Prototaxites, struktur fosil raksasa yang tidak dapat dibandingkan dengan bentuk kehidupan lain mana pun. Foto: Loron dkk., Science.
Sejak pertama kali ditemukan lebih dari 165 tahun lalu, struktur fosil raksasa yang ditinggalkan oleh organisme bernama Prototaxites terus membingungkan para ilmuwan. Hingga kini, fosil aneh tersebut nyaris mustahil diklasifikasikan dalam pohon kehidupan.
Dalam studi terbaru di jurnal Science yang dilakukan para peneliti di Inggris, terungkap alasan kuat mengapa Prototaxites sulit dimasukkan ke kelompok makhluk hidup mana pun. Menurut mereka, organisme purba ini kemungkinan berasal dari cabang kehidupan yang sepenuhnya terpisah, dan tak memiliki kerabat di dunia modern.
Sekitar 400 juta tahun lalu, pada akhir periode Silur, kawasan rawa dipenuhi oleh tumbuhan purba seperti ekor kuda, pakis, dan berbagai bentuk awal tanaman lain yang tampak asing bagi mata manusia masa kini. Di antara vegetasi itu, menjulang struktur raksasa setinggi 8 meter.
P. taiti secara morfologis berbeda dari kelompok jamur yang telah punah atau masih ada. Foto: Science
Meski nama itu bertahan, kebingungan soal klasifikasinya terus berlanjut. Baru pada 2001, ahli paleontologi Francis, Hueber, dari National Museum of Natural History menyimpulkan bahwa Prototaxites kemungkinan besar adalah jamur raksasa.
Kesimpulan tersebut kemudian diperkuat pada 2017 lewat analisis fragmen fosil yang diduga berasal dari bagian luar spesies lebih kecil bernama Prototaxites taiti. Studi itu mengklaim menemukan tekstur yang menyerupai struktur reproduktif jamur Ascomycota modern.
Namun, tidak semua ilmuwan sepakat. Dilansir Science Alert, ada kemungkinan fragmen-fragmen tersebut sebenarnya tidak saling terhubung. Ahli paleobotani University of Edinburgh, Alexander Hetherington, menyatakan bahwa struktur semacam itu tak pernah ditemukan dalam anatomi jamur hidup mana pun yang pernah dideskripsikan.
Hetherington memimpin studi lanjutan terhadap tiga fragmen berbeda P. taiti dan menyimpulkan bahwa bukti yang ada belum cukup untuk memastikan Prototaxites sebagai jamur. Melalui kajian anatomi mikroskopis dan analisis kimia pada struktur tubularnya, tim peneliti secara sistematis menyingkirkan seluruh kandidat kelompok makhluk hidup.
Perbandingan antara fosil Prototaxites dan organisme lain menempatkannya dalam kelompok tersendiri. Foto: Loron dkk., Science
Jamur ditolak karena cara unik anatominya tersusun. Tanaman atau alga dianggap tak mungkin karena komposisi kimianya. Lumut kerak yang merupakan gabungan jamur dan alga juga gugur karena struktur tubuhnya tak sesuai. Bahkan kemungkinan sebagai hewan pun dikesampingkan karena dinding selnya tidak mendukung.
"Berdasarkan penelitian ini, kami tidak dapat mengklasifikasikan Prototaxites dengan garis keturunan makhluk hidup mana pun yang masih ada saat ini, yang justru menegaskan keunikannya," tulis para peneliti.
Mereka menyimpulkan bahwa morfologi dan jejak molekuler P. taiti sangat berbeda dari jamur maupun organisme lain yang ditemukan dalam endapan Devonian di sekitarnya. Karena itu, Prototaxites dinilai paling tepat dianggap sebagai anggota dari kelompok eukariota yang sama sekali baru dan kini telah punah sepenuhnya.
Apa yang sebenarnya terjadi pada kelompok organisme purba ini masih menjadi tanda tanya besar. Bukan tidak mungkin, penelitian di masa depan akan kembali menempatkannya ke dalam kelompok jamur purba.
Namun, tanpa spesimen serupa sebagai pembanding, Prototaxites bisa saja selamanya menjadi anomali fosil, dan sebagai pengingat bahwa evolusi adalah eksperimen tanpa henti, dengan jauh lebih banyak kegagalan dibanding keberhasilan yang pernah kita sadari.