Ilustrasi chip di motherboard komputer. Foto: jplenio via Pixabay
Ada kabar kurang menyenangkan bagi kamu yang berencana membeli gadget baru dalam waktu dekat. Harga barang elektronik seperti ponsel (HP), laptop, hingga perangkat penyimpanan data diprediksi bakal meroket. Penyebabnya adalah kelangkaan chip memori global yang makin parah.
Industri elektronik konsumen kini harus 'berperang' memperebutkan stok chip melawan perusahaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang sedang naik daun. Menurut laporan investigasi Reuters, ledakan tren AI membuat produsen chip memori utama dunia, seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron, mengalihkan fokus produksi mereka.
Mereka kini lebih memprioritaskan pembuatan chip High-Bandwidth Memory (HBM) yang canggih untuk pusat data (Data Center) AI, ketimbang memproduksi chip memori standar (DRAM) yang biasa dipakai di HP dan laptop.
Akibat situasi di rantai pasok kini sangat kacau, raksasa teknologi seperti Microsoft, Google, dan ByteDance dilaporkan berebut untuk mengamankan pasokan dari produsen chip.
"Semua orang memohon untuk mendapatkan pasokan," ujar salah satu sumber industri kepada Reuters.
Bahkan, CEO SK Hynix Group, Chey Tae-won, mengakui pihaknya kewalahan. Stok chip mereka bahkan sudah ludes terjual hingga tahun 2026.
"Belakangan ini, kami menerima permintaan pasokan memori dari begitu banyak perusahaan hingga kami khawatir bagaimana kami bisa memenuhi semuanya. Jika kami gagal memasok mereka, mereka bisa menghadapi situasi di mana mereka tidak bisa menjalankan bisnis sama sekali," ujar Chey.
Akibat peralihan fokus produsen ke chip AI, stok memori untuk komputer dan ponsel menipis drastis. Data dari TrendForce menunjukkan rata-rata inventaris pemasok DRAM turun tajam hanya menjadi 2-4 minggu pada Oktober lalu.
Ilustrasi Data Center. Foto: Gorodenkoff/Shutterstock
Harga HP Bisa Naik hingga 30 Persen
Kelangkaan ini memaksa harga komponen melambung tinggi, yang pada akhirnya akan dibebankan ke konsumen.
Francis Wong, Chief Marketing Officer Realme India, menyebut kenaikan biaya memori ini sebagai sesuatu yang "belum pernah terjadi sebelumnya sejak era smartphone dimulai".
Ia memperingatkan kondisi ini bisa memaksa perusahaan menaikkan harga ponsel sebesar 20 persen hingga 30 persen pada pertengahan tahun depan.
"Beberapa produsen mungkin bisa menghemat biaya di kamera, prosesor, atau baterai. Tapi biaya penyimpanan (storage) adalah sesuatu yang harus diserap sepenuhnya oleh produsen; tidak ada cara lain selain membebankannya (ke harga jual)," tegas Wong.
Senada dengan Realme, Xiaomi juga memperingatkan mereka akan menutupi biaya memori yang tinggi dengan menaikkan harga dan lebih fokus menjual ponsel premium. Sementara itu, produsen laptop ASUS menyatakan akan menyesuaikan harga sesuai kebutuhan.
Akihabara, Jepang Foto: Shutter Stock
Fenomena 'Panic Buying' dan Pembatasan Pembelian
Lebih lanjut dalam laporan Reuters, dampak kelangkaan ini sudah terasa di level pedagang eceran. Di pusat elektronik Akihabara, Jepang misalnya, toko-toko mulai membatasi jumlah pembelian hard-disk dan SSD untuk mencegah penimbunan.
Harga memori DDR5 berkapasitas 32GB yang populer di kalangan gamers melonjak dari 17.000 yen menjadi 47.000 yen (sekitar Rp 4,7 juta) dalam hitungan minggu.
Di China, situasinya lebih gila lagi. Eva Wu, seorang manajer penjualan komponen di Shenzhen, mengatakan harga berubah sangat cepat. Para distributor kini mengeluarkan harga yang hanya berlaku harian, bahkan per jam, padahal sebelumnya harga bisa berlaku bulanan.
Konsultan Counterpoint Research memprediksi harga memori akan terus naik sebesar 30 persen hingga akhir tahun ini, dan kemungkinan bertambah 20 persen lagi pada awal 2026.
Sanchit Vir Gogia, CEO Greyhound Research, menyebut situasi ini bukan lagi sekadar masalah komponen teknis, melainkan sudah menjadi risiko ekonomi makro yang bisa memicu inflasi global.
"Kelangkaan memori kini telah berkembang dari sekadar masalah di tingkat komponen menjadi risiko ekonomi makro," tuturnya.