Ilustrasi Perempuan Generasi Sandwich. Foto: Getty Images
Seiring bertambahnya usia, nggak sedikit orang menjalani peran sebagai generasi sandwich dalam keluarga mereka. Dalam kondisi ini, seseorang dituntut untuk tetap hadir bagi anak sekaligus orang tua secara bersamaan.
Dikutip dari laman The Ohio State University, istilah generasi sandwich pertama kali dikenalkan oleh pekerja sosial bernama Dorothy Miller pada 1981. Saat itu, istilah ini digunakan untuk menggambarkan perempuan usia 30-40 tahun yang terhimpit beban untuk membiayai 2 generasi berbeda, yaitu anak dan orang tua lanjut usia.
Fenomena seperti ini bisa dialami siapa saja, termasuk sejumlah teman kumparan. Mereka juga merasakan tantangan saat harus membagi waktu, perhatian, tenaga, hingga fokus untuk keluarga di tengah padatnya aktivitas sehari-hari.
Ingin tahu seperti apa perjuangan mereka saat menjalani dua peran tersebut secara bersamaan? Yuk, simak cerita selengkapnya di bawah ini!
Cerita Perempuan Generasi Sandwich
Ilustrasi Perempuan Generasi Sandwich. Foto: Hananeko_Studio/Shutterstock
Salah satu teman kumparan yang menjalani peran sebagai generasi sandwich adalah Dinda (29). Setiap hari, ia harus membagi waktu antara mengurus anak dan menemani ibunya yang sedang sakit.
“Pagi urus anak sebelum sekolah, siang kerja, malam gantian nemenin ibu kontrol kesehatan,” ujarnya.
Meski sudah terbiasa dengan rutinitas tersebut, Dinda mengaku tetap sering merasa kewalahan. Alhasil, secara tak sadar, ia beberapa kali lebih fokus pada salah satu peran saja, dan itu membuatnya merasa bersalah karena belum bisa hadir sepenuhnya untuk keduanya.
Nggak bisa dipungkiri, kesibukan sangat menguras energinya. Bahkan menurut Dinda, lelah yang dirasakan bisa berkali-kali lipat. “Kadang aku ngerasa capeknya tuh double,” ungkapnya.
Hal serupa juga dirasakan oleh Metha Tri (39), member teman kumparanMOM Squad 5. Saat ibunya sakit, Metha harus mengurus hampir seluruh kebutuhan sang ibu, mulai dari menyiapkan makanan, menemani check up ke dokter, mengingatkan minum obat, sampai mendampingi ke kamar mandi.
Di saat yang sama, Metha juga tetap menjalani perannya sebagai istri dan ibu di rumah. Ia harus memastikan keluarganya tetap terurus, sambil terus mendampingi sang ibu yang kondisinya semakin menurun dari waktu ke waktu.
Sampai akhirnya, pada November 2025 lalu, ibunda Metha berpulang setelah kurang lebih satu tahun berjuang melawan sakit. Ini menjadi momen yang sangat berat untuk Metha, bahkan rasa rindunya kepada sang ibu masih terasa sampai sekarang.
Ilustrasi Wanita Generasi Sandwich. Foto: fizkes/Shutterstock
Cerita terakhir datang dari teman kumparan Siska (31). Sebagai generasi sandwich, ia merasa tantangan terbesar bukan cuma soal finansial, tapi juga waktu dan pikiran yang terus terbagi ke banyak hal. “Lagi main sama anak, tiba-tiba kepikiran ayah belum minum obat,” ucapnya.
Situasi itu sering membuat Siska merasa serba salah dan kewalahan. Apalagi ketika ia harus menjaga orang tua, sementara di rumah ada anak yang juga sedang butuh perhatian dan quality time bersama ibunya. Meski melelahkan, Siska tetap berusaha menjalani semua peran itu sebaik mungkin setiap harinya.
Nikmati serunya sharing hal-hal seru dengan ribuan teman baru di komunitas teman kumparan. Klik kum.pr/temankumparan