CIREMAITODAY.COM, CIREBON – Sebanyak 464 santri dari pondok pesantren dan sekolah Islam di Jawa Barat turun dalam Kejuaraan Santri Ngojay Berprestasi Se-Jawa Barat 2026.
Kompetisi renang tersebut berlangsung di Kolam Renang Apita, Kabupaten Cirebon, Sabtu (12/9/2026).
Para santri bersaing dalam berbagai nomor renang. Peserta berasal dari sejumlah jenjang pendidikan, mulai dari TK hingga SMA sederajat.
Dari total peserta, tercatat 282 atlet putra dan 186 atlet putri. Mereka mengikuti sejumlah nomor perlombaan yang disiapkan panitia.
Pesantren Jadi Ruang Pengembangan Bakat
Kejuaraan ini secara khusus mempertemukan santri dari lingkungan pondok pesantren dan sekolah Islam.
Nomor yang dipertandingkan antara lain 25 meter gaya kupu-kupu, gaya punggung, gaya dada, dan gaya bebas.
Ada pula nomor 25 meter gaya bebas fins, 25 meter papan kaki gaya bebas, 25 meter papan kaki gaya dada, serta 50 meter gaya bebas.
Kategori lomba dibagi berdasarkan jenjang pendidikan. Mulai TK, SD/MI/MD kelas 1-6, SMP/MTs kelas 7-9, hingga SMA/MA kelas 10-12.
Panitia juga memberikan penghargaan kejuaraan papan dan kejuaraan umum.
Ketua Umum Akuatik Kabupaten Cirebon Yudi Kurniawan mengatakan kejuaraan tersebut mendapat dukungan dari para orang tua atlet.
“Terima kasih kepada semua orang tua atlet yang mau mengikutsertakan anaknya dalam kegiatan Kejuaraan Santri Ngojay Berprestasi Se-Jawa Barat 2026,” ujar Yudi.
Menurut Yudi, kejuaraan tersebut berawal dari gagasan Dewan Pembina Akuatik Kabupaten Cirebon Dr. M. Habib Khaerussani.
Gagasan itu muncul untuk semakin melibatkan santri dalam pembinaan olahraga.
“Kegiatan ini digagas oleh Dewan Pembina Akuatik Kabupaten Cirebon Dr. M. Habib Khaerussani yang ingin banyak melibatkan para santri yang berada dalam lingkungan pondok pesantren. Tentunya dengan persetujuan dari Ketua Akuatik Jawa Barat,” katanya.
Santri Tak Hanya Belajar Agama
Dewan Pembina Akuatik Kabupaten Cirebon Dr. M. Habib Khaerussani atau Gus Habib mengatakan santri memiliki potensi besar di luar bidang keagamaan.
Menurutnya, bakat olahraga perlu dikembangkan sejak usia dini. Lingkungan pesantren juga dapat menjadi tempat pembinaan atlet muda.
“Para santri bukan hanya hafal Al-Qur’an, tetapi juga bisa mengembangkan keterampilan olahraga yang mereka miliki dan sudah menjadi bakat sejak kecil,” ujarnya.
Gus Habib berharap kejuaraan tersebut tidak berhenti sebagai ajang perlombaan. Ia ingin kegiatan itu menjadi bagian dari pembinaan berkelanjutan.
Dengan pembinaan yang konsisten, para santri berprestasi diharapkan dapat berkembang hingga level yang lebih tinggi.
Ketua KONI Kabupaten Cirebon H. Agus Budiman Kurniawan atau Ji Gus juga memberikan apresiasi terhadap kejuaraan tersebut.
“Atas nama Pemkab Cirebon dan KONI, kami mengapresiasi Akuatik Kabupaten Cirebon dan segenap panitia yang bisa menyelenggarakan kegiatan ini dengan sukses,” kata Agus.
Menurut Agus, kompetisi usia dini penting untuk menemukan bibit atlet sekaligus membentuk mental juara.
Ia juga menilai keterampilan olahraga dapat menjadi bekal tambahan bagi generasi muda
“Santri selain memiliki dasar agama dan adab yang baik, serta hafal Al-Qur’an, juga harus mengembangkan bakat dan keterampilan olahraga. Dengan begitu, mereka memiliki tambahan keterampilan, khususnya di bidang renang,” tuturnya.
Bibit Atlet dari Pesantren
Kejuaraan tersebut dibuka Ketua Akuatik Jawa Barat Ir. Verdian Yosep, SE.
Verdian mengaku bangga melihat pembinaan olahraga yang mulai melibatkan santri dari lingkungan pesantren.
Ia berharap atlet yang menunjukkan prestasi tidak berhenti setelah mengikuti satu kejuaraan.
“Kami berharap para atlet berprestasi ini bisa terus dikembangkan dan dicetak menjadi bibit unggul,” ujarnya.
Verdian juga mengapresiasi dukungan para orang tua.
Menurutnya, dukungan keluarga menjadi salah satu faktor penting dalam perjalanan atlet menuju prestasi.
“Terima kasih kepada orang tua atlet yang sudah mendukung anaknya untuk meraih prestasi dan menjadi anak yang berguna bagi negara,” katanya.
Kejuaraan Santri Ngojay Berprestasi Se-Jawa Barat 2026 menjadi ruang bagi santri untuk menunjukkan kemampuan di bidang olahraga.
Dari lingkungan pesantren, bakat renang para santri mulai mendapat panggung. Mereka tidak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga pesantren dan daerah masing-masing.
The post Bukan Hanya Belajar Agama, Mengapa Santri Kini Didorong Berprestasi di Kolam Renang? appeared first on Ciremai Today.