Hukkam, mahasiswa WNI yang pulang dari Iran saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (10/3/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan
Menteri Luar Negeri Sugiono mengungkap kondisi di Iran berjalan normal meskipun perang tengah terjadi. Hal itu disampaikannya saat mendampingi kepulangan 22 warga negara Indonesia dari Iran yang tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (10/3).
"Sebenarnya situasinya itu relatif under control. Kemudian masyarakat juga banyak yang masih melakukan kegiatan-kegiatan normal seperti biasa," ucap Sugiono.
Kondisi tersebut dibenarkan oleh Hukkam (25), salah satu WNI yang pulang dari Iran. Ia menyebutkan jalanan di Kota Teheran berlangsung normal, bahkan cenderung ramai.
"Untuk jalanan di ibu kota sendiri, di Kota Teheran, saat saya masih di sana itu masih normal. Dan ketika dari meeting point menuju ke bandara itu terbilang cukup ramai," ungkap Hukkam.
Hukkam mengungkapkan pasokan pangan di sana terbilang aman dan toko-toko beroperasi seperti biasanya. Bahkan, kata Hukkam, masyarakat di sana mengupayakan agar pasokan pangan tetap terjaga.
"Untuk bahan sembako itu masih terbilang cukup aman. Terutama toko-toko seperti toko kelontong, warung-warung, itu masih buka. Masih operasional, masih buka sampai jam 11 malam," tutur Hukkam.
"Mereka masih mengutamakan rakyat Iran, apalagi warga negara asing seperti kami cukup dekat dengan warung kelontong yang ada di asrama. Memang mereka mengupayakan agar terjaga lah sembako-sembako seperti beras, minyak, telur, dan lain-lain," sambungnya.
Menlu Sugiono memberikan keterangan pers saat menyambut WNI yang tinggal di Iran tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Dengan demikian, Hukkam menegaskan tidak terjadi kelangkaan pasokan pangan. Bahkan sebagai warga negara asing, ia mengaku akses terhadap pangan justru mudah.
"Gampang, mudah. Karena memang di sana itu untuk warga negara asing sangat welcome. Dipermudah lah karena memang kekerabatan antara Indonesia dan Iran cukup solid," ungkap Hukkam.
Libur Nasional Saat Khamenei Wafat
Meski begitu, libur nasional di Iran sempat diberlakukan pada Sabtu (1/3) setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Salah satu WNI dari Iran lainnya, Jawad (26), mengatakan Iran memberlakukan tujuh hari libur nasional dan 40 hari masa berkabung.
"Pada tanggal 1 Maret dini hari, ketika Amerika dan Israel menewaskan pemimpin tertinggi Islam Iran yaitu Ayatollah Ali Khamenei, pemerintah Iran memutuskan untuk menyatakan tujuh hari libur nasional dan 40 hari berduka," ungkap Jawad.
WNI yang tinggal di Iran tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Ketika libur nasional terjadi, Jawad mengatakan semua bank dan sekolah di Iran tidak beroperasi alias tutup.
"Sebenarnya kondisinya karena memang libur, libur nasional, bank-bank, sekolah semuanya tutup," ucap Jawad.
Internet Terbatas
Selain itu, Jawad juga menceritakan akses internet internasional dibatasi oleh pemerintah Iran ketika perang terjadi. Hal itu terjadi sejak Sabtu (28/2) saat serangan pertama kali terjadi di Iran.
"Sejak serangan pertama pada tanggal 28 Februari pada pukul 10 pagi, pemerintah Iran sudah memutus jaringan internet internasional," kata Jawad.
Akses internet internasional yang dimaksud, kata Jawad, berkaitan dengan aplikasi buatan non-Iran. Dengan begitu, komunikasi Jawad sempat terbatas dengan keluarga di Indonesia.
"Aplikasi-aplikasi buatan non-Iran seperti WhatsApp, Telegram, Facebook, dan lain sebagainya sudah diputus. Jadi kami untuk memberi kabar ke Indonesia sangat terbatas," tutur Jawad.
Tajammu Bermunculan di Iran
Namun, Jawad menceritakan situasi perang, khususnya setelah wafatnya Khamenei, justru membuat masyarakat Iran aktif membuat perkumpulan berupa aksi massa. Dalam istilah di sana, Jawad menyebutnya sebagai tajammu.
"Jadi semakin ada yang syahid, semakin ada yang perang, semakin ditembak, semakin ditonjok, masyarakat Iran semakin membabi buta untuk melakukan perkumpulan, meneriakkan slogan-slogan mereka," kata Jawad.
Bahkan Jawad mengatakan di Kota Teheran yang merupakan salah satu titik sasaran utama penyerangan justru terdapat tajammu yang lebih masif dibandingkan kota-kota lain.
"Walaupun sebenarnya kota yang berdampak perang seperti di Teheran, itu sama, tajammu-nya, perkumpulannya bahkan lebih besar daripada kota-kota lain," ucap Jawad.
Jawad pun menjelaskan lebih rinci mengenai tajammu yang terjadi di sana. Informasi tersebut ia ketahui sebab ia bersama istrinya sempat mengikuti tajammu.
"Di sana tuh banyak sekali bundaran-bundaran atau perempatan-perempatan yang menjadi titik kumpul. Jadi mereka berkumpul di satu titik tempat tersebut, ada satu orang yang misalnya orasi segala macam, meneriakkan yaitu tadi keberanian mereka, ketidaktakutan mereka dan segala macam," jelas Jawad.