Raja Udang Sulawesi: Burung Endemik Terbatas yang Memiliki Warna Paruh Khas - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Raja Udang Sulawesi: Burung Endemik Terbatas yang Memiliki Warna Paruh Khas
Feb 18th 2026, 01:00 by Fabian Satya Rabani

Burung ini hanya ditemukan di Pulau Sulawesi, Pulau Lembeh, dan Kepulauan Sangihe. Ruang hidup yang sempit ini membuatnya menjadi spesies bernilai ekologis tinggi, sekaligus rentan. Foto: ChatGPT Image.
Burung ini hanya ditemukan di Pulau Sulawesi, Pulau Lembeh, dan Kepulauan Sangihe. Ruang hidup yang sempit ini membuatnya menjadi spesies bernilai ekologis tinggi, sekaligus rentan. Foto: ChatGPT Image.

Raja udang Sulawesi bukan burung yang hidup di tepi sungai, danau, atau rawa. Ia justru berdiam di lantai hutan, di antara semak lembap dan vegetasi bawah yang rapat. Hidupnya sunyi, geraknya cepat, dan kehadirannya nyaris tak terasa di rimba tropis Sulawesi.

Nama ilmiahnya Ceyx fallax, dikenal juga sebagai udang-merah Sulawesi. Dalam klasifikasi ilmiah, ia termasuk famili Alcedinidae, ordo Coraciiformes, dan genus Ceyx. Spesies ini pertama kali dideskripsikan oleh Schlegel pada 1866, dan sejak itu menjadi salah satu ikon keunikan burung endemik Sulawesi.

Persebarannya sangat terbatas. Burung ini hanya ditemukan di Pulau Sulawesi, Pulau Lembeh, dan Kepulauan Sangihe. Ruang hidup yang sempit ini membuatnya menjadi spesies bernilai ekologis tinggi, sekaligus rentan terhadap perubahan lingkungan.

Tubuhnya kecil, panjangnya sekitar 12 sentimeter. Badannya kompak, lehernya pendek, kakinya kecil dan kuat untuk bertengger cepat di ranting rendah. Ia bukan burung penjelajah jarak jauh, tetapi spesialis ruang sempit di hutan.

Ciri paling mencolok ada pada paruhnya. Paruh dewasa berwarna oranye wortel terang, kontras dengan gelapnya lantai hutan. Pada burung muda, warna ini belum muncul, masih hitam pucat dan kusam.

Mahkota kepalanya biru bersisik, pipinya keunguan, tenggorokannya putih, dan lehernya memiliki garis terang yang halus. Punggungnya cokelat kemerahan dengan nuansa ungu, sementara tunggir dan ekornya biru cerah. Bagian perutnya jingga merah karat yang hangat.

Kombinasi warna itu tampak mencolok di mata manusia. Di dalam hutan, warna tersebut justru menyatu dengan cahaya yang terpecah oleh daun, batang, dan lumut. Ini adalah kamuflase alami yang bekerja secara ekologis, bukan estetis.

Perbedaan jantan dan betina hampir tidak terlihat. Tidak ada dimorfisme seksual mencolok pada warna atau ukuran tubuh. Identifikasi jenis kelamin lebih sering didasarkan pada perilaku, bukan penampilan fisik.

Berbeda dengan raja udang sungai, burung ini tidak berburu di air. Ia mencari makan di tanah, daun basah, dan vegetasi rendah. Mangsa utamanya berupa serangga kecil, larva, cacing, dan invertebrata hutan.

Cara berburunya sederhana dan efisien. Ia bertengger rendah, mengamati, lalu menyambar mangsa dalam gerakan cepat. Setelah itu, ia kembali menghilang di balik semak.

Kemampuan terbangnya lincah dan cepat, tetapi jarak pendek. Sayapnya dirancang untuk manuver di ruang sempit, bukan untuk terbang jauh. Pola terbangnya rendah dan cepat, nyaris tak terlihat.

Suaranya menjadi ciri unik lain. Ia mengeluarkan bunyi "tseeee" bernada sangat tinggi dan tipis. Frekuensi ini membuatnya sulit didengar di hutan yang penuh suara alam.

Dalam struktur ekosistem, raja udang Sulawesi berperan sebagai pengendali serangga. Ia membantu menjaga keseimbangan mikroekologi hutan. Perannya kecil, tetapi dampaknya nyata.

Secara taksonomi, Ceyx fallax memiliki dua subspesies. Ceyx fallax fallax hidup di Sulawesi dan Lembeh. Ceyx fallax sangiherensis hidup di Kepulauan Sangihe.

