, cuaca, hingga tangan petani yang memilih buah terbaik.
Ketika Kopi Mulai Dilirik
Ada masa ketika kopi Kuningan belum banyak dilirik. Kini situasinya perlahan berubah.
Nilai jual kopi semakin meningkat seiring terbukanya pasar. Untuk green bean Arabika petik merah, harganya disebut bisa mencapai sekitar Rp170 ribu per kilogram. Sementara Robusta berada di kisaran Rp85 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram.
Sebagian besar produk yang dipasarkan ke luar negeri masih berbentuk green bean.
Dari kebun di Cigugur, kopi itu kemudian berjalan lebih jauh. Thailand dan Jepang menjadi bagian dari perjalanan pasarnya. Sementara pasar Amerika Serikat juga mulai terbuka.
Di dalam negeri, pemasaran kopi bahkan disebut telah menjangkau hampir seluruh provinsi.
Bagi Robi, terbukanya pasar bukan sekadar soal bertambahnya penjualan. Ada harapan lebih besar yang ikut tumbuh bersama tanaman kopi.
“Dampaknya ya kita bisa mengangkat lagi kopi Kuningan yang dulu pernah tidak ada, kita adakan kembali,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan cita-cita besar: menghidupkan kembali nama kopi Kuningan dan menjadikannya produk yang mampu bersaing di tingkat internasional.
Tanaman Kopi yang sedang berbunga di Perkebunan Kopi Botanika Desa Puncak, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Foto: Tarjoni/Ciremaitoday
Dari Cangkul hingga Pasar Dunia
Perjalanan tersebut tidak dilakukan sendirian.
Bank Indonesia turut memberikan pendampingan kepada pengembangan kopi Buana Ciremai. Dukungan diberikan dari sektor hulu hingga hilir.
Mulai dari peralatan perkebunan hingga pemasaran, pendampingan diberikan untuk memperkuat ekosistem kopi.
“Alhamdulillah untuk daya dukung dari BI mulai dari hulu ke hilir,” kata Robi.
Bagi petani, bantuan peralatan memang penting. Namun, membuka pintu pasar menjadi bagian lain yang tidak kalah menentukan.
Melalui berbagai kegiatan dan event, produk kopi binaan mendapat kesempatan memperkenalkan diri kepada pasar yang lebih luas.
Salah satu pengalaman penting terjadi ketika kopi binaan mendapat kesempatan dibawa ke World of Coffee di Bangkok.
Kesempatan tersebut bukan perkara mudah. Produk kopi dari berbagai daerah di Indonesia juga bersaing untuk mendapatkan ruang yang sama.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis, melihat kesempatan itu sebagai salah satu bukti kopi Buana Ciremai memiliki kualitas yang layak diperhitungkan.
Menurutnya, hasil cupping score kopi tersebut berada di atas 80 dan masuk kategori specialty coffee.
“Cupping score-nya juga tinggi, di atas 80-an. Nah, masuk ke specialty,” kata Wihujeng disela kunjungannya ke perkebunan Kopi Botanika.
Ia mengatakan produk kopi binaan yang berhasil dibawa ke World of Coffee di Bangkok harus bersaing dengan kopi dari berbagai daerah di Indonesia di bawah binaan kantor perwakilan Bank Indonesia.
“Harus bersaing dengan seluruh kopi yang ada di Indonesia binaan dari 46 kantor perwakilan, tapi ternyata bisa lolos untuk dibawa ke World of Coffee di Bangkok,” ujarnya.
Bagi Wihujeng, pencapaian tersebut menunjukkan kopi Buana Ciremai memiliki kualitas yang tidak kalah dibandingkan kopi dari daerah lain.
“Ini adalah salah satu indikator bahwa memang kopi kita enggak kaleng-kaleng, enggak kalah dengan produk kopi di daerah lainnya,” katanya.
Menanam Hari Ini, Memanen Harapan Esok Hari
Namun, perjalanan kopi Kuningan belum selesai.
Robi masih melihat banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Saat ini perhatian utamanya tetap berada di sektor hulu. Perkebunan perlu diperkuat sebelum pengembangan dilakukan lebih jauh.
Setelah fondasi perkebunan semakin kuat, ia ingin membawa orang lebih dekat dengan kopi melalui edukasi.
Rencana itu sedang disiapkan secara bertahap dan ditargetkan dapat direalisasikan dalam satu hingga dua tahun mendatang.
Nantinya, kebun bukan hanya menjadi tempat tanaman kopi tumbuh. Ia diharapkan menjadi ruang bagi orang untuk belajar mengenal kopi sejak dari pohon hingga menjadi minuman di dalam cangkir.
Di lereng Cigugur, perjalanan itu masih berlangsung.
Satu demi satu buah merah dipetik. Biji kopi diproses. Green bean dikemas. Sebagian kemudian menempuh perjalanan menuju berbagai daerah, bahkan melintasi batas negara.
Dari kebun yang berada di antara kesejukan pegunungan Kuningan, sebuah cerita perlahan menemukan jalannya sendiri.
Kopi yang dulu kurang dilirik kini mulai mengetuk pintu pasar dunia.
Dan bagi para petani, setiap buah kopi yang dipetik bukan hanya hasil panen. Di dalamnya ada harapan agar kesejahteraan meningkat, petani terus bertahan, dan nama kopi Kuningan kembali dikenal bukan hanya di negeri sendiri, tetapi juga di meja-meja penikmat kopi di berbagai penjuru dunia.