Dunlin termasuk spesies yang sensitif terhadap perubahan ini. Keberadaannya menjadi penanda kesehatan ekosistem pesisir. Foto: ChatGPT Image.
Burung Dunlin atau Kedidi Belang dikenal sebagai pengelana mungil lintas benua. Nama ilmiahnya Calidris alpina, anggota keluarga Scolopacidae, ordo Charadriiformes. Ia kecil, sederhana, tetapi menyimpan cerita besar tentang migrasi, ketahanan hidup, dan kecerdikan evolusi.
Secara etimologis, nama Dunlin berasal dari kata "dunling" dalam dialek Inggris abad ke-16. Maknanya merujuk warna coklat kusam yang membalut tubuhnya. Di Indonesia ia dikenal sebagai Kedidi Belang, bagian dari kelompok burung perandai kecil.
Dunlin berkembang biak di wilayah sirkumpolar Arktik dan subarktik. Habitat asalnya adalah tundra, rawa dingin, dan pesisir utara bumi. Dari sana, ia menjelajah ribuan kilometer menuju wilayah tropis dan subtropis saat musim dingin.
Untuk Indonesia, Dunlin tercatat sebagai burung migran lintas Asia Timur Australasia. Ia dapat dijumpai di pesisir Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali, hingga Papua. Lokasinya terutama di lumpur pasang surut, muara sungai, tambak, dan pantai berpasir.
Tubuh Dunlin mungil dan padat. Panjangnya sekitar 16 sampai 20 sentimeter dengan rentang sayap 38 sampai 43 sentimeter. Beratnya hanya puluhan gram, tetapi daya tahannya luar biasa.
Paruh Dunlin bukan sekadar alat makan, tetapi alat sensor biologis. Foto: ChatGPT Image.
Ciri fisik paling khas adalah perut hitam pekat saat musim kawin. Tanda ini nyaris tidak dimiliki burung perandai kecil lain. Warna punggungnya coklat kemerahan, dengan kombinasi abu dan putih di bagian bawah.
Saat musim dingin, warnanya berubah lebih sederhana. Punggungnya abu kecoklatan, perutnya putih bersih. Remajanya memiliki pola V samar di punggung, memberi kesan burung muda yang lincah.
Kaki Dunlin pendek dan berwarna hitam. Lehernya relatif pendek, memberi siluet tubuh yang padat. Paruhnya agak melengkung ke bawah, berwarna hitam, dan tampak sederhana.
Keistimewaan paruh Dunlin ada pada ujungnya. Di sana terdapat jaringan lunak penuh pembuluh darah dan saraf. Struktur ini membuatnya sangat peka terhadap getaran mangsa di lumpur.
Secara biologis, ini disebut sebagai "sensory probe bill". Fungsi ini dijelaskan dalam kajian ornitologi modern. Paruh Dunlin bukan sekadar alat makan, tetapi alat sensor biologis.
Mereka mencari makan di lumpur pasang surut, rawa, dan pantai dangkal. Cara makannya unik, seperti mesin jahit. Ia menusuk lumpur secara ritmis dan cepat. Foto: ChatGPT Image.
Jantan dan betina memiliki perbedaan halus. Betina umumnya memiliki paruh lebih panjang. Ukuran tubuhnya juga sedikit lebih besar dari jantan.
Dalam klasifikasi ilmiah, Dunlin termasuk genus Calidris. Ia pertama kali dideskripsikan oleh Carl Linnaeus pada 1758 dalam Systema Naturae. Penelitian awal ini menjadi fondasi taksonomi modern burung perandai.
Secara global, terdapat sekitar sepuluh subspesies Dunlin. Subspesies ini tersebar dari Greenland, Eropa, Siberia, hingga Alaska. Variasinya terlihat pada warna bulu dan panjang paruh.
Makanannya sederhana tetapi strategis. Dunlin memakan cacing, moluska kecil, krustasea, dan serangga air. Ia mencari makan di lumpur pasang surut, rawa, dan pantai dangkal.
Cara makannya unik, seperti mesin jahit. Ia menusuk lumpur secara ritmis dan cepat. Gerakan ini efisien, minim energi, tetapi sangat produktif.
