Suasana objek wisata Guci, Tegal, Senin (16/2/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan pemerintah telah membentuk tim investigasi untuk menelusuri penyebab banjir bandang yang melanda kawasan wisata Guci, Kabupaten Tegal.
Hal tersebut disampaikan menanggapi dugaan adanya penebangan hutan yang menjadi penyebabnya.
"Kan sudah ada tim investigasinya juga sudah ada ya, baik dari pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten, saya juga sudah berkoordinasi," kata Pras di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (18/2).
Ia menjelaskan, pemerintah pusat juga melibatkan Kementerian Kehutanan untuk meninjau kondisi kawasan sekitar objek wisata Guci.
"Kemudian juga kami meminta dari Kementerian Kehutanan untuk juga melakukan review di wilayah sekitar tempat wisata Guci di Kabupaten Tegal itu. Ya nanti kita coba lihat kalau ini seperti apa kondisinya," ujarnya.
Pras menambahkan, mekanisme penanganan dan penelusuran penyebab banjir bandang di Guci akan dilakukan dengan pola yang sama seperti penanganan bencana di wilayah Sumatera.
"Sama seperti yang di tiga provinsi di Sumatera kan prosesnya juga seperti itu," katanya.
Objek wisata Guci, Kabupaten Tegal, Minggu (25/1/2026). Foto: Oky Lukmansyah/ANTARA FOTO
Sebelumnya, Ketua MPR Ahmad Muzani menyoroti adanya kemungkinan penebangan menjadi salah satu pemicu banjir bandang di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Bencana itu merusak kawasan wisata Guci.
"Iya, ini sudah hulu. Ini sebenarnya sudah hulu. Tapi di atasnya terjadi hujan yang lebih besar, kemudian ada kayak sepertinya ada penebangan," kata Muzani di kawasan wisata Guci, Tegal, Senin (16/2).
"Karena itu Pemerintah Kabupaten sedang berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan agar akan ada rencana penanaman kembali ya," lanjutnya.
Muzani menegaskan upaya pemulihan lingkungan akan dilakukan pada kawasan lereng Gunung Slamet.
"Sama Perhutani, penanaman kembali di lereng-lereng gunung, di lereng Gunung Slamet agar terjadi reboisasi kembali," kata dia.
Banjir bandang menerjang kawasan wisata tersebut pada Sabtu, 20 Desember 2025; dan Sabtu, 24 Januari 2026. Akibatnya, terjadi kerusakan parah pada infrastruktur serta akses utama menuju sejumlah objek wisata.
Tercatat tiga jembatan putus, yakni Jembatan Pancuran 13, Jembatan Pancuran 5, serta jembatan di kawasan Curug Jedor, sehingga mengganggu akses antar kawasan wisata dan permukiman warga.
Selain jembatan, banjir bandang juga merusak fasilitas pemandian air panas. Pancuran 5 dan Pancuran 13 dilaporkan hancur akibat derasnya arus banjir.