Siapa yang Menetapkan Cantik Itu Putih? Mari Kita Bongkar Rahasia Wanita Sunda - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Siapa yang Menetapkan Cantik Itu Putih? Mari Kita Bongkar Rahasia Wanita Sunda
Mar 12th 2026, 18:00 by Qonita Rofilah

Ilustrasi gambar ini menggunakan GeminiAI
Ilustrasi gambar ini menggunakan GeminiAI

Di ruang sosial kita, perempuan Sunda kerap hadir dalam satu citra yang nyaris seragam: cantik, berkulit putih, ramah, dan lemah lembut. Gambaran ini berulang kali muncul dalam iklan, sinetron, hingga percakapan sehari-hari. Lama-kelamaan, citra tersebut tak lagi sekadar gambaran, melainkan berubah menjadi mitos yang dianggap wajar dan tak perlu dipertanyakan.

Standar kecantikan perempuan Sunda sering direduksi pada persoalan fisik, terutama warna kulit. Putih diposisikan sebagai simbol kecantikan, kebersihan, dan keanggunan. Akibatnya, perempuan Sunda yang memiliki kulit sawo matang atau gelap kerap luput dari pengakuan, bahkan tak jarang merasa "kurang" di ruangnya sendiri. Kecantikan yang seharusnya beragam justru disempitkan oleh satu standar dominan.

Media memiliki peran besar dalam membentuk dan merawat stereotip ini. Perempuan Sunda yang tampil di layar kaca atau media digital umumnya memenuhi kriteria visual tertentu: kulit cerah, tubuh ramping, dan tutur kata lembut. Representasi yang berulang ini membuat publik seolah percaya bahwa begitulah "paket lengkap" perempuan Sunda. Padahal, realitas di lapangan jauh lebih kompleks dan berwarna.

Masalahnya tidak berhenti pada soal penampilan. Stereotip kecantikan ini kerap berjalan beriringan dengan anggapan bahwa perempuan Sunda harus selalu santun, penurut, dan tidak terlalu vokal. Ketika ada perempuan Sunda yang tampil tegas, kritis, atau berani bersuara, ia sering dianggap menyimpang dari citra ideal yang selama ini dibangun. Di titik ini, stereotip bukan lagi sekadar label, melainkan alat pembatas.

Tekanan untuk memenuhi standar tersebut tidak jarang berujung pada praktik-praktik yang merugikan. Obsesi terhadap kulit putih mendorong maraknya produk pemutih dan perawatan instan, sementara aspek lain seperti kesehatan mental, kapasitas intelektual, dan peran sosial justru terpinggirkan. Perempuan dinilai lebih dulu dari rupa, bukan dari gagasan atau kontribusinya.

Membongkar stereotip tentang perempuan Sunda bukan berarti menafikan identitas budaya. Sebaliknya, ini adalah upaya untuk mengembalikan makna budaya ke tempat yang lebih adil. Sunda tidak tunggal, begitu pula perempuan Sundanya. Ada yang berkulit terang, ada yang gelap; ada yang lembut, ada yang lantang; semuanya sama-sama sah.

Sudah saatnya kita berhenti merayakan mitos kecantikan yang sempit dan mulai membuka ruang bagi representasi yang lebih jujur. Perempuan Sunda bukan simbol estetika semata, melainkan individu dengan identitas, pilihan, dan suara yang beragam. Dan seperti masyarakatnya, mereka berhak didefinisikan oleh dirinya sendiri, bukan oleh stereotip yang diwariskan turun-temurun.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url