Sejarah Pasar Sore Ramadan Kauman di Gang Kampung Lahirnya Muhammadiyah - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Sejarah Pasar Sore Ramadan Kauman di Gang Kampung Lahirnya Muhammadiyah
Feb 24th 2026, 10:06 by kumparanNEWS

Suasana saat pengunjung memburu sejumlah kudapan di Pasar Sore Ramadan Kauman, Kampung Kauman, Jalan KH Ahmad Dahlan, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Suasana saat pengunjung memburu sejumlah kudapan di Pasar Sore Ramadan Kauman, Kampung Kauman, Jalan KH Ahmad Dahlan, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Sebuah gang di Kampung Kauman, Kota Yogyakarta, disulap menjadi pasar dadakan saat Ramadan. Dinamai Pasar Sore Ramadan Kauman.

Lokasinya berada di sekitar Jalan KH Ahmad Dahlan. Jaraknya sekitar 500 meter di sisi barat Titik Nol Yogyakarta atau kawasan Malioboro.

Pasar Sore Ramadan Kauman adalah salah satu tradisi khas yang tetap lestari di kampung lahirnya salah satu organisasi Islam di Indonesia, Muhammadiyah.

Gang Pasar Ramadan ini selayaknya gang kecil selebar satu meter yang banyak ditemui di Kauman. Rumah-rumah saling berhadapan, jalannya dari paving block.

Pada bulan di luar Ramadan, gang ini berfungsi seperti pada umumnya. Orang lalu-lalang dari kampung ke jalan raya atau sebaliknya.

Suasana saat pengunjung memburu sejumlah kudapan di Pasar Sore Ramadan Kauman, Kampung Kauman, Jalan KH Ahmad Dahlan, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Suasana saat pengunjung memburu sejumlah kudapan di Pasar Sore Ramadan Kauman, Kampung Kauman, Jalan KH Ahmad Dahlan, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Pasar Sore Ramadan Kauman disebut sebagai pasar sore Ramadan tertua di Kota Yogyakarta. Tahun ini ada 60 pedagang yang berjualan dari gapura masuk hingga ujung gang.

Pedagang berjualan di lapak selebar satu meter. Pukul 15.00 WIB, pengunjung mulai ramai berdatangan. Mereka rela berdesak-desakan di gang kecil, memburu sejumlah kudapan yang hanya ada saat Ramadan, misalnya kicak dan songgo buwono.

Sejarah Pasar Sore Ramadan Kauman

"Masalah yang tertua (sebagai pasar sore Ramadan) monggo. Tapi memang pasar sore ini mulai kita kelola secara resmi sejak 1 Ramadan 1996," kata Ketua RW 10 Kampung Kauman sekaligus Ketua Panitia Pasar Sore Ramadan Kauman, Muhammad Chawari (64), ditemui beberapa waktu lalu.

Chawari bercerita, dahulu RW di Yogyakarta mulai ada sekitar tahun 1990 sampai 1994. Pada 1994, Chawari menjadi sekretaris RW, sementara ketua RW dijabat almarhum M Iban Badawi.

Suasana saat pengunjung memburu sejumlah kudapan di Pasar Sore Ramadan Kauman, Kampung Kauman, Jalan KH Ahmad Dahlan, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Suasana saat pengunjung memburu sejumlah kudapan di Pasar Sore Ramadan Kauman, Kampung Kauman, Jalan KH Ahmad Dahlan, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Di sekitar tahun 1990-an itu, Chawari dan Iban duduk-duduk di gang ini. Saat itu mereka melihat ibu-ibu berjualan dan memasang tenda sendiri-sendiri saat Ramadan.

"Kita sebagai laki-laki bantu beberapa pedagang. Setelah kita bantu, saya dan Pak Iban ngobrol-ngobrol. Kalau ini dikelola, mungkin akan menjadi lebih baik," kisahnya.

"1 Ramadan tahun 1996 kita (RW) resmi memulai," jelasnya.

Ketika istilah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) belum umum di Indonesia, Kauman telah lebih dahulu memulai pemberdayaannya.

Dahulu, pedagang yang berjualan pada awal pembukaan hanya sekitar 30 pedagang. Seiring berjalannya waktu, jumlah pedagang meningkat seperti tahun ini yang mencapai 60 pedagang.

Mereka yang berdagang kini bukan hanya warga Kauman saja. Beberapa juga berasal dari luar Kauman.

