Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/9/2025). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat bergejolak usai lembaga pemeringkat internasional Moody's Investors Service menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Fluktuasi pasar itu dinilai tak lepas dari kekhawatiran pelaku pasar terhadap prospek ekonomi nasional dan kemampuan Indonesia menjaga stabilitas fiskal.
Purbaya mengakui gejolak IHSG dipicu sentimen ketakutan pasar terhadap sinyal yang disampaikan Moody's. Menurutnya, reaksi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini yang justru menunjukkan perbaikan.
"Ya orang takut. Prospek ekonomi kita mungkin enggak bagus gara-gara sinyal dari Moody's," ujar Purbaya di Kompleks Parlemen RI, Senin (9/2).
Purbaya menegaskan penilaian Moody's tidak sepenuhnya sejalan dengan data ekonomi terbaru. Pasalnya, lembaga pemeringkat tersebut berkunjung ke Indonesia sebelum rilis angka pertumbuhan ekonomi terbaru. Setelah data keluar, kinerja ekonomi nasional justru menunjukkan hasil yang solid.
"Pertumbuhan ekonominya 5,39 persen, paling tinggi dalam 5 tahun terakhir. Tahunannya 5,11 persen, lebih tinggi dari China. Lumayan, tuh. Kita nggak nyungsep sepertinya ke arah sana," ujar Purbaya.
Purbaya mengatakan risiko terhadap perekonomian nasional memang selalu ada, tetapi peluang terjadinya tekanan besar relatif kecil. Ia memastikan pemerintah juga terus berupaya menjaga fondasi ekonomi agar tetap kuat dan berkelanjutan.
Purbaya optimistis perbaikan fundamental ekonomi akan kembali menenangkan pasar modal. Ia menilai fluktuasi IHSG akibat sentimen Moody's bersifat sementara dan akan mereda seiring konsistensi kebijakan pemerintah menjaga arah pertumbuhan.
"Jadi orang di pasar modal enggak usah terlalu khawatir," tegas Purbaya.
Lebih lanjut, Purbaya mengungkapkan pemerintah telah menunjukkan kemampuan menjaga stabilitas di tengah tekanan global. Menurutnya, fondasi ekonomi yang diperbaiki sejak tahun lalu mulai terlihat hasilnya.
"Saya betul-betul memperbaiki fondasi ekonomi. Dan sudah terlihat di triwulan IV 2025 tahun lalu. Itu kan lagi mau jatuh, bisa kita balikin ke situ," kata Purbaya.
Purbaya menilai kondisi tersebut menunjukkan Indonesia memiliki instrumen kebijakan yang tepat untuk mendorong pertumbuhan lebih tinggi ke depan, bahkan hingga mendekati 6 persen. Keyakinan itu sekaligus menjadi sinyal kuat bagi pasar bahwa Indonesia tetap mampu memenuhi kewajiban fiskalnya, termasuk membayar utang.
"Berarti kan kita punya senjata yang pas. Dan Anda harus yakin bahwa senjatanya memang pas banget untuk mendorong ke arah 6 persen," ujarnya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjawab pertanyaan wartawan saat media briefing di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (31/12/2025). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO
Dalam konteks penilaian kredit, Purbaya meminta lembaga internasional, termasuk Moody's, agar memberikan penilaian yang lebih adil dan komprehensif terhadap Indonesia. Ia menekankan, aspek kemampuan dan kemauan membayar utang seharusnya menjadi variabel utama.
Ia menegaskan, pemerintah fokus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi melalui perbaikan iklim usaha, penguatan permodalan, dan kebijakan yang mendukung sektor produktif. Dengan ekonomi yang tumbuh kuat, penilaian lembaga pemeringkat diyakini akan membaik dengan sendirinya.
"Sehingga ekonominya betul-betul tumbuh kuat. Nanti yang penilaian Moody's juga akan diubah dengan sendirinya kalau kita bisa membalik arah ekonomi dan terus menjaga pembalikan ekonomi ke depan," jelasnya.
Purbaya bahkan meyakini target pertumbuhan ekonomi 6 persen dapat dicapai dalam waktu dekat. Jika itu terealisasi, ia yakin persepsi pasar dan lembaga pemeringkat terhadap surat utang negara Indonesia akan ikut berubah.
"Jadi saya gak terlalu khawatir. Harusnya tahun ini bisa menaikkan 6 persen. Kalau itu kejadian nanti semuanya juga merubah rating untuk surat utang negara Indonesia," tegas Purbaya.
Adapun, Moody's memangkas outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif, namun tetap mempertahankan rating di level Baa2, satu tingkat di atas batas investment grade. Keputusan itu diambil setelah asesmen yang dilakukan melalui kunjungan ke Indonesia pada 27-29 Januari 2026, termasuk pertemuan dengan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, OJK, hingga Danantara.