Berbeda dengan raja udang sungai, burung ini tidak berburu di air. Ia mencari makan di tanah dan daun basah. Mangsa utamanya berupa serangga kecil, larva, cacing, dan invertebrata hutan. Foto: ChatGPT Image.
Berbeda dengan raja udang sungai, burung ini tidak berburu di air. Ia mencari makan di tanah dan daun basah. Mangsa utamanya berupa serangga kecil, larva, cacing, dan invertebrata hutan. Foto: ChatGPT Image.

Pada 2014, terjadi pemisahan ilmiah penting. Subspesies Sangihe diakui sebagai spesies tersendiri, Ceyx sangirensis. Kajian ini dilakukan oleh BirdLife International dalam Daftar Merah 2014.

Menurut laporan tersebut, pemisahan ini meningkatkan jumlah spesies burung dunia menjadi 10.425 jenis. Indonesia mendapatkan tambahan 48 spesies hasil pemisahan ilmiah. Ini menunjukkan betapa kayanya biodiversitas Indonesia.

Jihad, Bird Conservation Officer Burung Indonesia, menjelaskan bahwa pemisahan ini berbasis kajian morfologi, distribusi, dan ekologi. Ia menegaskan bahwa ini bukan perubahan administratif, tetapi hasil riset ilmiah serius.

Nasib Ceyx sangirensis sangat memprihatinkan. Catatan perjumpaan terakhir terjadi pada 1997. Sejak itu, berbagai survei lapangan tidak pernah berhasil menemukannya kembali.

Survei 2004 sampai 2006, 2009, dan 2014 di Hutan Sahendaruman gagal mendeteksi spesies ini. Populasinya diperkirakan kurang dari 250 individu. Wilayah sebarannya bahkan kurang dari 560 kilometer persegi.

Karena kondisi tersebut, status konservasinya ditetapkan Kritis oleh IUCN. Status ini berarti satu langkah lagi menuju kepunahan. Ini bukan istilah simbolik, tetapi kategori ilmiah tertinggi dalam ancaman kepunahan.

Sebaliknya, Ceyx fallax masih berstatus Hampir Terancam. Perbedaan ini terutama disebabkan kondisi habitat. Hutan Sulawesi masih relatif lebih luas dibanding Sangihe.

Di Indonesia, burung ini dilindungi secara hukum. Perlindungan mengacu pada PP Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Semua burung dari famili Alcedinidae termasuk kategori dilindungi.

Burung ini bersarang di lubang tanah atau batang kayu lapuk. Sarang biasanya berada di lereng hutan lembap. Jumlah telur berkisar dua hingga empat butir.

Masa pengeraman berlangsung sekitar dua hingga tiga minggu. Anak diasuh intensif oleh induk. Setelah dua hingga tiga bulan, anak mulai mandiri.

Umur hidup alaminya diperkirakan 8 sampai 10 tahun. Usia siap produksi sekitar satu tahun. Siklus hidupnya cepat, khas burung kecil tropis.

Warna paruh oranye bukan sekadar keindahan visual. Warna ini berfungsi sebagai sinyal sosial dan identitas spesies. Ia juga membantu pengenalan individu dalam hutan gelap.

Ancaman terbesar burung ini adalah hilangnya habitat. Deforestasi, fragmentasi hutan, dan ekspansi manusia terus menggerus ruang hidupnya. Hutan dataran rendah menjadi wilayah paling rentan.

Agus Budi Utomo dari Burung Indonesia menyebut Sangihe sebagai bird hotspot dunia. Wilayah ini menjadi prioritas konservasi global karena tingkat endemisme dan keterancamannya tinggi. Ini bukan isu lokal, tetapi isu ekologis dunia.

Dr. Stuart Butchart dari BirdLife menegaskan bahwa Daftar Merah bukan sekadar daftar spesies. Ia adalah peta arah kebijakan konservasi global. Tanpa perlindungan habitat, konservasi hanya menjadi jargon.

Referensi

BirdLife International. 2014. IUCN Red List Update Report. BirdLife International: Cambridge. https://www.birdlife.org

Burung Indonesia. 2014. Kajian Daftar Merah Burung Indonesia. Burung Indonesia: Bogor. https://www.burungindonesia.org

IUCN. 2014. The IUCN Red List of Threatened Species: Ceyx fallax & Ceyx sangirensis. IUCN: Gland. https://www.iucnredlist.org

Schlegel, H. 1866. Systematische Übersicht der Vögel. Brill: Leiden. https://archive.org

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url