Suasana saat pengunjung memburu sejumlah kudapan di Pasar Sore Ramadan Kauman, Kampung Kauman, Jalan KH Ahmad Dahlan, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Suasana saat pengunjung memburu sejumlah kudapan di Pasar Sore Ramadan Kauman, Kampung Kauman, Jalan KH Ahmad Dahlan, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Kicak dan Songgo Buwono yang Khas

Salah satu yang membuat pasar sore di sini berbeda dengan tempat lain adalah daya tarik kicak dan songgo buwono yang hanya ada saat Ramadan.

Kicak adalah makanan olahan dari ketan yang di atasnya diberi nangka. Rasanya manis.

Sementara songgo buwono adalah kue sus dengan isian telur, selada, suwiran ayam, dan acar. Songgo buwono disebut sebagai makanan favorit Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.

"Kauman itu ada namanya makanan khas Kauman, makanan tradisional. Jadi makanan itu katakanlah semacam diadopsi dari makanan yang ada di Keraton. Karena bagaimanapun Kauman itu merupakan bagian struktur birokrasi Mataram Islam. Jadi Kauman itu erat dengan Keraton," katanya.

"Makanan yang diadopsi dari Keraton namanya Songgo Buwono," jelasnya.

Sejumlah kudapan yang dijual di Pasar Sore Ramadan Kauman, Kampung Kauman, Jalan KH Ahmad Dahlan, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Sejumlah kudapan yang dijual di Pasar Sore Ramadan Kauman, Kampung Kauman, Jalan KH Ahmad Dahlan, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Di Kauman sendiri ada berbagai makanan khas. Selain kicak, ada juga jadah manten, semar mendem, dan lain sebagainya. Dua makanan ini memiliki rasa gurih.

"Itu dua itu sama. Hanya kalau yang jadah manten itu dikasih sunduk (tusuk) dua," katanya.

Makanan seperti kicak sebetulnya bisa dicari di luar bulan Ramadan, tetapi harus pesan terlebih dahulu. Sebenarnya tak ada hal khusus yang membuat kicak hanya ada saat Ramadan. Namun, lebih pada permintaan pasar yang meningkat di bulan suci ini.

"Kicak, kacang bumbon itu kan tiap hari nggak ada. Tapi misalnya kalau ada yang pesan bisa dibuatkan. Tapi familiarnya ada di bulan Ramadan. Jadi seakan-akan adanya di bulan Ramadan," katanya.

Suasana saat pengunjung memburu sejumlah kudapan di Pasar Sore Ramadan Kauman, Kampung Kauman, Jalan KH Ahmad Dahlan, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Suasana saat pengunjung memburu sejumlah kudapan di Pasar Sore Ramadan Kauman, Kampung Kauman, Jalan KH Ahmad Dahlan, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Kata Pedagang

Maswiyah (63), salah seorang pedagang, mengatakan selain kicak, yang jadi favorit masyarakat adalah bubur saren.

"Kicak itu dari ketan sama kelapa muda, nangka. Adanya cuma kalau puasa. Kalau nggak puasa nggak ada. Adatnya memang," kata Maswiyah.

Harga kicak mulai dari Rp 4.000 sampai Rp 6.000. Sementara itu, songgo buwono satuannya Rp 9.000.

Wahyuni (49), pedagang lainnya, mengatakan yang paling favorit pengunjung selain kicak adalah clorot, yang merupakan makanan khas Purworejo.

"Clorot makanan khas Purworejo, terbuat dari tepung beras, tapioka, gula jawa murni. Tidak pakai gula pasir," katanya.

Suasana saat pengunjung memburu sejumlah kudapan di Pasar Sore Ramadan Kauman, Kampung Kauman, Jalan KH Ahmad Dahlan, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Suasana saat pengunjung memburu sejumlah kudapan di Pasar Sore Ramadan Kauman, Kampung Kauman, Jalan KH Ahmad Dahlan, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Penggunaan gula jawa murni membuat clorot bisa disimpan di kulkas. Ketika hendak dikonsumsi, cukup dihangatkan kembali.

Sementara itu, Nanik, salah satu pengunjung, mengatakan sejak dulu lokasi ini tak pernah luput ia kunjungi saat Ramadan. Tak hanya makanan tradisional, di sini juga ada makanan kekinian.

"Saya selain beli kicak juga beli kaya matcha hingga nasi briyani dan ayam," kata Nanik.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url