Ilustrasi anak belajar puasa. Foto: Merchant BD/Shutterstock
Puasa menjadi salah satu ibadah yang perlu diajarkan ke anak, dan sudah bisa diperkenalkan secara bertahap sejak kecil. Namun, ketika anak mulai menunjukkan minat belajar puasa, ada beberapa orang tua yang justru khawatir puasa dapat mengganggu pertumbuhan anak. Benarkah begitu?
Kekhawatiran soal asupan nutrisi, energi, hingga tinggi badan memang wajar, tapi penting untuk memahami fakta medis di baliknya agar orang tua bisa mengambil keputusan yang bijak.
Menurut dokter spesialis anak, dr. Reza Abdussalam, Sp.A, sebelum mengajarkan anak berpuasa, ada beberapa indikator yang perlu diperhatikan, yaitu:
Anak sudah mulai bisa menunjukkan atau mengutarakan rasa lapar maupun haus dengan jelas
Telah mengerti konsep atau pemahaman dasar tentang puasa
Sudah menunjukkan ketertarikan dan keinginan untuk berpuasa
Kondisi kesehatan yang baik dan tidak mengidap penyakit kronik
"Oleh karena itu, orang tua harus mempertimbangkan apakah anak ini memiliki tumbuh kembang atau berat, serta perkembangan yang sesuai dengan usianya," tutur dr. Reza kepada kumparanMOM.
Kapan Puasa Dianggap Berpotensi Mengganggu Pertumbuhan Anak?
Ilustrasi tinggi badan anak. Foto: Pixel-Shot/Shutterstock
Nah Moms, dr. Reza menyebut puasa pada anak berpotensi mengganggu pertumbuhan jika asupan nutrisi yang diberikan tidak adekuat. Biasanya, dampak yang akan terjadi adalah si kecil jadi kekurangan energi dan gizi, dehidrasi, hingga penurunan berat badan.
"Risiko gangguan tumbuh kembang lebih tinggi terjadi jika anak dipaksakan dan belum siap puasa, terutama anak yang masih balita," tegas dr. Reza.
Namun, puasa yang diiringi dengan pemberian gizi seimbang dan dilakukan bertahap sesuai usianya tidak akan mengganggu tumbuh kembang anak.
Risiko yang Mungkin Terjadi Ketika Anak Belajar Puasa dan Bagaimana Mengatasinya
Di sisi lain, Anda perlu memahami beberapa risiko kesehatan yang mungkin bisa dialami anak. Misalnya, saat berpuasa, si kecil seringkali kurang cukup tidur dan kurang asupan kalori. Hal ini kerap membuat anak mengalami perubahan fokus dan mood dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari.
"Lalu, asupan gula yang berlebihan juga akan membuat anak mudah lelah setelah dia makan. Dan jika saat sahur atau berbuka tidak tercukupi kalori yang masuk akan menyebabkan penurunan energi dan dehidrasi," tutur dokter yang praktik di Brawijaya Hospitals Antasari itu.
Ilustrasi anak minum air putih. Foto: Shutterstock
Lantas, bagaimana cara mencegah risiko tersebut?
1. Cukupi Cairan
Penting untuk memastikan anak mengonsumsi air putih yang cukup, terutama saat sahur dan berbuka puasa.
2. Makanan dengan Menu Lengkap
Pemberian makanan sahur dan berbuka dengan komponen lengkap dapat membantu anak mendapat energi yang dibutuhkan. Jadi, pastikan menu yang disajikan mengandung karbohidrat, protein, lemak, serta serat.
3. Hindari Makanan Manis
Hindari memberikan makanan atau minuman dengan kandungan tinggi gula karena dapat menyebabkan anak mudah lelah
4. Atur Pola Tidur
Si kecil bisa diatur agar aktivitas fisik yang berat dapat dikurangi selama belajar puasa. Selain itu, ajak anak untuk tidur lebih awal dari biasanya, sehingga tidak mudah mengantuk dan lemas di keesokan harinya.
"Namun, jika anak mengalami lemas, pusing, nyeri kepala, hingga dehidrasi, maka anak harus segera membatalkan puasanya," pungkasnya.