Bagi sebagian orang tua, anak yang terus bertanya "kenapa?" mungkin terasa melelahkan. Namun, bagi Sofhi, ibu dari Nala, setiap pertanyaan justru menjadi pintu masuk untuk mengenali minat putrinya.
Perjalanan itu bahkan dimulai dari sebuah kata yang terdengar sederhana, yaitu “Metamorfosis.” Saat Nala berusia sekitar 1,5 tahun, Shofi dan suaminya sedang membacakan buku. Ketika kata "metamorfosis" diucapkan, Nala justru tertawa. Bukan sekali, tetapi berulang kali setiap kata itu diucapkan.
Momen kecil tersebut membuat keduanya menyadari bahwa putrinya memiliki ketertarikan pada kosakata yang tidak biasa.
"Pas kita ucapkan tuh kata metamorfosis, Nala tuh ketawa-tawa. Kita ulang dan dia ketawa lagi, ketawa lagi. Jadi kita lihat, ‘oh kayaknya ini anak excited nih saat mendengar suatu kata yang mungkin agak aneh’, agak unik gitu,” ucap Shofi saat diwawancarai kumparanMOM dalam program Cerita Ibu, Sabtu (4/7).
Sejak saat itu, Shofi mulai menyediakan lebih banyak buku dengan kosakata yang lebih kompleks. Ia juga memantau perkembangan bahasa Nala menggunakan acuan tumbuh kembang anak. Hasilnya membuat mereka semakin yakin bahwa Nala memiliki kemampuan linguistik yang menonjol dibanding anak seusianya.
Mengikuti Minat, Bukan Menentukan Masa Depan
Berbagai buku mulai memenuhi rumah mereka, mulai dari dinosaurus, teknik, hingga tubuh manusia. Dari semua pilihan itu, Nala hampir selalu mengambil buku anatomi.
Melihat ketertarikan tersebut, Shofi dan suami tidak berhenti di buku. Mereka membelikan alat peraga organ tubuh, membuat lagu anatomi dengan melodi lagu anak yang sudah dikenal, hingga mengajak Nala belajar lewat permainan.
Menariknya, kedua orang tua Nala sama sekali bukan berlatar belakang dunia kesehatan.
“Banyak yang menganggap saya sama ayahnya Nala itu dokter atau bekerja di bidang kesehatan. Kita bidangnya nggak di sana. Saya lulusan ekonomi, walaupun SMA-nya IPA,” ucapnya.
Cerita ibu Nalapedia. Foto: kumparan
Rasa ingin tahu Nala kemudian membawa keluarga ini berkunjung ke Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI). Berawal dari sebuah email, Nala mendapat kesempatan bertemu dokter dari berbagai subspesialis, melihat alat operasi modern, hingga belajar langsung dari para tenaga kesehatan menggunakan alat peraga.
Meski demikian, Shofi tetap membatasi materi yang diterima putrinya. Hingga kini, Nala belum diperkenalkan pada organ tubuh asli maupun kadaver karena dinilai belum sesuai dengan usianya.
Belajar Tak Selalu Duduk Membaca Buku
Di media sosial, banyak orang mengira keseharian Nala hanya diisi dengan belajar anatomi. Padahal, menurut Shofi, definisi belajar di keluarganya jauh lebih luas.
Belajar bukan hanya membaca buku atau menghafal materi, tetapi juga mengenal emosi, bermain bersama adik, bersosialisasi, hingga membiasakan diri bertanya tentang apa pun yang ditemui.
“Kita membiasakan Nala untuk bertanya, ‘kenapa? kenapa?” Bahkan waktu awal-awal kita belajar tentang sistem pernapasan, ayo kita coba tarik napas. ‘Kenapa dada kita mengembang?’ Kita membiasakan Nala bertanya kenapa atas hal-hal yang ada di dunia ini,” imbuh ibu dua anak itu.
Menurut Shofi, tugas orang tua bukan sekadar memberikan jawaban, melainkan menciptakan ruang yang aman agar anak tidak takut bertanya.
Ia percaya, ketika anak merasa dihakimi karena tidak tahu sesuatu, rasa ingin tahunya perlahan akan menghilang. Karena itu, ia dan suami selalu berusaha menjadi tempat yang nyaman bagi Nala untuk bereksplorasi.
Selain itu, berbagai kegiatan seperti les vokal, berenang, matematika, mengaji, hingga balet bukan dimaksudkan untuk membuat Nala sibuk. Semua aktivitas tersebut justru menjadi cara bagi mereka membantu anak menemukan apa yang benar-benar disukainya.
Di Balik Kepopuleran Nala, Ada Pesan untuk Semua Orang Tua
Popularitas akun @nalapedia.story membuat banyak orang tua berharap anak mereka bisa seperti Nala. Namun, Shofi selalu mengingatkan bahwa setiap anak memiliki potensi dan jalan yang berbeda.
Bahkan dua anak yang lahir dari orang tua, rumah, dan pola asuh yang sama pun tetap memiliki kebutuhan yang berbeda.
Karena itu, ia mengajak para orang tua untuk berhenti membandingkan anak dan mulai lebih banyak mengamati mereka.
“Jadi, saya sangat menyarankan untuk orang tua daripada kita sibuk membanding-bandingkan anak, lebih baik kita sibuk menemani anak, mengamati anak, memfasilitasi, mengetahui bagaimana perasaannya mereka, apa yang membuat mereka senang. Karena mau bagaimanapun seharusnya memang orang tualah yang paling ngerti anak,” tegasnya.
Bagi Shofi, anatomi bukanlah tujuan akhir bagi Nala. Bisa saja beberapa tahun lagi minat putrinya berubah ke bidang lain. Yang ingin ia tanamkan sejak dini adalah keberanian untuk terus belajar, mengenali diri sendiri, dan memiliki fondasi yang kuat.
Sebab pada akhirnya, menurut Shofi, keberhasilan bukan diukur dari profesi yang dipilih anak, melainkan dari kemampuannya menjadi versi terbaik dirinya sendiri, tanpa kehilangan arah di tengah berbagai pengaruh yang akan datang seiring bertambahnya usia.