Secara ekologis, Dunlin berfungsi sebagai pengontrol populasi invertebrata. Ia menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Dalam rantai makanan, ia juga menjadi mangsa bagi predator alami.
Kemampuan terbang Dunlin menjadi keistimewaan utama. Burung ini mampu bermigrasi ribuan kilometer lintas benua. Migrasi ini dilakukan secara bertahap melalui titik persinggahan ekologis.
Fenomena ini dijelaskan dalam teori migrasi burung modern. Menurut Newton dalam The Migration Ecology of Birds (2008), migrasi adalah strategi adaptif menghadapi keterbatasan sumber daya musiman. Dunlin adalah contoh nyata teori ini.
Dalam perjalanan, mereka terbang berkelompok besar. Formasi ini mengurangi hambatan udara dan risiko predator. Pola terbang sinkron menjadi ciri khas visual Dunlin.
Bunyi Dunlin sederhana tetapi khas. Suaranya berupa "chreep" atau "dzeer" bernada nyaring. Saat musim kawin, jantan mengeluarkan trilling keras sebagai suara display.
Penelitian perilaku Dunlin banyak dilakukan di Eropa dan Amerika Utara. Salah satu kajian penting dilakukan oleh Piersma dan Lindström. Hasilnya menunjukkan hubungan antara bentuk paruh dan strategi makan lumpur.
Dalam siklus hidupnya, Dunlin mulai berkembang biak di tundra. Sarangnya berupa cekungan dangkal di tanah. Biasanya berisi empat telur kecil bercorak alami.
Masa pengeraman dilakukan jantan dan betina. Telur menetas setelah sekitar tiga minggu. Anak burung bersifat prekosial dan mampu bergerak sejak dini.
Anak Dunlin mulai belajar terbang pada usia tiga minggu. Dalam beberapa bulan, mereka menjadi mandiri. Umur produktif dimulai sekitar satu tahun.
Rata-rata umur Dunlin di alam liar bisa mencapai 10 tahun. Sebagian individu tercatat hidup lebih lama. Umur panjang ini jarang untuk burung kecil.
Status konservasi Dunlin saat ini tergolong Near Threatened. Penetapan ini dikeluarkan IUCN dalam Red List. Data ini tercantum dalam laporan IUCN Red List of Threatened Species (2023).
Di Indonesia, burung migran seperti Dunlin dilindungi secara hukum. Perlindungan diatur dalam UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati. Regulasi teknisnya diperkuat Permen LHK No. P.106/2018.
Tantangan utama Dunlin adalah kerusakan habitat pesisir. Reklamasi, polusi, dan tambak intensif menggerus lumpur alami. Fragmentasi habitat membuat jalur migrasi terganggu.
Namun ancaman terbesar datang dari perubahan iklim global. Perubahan suhu memengaruhi pola musim dan ketersediaan pakan. Dampaknya langsung terasa pada siklus migrasi.
Dalam laporan WWF Living Planet Report (2022), disebutkan bahwa burung migran adalah indikator krisis ekologis. Dunlin termasuk spesies yang sensitif terhadap perubahan ini. Keberadaannya menjadi penanda kesehatan ekosistem pesisir.
Burung kecil ini mengajarkan banyak hal. Tentang ketahanan, navigasi alami, dan keseimbangan ekologi. Ia mungil, tetapi perannya besar dalam sistem kehidupan.
Daftar Pustaka
BirdLife International. 2023. Calidris alpina. IUCN Red List of Threatened Species. IUCN: Cambridge.
https://www.iucnredlist.org
Newton, Ian. 2008. The Migration Ecology of Birds. Academic Press: London.
https://www.sciencedirect.com/book/9780125173674
Piersma, Theunis., Lindström, Åke. 2004. Migrating Shorebirds as Integrative Sentinels of Global Environmental Change. Philosophical Transactions of the Royal Society B: London.
https://royalsocietypublishing.org
WWF. 2022. Living Planet Report 2022: Building a Nature-Positive Society. WWF International: Gland.