Menggali Sejarah dan Evolusi Bahasa - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Menggali Sejarah dan Evolusi Bahasa
Feb 17th 2026, 00:00 by Andika Dwi Pratama

https://www.freepik.com/free-photo/page-old-book_1186328.htm#fromView=search&page=1&position=0&uuid=8dbe9ec3-2024-4690-9791-005ca629b980&query=language+history
https://www.freepik.com/free-photo/page-old-book_1186328.htm#fromView=search&page=1&position=0&uuid=8dbe9ec3-2024-4690-9791-005ca629b980&query=language+history

Pernahkah terpikir bahwa bahasa yang kita gunakan sehari-hari ini berasal darimana? sejak kapan dilafalkan untuk pertama kalinya? dan apakah pemetaan makna, bentuk huruf dalam kata, serta artikulasi suaranya juga persis sama dengan sejak awal kali sebuah bahasa tercipta?. Katakanlah Indonesia yang konon katanya merupakan turunan bahasa dari Melayu telah digunakan sejak abad ke-7.

Dalam kajian sejarah linguistik, bahasa Melayu diakui berasal dari bahasa Austronesia yang lebih tua, yang sebelumnya telah mengalami proses perubahan dan perkembangan. Bahasa induk ini kemudian melahirkan berbagai dialek dan variasi bahasa yang mencerminkan pengaruh dari berbagai budaya yang berinteraksi di kawasan Nusantara.

Perubahan bahasa dimulai melalui pengaruh internal seperti pergeseran pada bunyi yang seiring waktu berubah secara tanpa disadari oleh penutur. Apabila kita menelusuri sejarah kata dalam bahasa Inggris seperti pada kata bringed sebagai bentuk lampau dari bring, namun secara tata bahasa kata tersebut tidak benar ( yang benar adalah brought). Meskipun orang dewasa sering menganggap ini sebagai kesalahan namun proses analogi inilah yang secara historis telah merapikan banyak ketidateraturan dalam tata bahasa Inggris.

Aspek internal berikutnya terletak pada perluasan dan penyempitan makna ketika sebuah kata dipakai untuk menamai situasi baru yang memiliki kemiripan unsur dengan makna aslinya. Dalam bukunya, Bloomfield memberikan contoh melalui kata meat yang pada masa lampau digunakan untuk merujuk pada segala jenis makanan padat namun kini maknanya telah menyempit secara spesifik hanya untuk daging hewan saja.

Sejarah pada esensinya tidak pernah luput dari campuran dan pengaruh budaya luar. Dalam hal ini, inti dari budaya yaitu bahasa pun tergolong ke dalam corak perubahan ini. Bahasa tidak pernah benar-benar seragam di seluruh wilayah karena setiap kelompok lokal atau kelas sosial cenderung mengembangkan kebiasaan bicara mereka sendiri yang disebut dialek. Jika komunikasi antara dua kelompok masyarakat terputus oleh hambatan alam seperti gunung atau sungai maka dialek mereka akan berkembang ke arah yang berbeda hingga akhirnya menjadi bahasa yang tidak saling dimengerti.

Fenomena tersebut dibiarkan larut oleh waktu melalui proses percabangan. Proses diferensiasi atau percabangan bahasa ini terjadi ketika kelompok-kelompok penutur terpisah dalam waktu yang cukup lama sehingga dialek-dialek mereka berkembang menjadi bahasa yang benar-benar berbeda dan tidak lagi saling dimengerti. Bukti sejarah mencatat bagaimana bahasa Latin yang dibawa oleh tentara Romawi ke berbagai penjuru Eropa akhirnya pecah menjadi bahasa Prancis, Spanyol, Italia, dan Rumania setelah kekuasaan Romawi runtuh dan komunikasi antar wilayah terputus.

Selain itu faktor dominasi wilayah / imperialisme budaya menjadi bukti bahwa bahasa disebarkan melalui propaganda dan juga dengan cara mimikri atau meniru budaya penjajah. Seperti yang dilakukan bangsa Belanda kepada bangsa Indonesia dahulu, akibatnya banyak serapan kosakata dari bahasa Belanda yang kemudian dilokalisasikan ke bahasa Indonesia, seperti kulkas (koelkast), wastafel (wastafel), asbak (asbak), dan laci (laadje). Meski demikian di sisi lain, karena metode dominasi ini bersifat menyeluruh, dalam artian praktik kebahasaan tersebut dilakukan dalam situasi-situasi yang resmi di berbagai wilayah, akibatnya proses asimilasi ini menyebabkan banyak variasi bahasa punah meski di sisi lain meningkatkan efisiensi dalam berkomunikasi.

Para ahli bahasa telah banyak menelusuri sejarah suatu bangsa melalui metode komparatif untuk merekonstruksi bahasa induk yang sudah lenyap artefak tertulisnya. Dengan membandingkan kemiripan struktur serta kosakata antara bahasa Inggris, Jerman, hingga Sanskerta, terdapat kesimpulan bahwa bahasa-bahasa tersebut berasal dari satu leluhur yang sama.

Upaya rekonstruksi ini membawa kita kembali ke masa prasejarah saat bahasa Proto-Indo-European yang dituturkan oleh komunitas kecil sebelum akhirnya mereka bermigrasi dan bahasanya berkembang menjadi berbagai cabang di Eropa dan Asia. Melalui analisis pola kata seperti father yang serupa di berbagai bahasa kerabat, kita dapat menyaksikan kembali bentuk asli yang kemungkinan besar digunakan oleh nenek moyang bangsa-bangsa tersebut, temuan ini beroperasi seperti layaknya DNA pada pembawaan sifat manusia.

Kesimpulannya adalah bahwa bahasa merupakan fenomena yang sangat dinamis yang terbentuk melalui tarik-menarik antara kekuatan internal psikologis manusia dan kekuatan eksternal sosiologis. Ulasan singkat dari karya Bloomfield ini membuktikan pada kita bahwa tidak ada bentuk bahasa yang benar atau salah secara abadi. Setiap bentuk adalah hasil dari proses evolusi yang panjang dan kompleks. Bahasa akan terus berubah selama manusia terus berpikir, berinteraksi, dan beradaptasi dengan dunia di sekitarnya. Oleh karena itu studi bahasa bukan hanya tentang mempelajari kata-kata melainkan juga tentang memahami sejarah peradaban dan mekanisme pikiran manusia itu sendiri.

Referensi

Bloomfield, L. (1983). An introduction to the study of language (New ed.). John Benjamins Publishing Company. (Karya asli diterbitkan tahun 1914)

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url