Kapan Harus Berhenti Lari Sebelum Tumbang? Ini Kata Dokter Spesialis Olahraga - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Kapan Harus Berhenti Lari Sebelum Tumbang? Ini Kata Dokter Spesialis Olahraga
Jun 7th 2026, 19:44 by kumparanWOMAN

Ilustrasi perempuan lari. Foto: BongkarnGraphic/Shutterstock
Ilustrasi perempuan lari. Foto: BongkarnGraphic/Shutterstock

Saat ini, lari menjadi cabang olahraga yang digemari berbagai kalangan, dari generasi muda hingga lansia. Tak hanya mudah dilakukan, olahraga kardio ini memiliki segudang manfaat kesehatan fisik. Meski begitu, ada momen di mana lari bisa berbahaya bagi kondisimu.

Dilansir WebMD, olahraga lari mampu memperkuat jantung dan mendorong kesehatan kardiovaskular. Menurut sebuah studi, risiko pelari meninggal dunia akibat penyakit jantung 50 persen lebih rendah ketimbang orang yang tidak rajin berlari. Tak hanya itu, lari bisa memperkuat otot, memperbaiki pola tidur, serta meningkatkan suasana hati.

Namun, lari bisa menjadi berbahaya bila tidak dilakukan dengan benar. Jika tidak mengenali sinyal-sinyal yang diberikan oleh tubuh, besar risiko seseorang mengalami cedera dan pingsan alias “tumbang”. Hal ini disampaikan oleh Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, dr. Andi Kurniawan, Sp.KO, saat diwawancarai kumparanWOMAN.

Ilustrasi nyeri otot setelah lari. Foto: Asian Isolated/Shutterstock
Ilustrasi nyeri otot setelah lari. Foto: Asian Isolated/Shutterstock

dr. Andi mengatakan, dalam berlari, hal yang terpenting adalah mendengarkan tubuh dan gejala yang ditunjukkan tubuh saat berlari, bukan melulu angka heart rate (detak jantung) yang ditampilkan oleh smartwatch.

“Saya selalu tekankan kepada runner bahwa yang paling bisa diandalkan itu gejala pada tubuh. Jadi, listen to your body, bukan hanya angka di jam tangan,” jelas Andi pada Jumat (5/6).

Menurut Andi, ada beberapa gejala tubuh yang menjadi indikasi bahwa seorang pelari harus segera menghentikan larinya. Yang pertama adalah nyeri atau rasa berat di bagian dada, termasuk jika rasa nyerinya sudah menjalar ke rahang, lengan kiri, dan punggung.

“Lalu, sesak napas atau kesulitan bernapas yang tidak wajar dibanding intensitas yang sedang dijalani. Selanjutnya adalah pusing berputar atau rasa mau pingsan atau near-syncope, termasuk jantung berdebar tidak beraturan atau palpitasi,” ungkap Andi.

Ilustrasi perempuan pingsan. Foto: Nattanan Zia/Shutterstock
Ilustrasi perempuan pingsan. Foto: Nattanan Zia/Shutterstock

Keringat dingin, rasa mual, hingga pandangan yang mulai kabur juga menjadi penanda bahwa lari harus segera dihentikan. Jika berlari di area dengan udara panas seperti di Jakarta, gejala heat stroke juga wajib diwaspadai.

“Di iklim tropis Jakarta, tambahkan tanda heat illness, yaitu rasa bingung dan disorientasi. Itu adalah red flag dari heat stroke. Kalau muncul salah satu gejala di atas, berhentilah; berapa pun angka di jam pintar. Gejala mengalahkan angka,” tegas Andi.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url