Peta area terdampak banjir di Kecamatan Batangtoru. Foto: dok. PTAR
Banjir bandang dan longsor yang melanda Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, telah menimbulkan korban jiwa dan kerusakan di sejumlah titik. PT Agincourt Resources (PTAR) pun menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban serta warga yang terdampak banjir bandang dan longsor.
PTAR juga memberikan klarifikasi dan penjelasan terkait narasi yang mengaitkan bencana tersebut dengan operasional Tambang Emas Martabe. Perusahaan menegaskan pentingnya penyajian informasi yang akurat dan berbasis fakta dalam situasi ini.
Temuan PTAR di lapangan menunjukkan bahwa mengaitkan operasional Tambang Emas Martabe dengan banjir bandang di Desa Garoga merupakan kesimpulan yang prematur. Berdasarkan data dan fakta yang dihimpun dari lokasi kejadian, PTAR menegaskan rangkaian peristiwa banjir bandang dan longsor tersebut terjadi karena beberapa faktor.
1. Siklon Senyar Penyebab Hujan Intensitas Sangat Lebat di wilayah Tapanuli Selatan
Curah hujan yang terjadi tercatat sangat ekstrem. Secara statistik, curah hujan ini termasuk dalam kategori hujan maksimum yang belum pernah muncul setidaknya dalam 50 tahun terakhir.
Catatan curah hujan di area tambang Martabe. Foto: dok. PTAR
Intensitas hujan dengan volume luar biasa ini turun merata di wilayah Sumatera bagian utara, termasuk kawasan Hutan Batang Toru yang menjadi daerah hulu dari sejumlah sungai utama di Kecamatan Batang Toru, seperti Sungai (Aek) Garoga, Aek Pahu, dan Sungai Batang Toru.
2. Titik Banjir
Titik utama dan awal bencana banjir terjadi di Desa Garoga yang berada di Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Garoga, kemudian menyebar ke beberapa desa tetangga seperti Huta Godang, Batu Horing, dan Aek Ngadol Sitinjak (area dalam kotak merah).
3. Penyumbatan Material Kayu
Bencana banjir bandang diakibatkan ketidakmampuan alur Sungai Garoga menampung laju aliran massa banjir. Hal ini juga dipicu oleh efek penyumbatan masif material kayu gelondongan di Jembatan Garoga I dan Jembatan Anggoli (Garoga II).
Efek sumbatan ini mencapai titik kritis pada 25 November lalu pada sekitar pukul 10 pagi, yang menyebabkan perubahan tiba-tiba pada alur sungai.
"Akibatnya, dua anak sungai Garoga bergabung menjadi satu aliran baru yang menerjang langsung Desa Garoga," jelas PTAR dikutip dari keterangan resminya, Rabu (3/12).
Sampai saat ini, puluhan orang dilaporkan meninggal dunia dan puluhan lain masih dinyatakan hilang. Jumlah ini diperkirakan terus meningkat dalam beberapa hari ke depan.
4. Lokasi PTAR
PTAR beroperasi di sub DAS Aek Pahu (aliran sungai yang ditandai warna biru muda), yang secara hidrologis terpisah dari DAS Garoga (sungai yang diwarnai oranye).
Meskipun kedua sungai tersebut bertemu, titik pertemuannya berada jauh di hilir Desa Garoga dan terus mengalir ke pantai barat Sumatra.
"Artinya, aktivitas PTAR di DAS Aek Pahu tidak berhubungan dengan bencana di Garoga," tambah PTAR.
5. Tidak Terindikasi Banjir Bandang pada Sub DAS Aek Pahu
Meskipun sejumlah longsoran terpantau di sub DAS Aek Pahu, tidak ditemukan fenomena banjir bandang di sepanjang aliran sungai tersebut. Berbeda dengan kondisi di Sungai Garoga, aliran Sungai Aek Pahu tidak menunjukkan adanya volume lumpur maupun batang kayu yang intensif yang berpotensi memicu sumbatan masif.
"Sebanyak 15 Desa Lingkar Tambang yang sebagian besar berada di sub DAS Aek Pahu juga tidak mengalami dampak signifikan, bahkan saat ini difungsikan sebagai pusat-pusat pengungsian," tambah PTAR.
6. Pengamatan Lapangan dan Udara
Pemantauan lebih lanjut melalui pengamatan udara menggunakan helikopter di kawasan hulu Sungai Garoga menguatkan argumen sumber penyebab banjir. Di titik pengamatan yang berada di sub DAS Garoga, terlihat adanya titik-titik longsoran (landslide) yang terjadi di tebing-tebing kawasan hulu Sungai Garoga.
Longsoran-longsoran inilah yang menjadi sumber langsung dari sebagian besar material lumpur dan batang-batang kayu yang ditemukan di Sungai Garoga.
"Meski begitu, temuan ini masih merupakan indikasi awal. Kajian lebih lanjut diperlukan untuk secara lengkap mencari sumber penyebab lainnya," jelas PTAR.
7. PTAR First Responder dalam Penanganan Bencana
PTAR telah menjadi bagian dari the first responder dengan melakukan kegiatan Search and Rescue (SAR), pembukaan akses, pendirian posko-posko pengungsian yang dilengkapi tenda tenda darurat, dapur umum, dan klinik masyarakat.
Bersama dengan pemerintah daerah, TNI-Polri, dan pemangku kepentingan lainnya, PTAR terus memobilisasi seluruh sumber daya yang dimiliki untuk meringankan beban warga terdampak sejak hari pertama bencana terjadi.
"PTAR juga terus mendukung usaha bersama untuk meminimalkan jumlah korban sekaligus memaksimalkan upaya pemulihan pasca bencana," lanjut PTAR.
8. PTAR adalah Bagian Masyarakat Batang Toru dan Tapanuli Selatan
Dalam aktivitasnya, PTAR senantiasa mematuhi seluruh peraturan pemerintah yang berlaku, termasuk perizinan, khususnya yang berkaitan dengan perlindungan lingkungan. Tambang Emas Martabe melakukan kegiatan penambangan sepenuhnya di kawasan dengan status Areal Penggunaan Lain (APL).
"Selama beroperasi, PTAR terus mendukung upaya perlindungan lingkungan, termasuk konservasi air, udara, tanah, dan konservasi keanekaragaman hayati yang berkolaborasi dengan institusi-institusi nasional maupun internasional," pungkas PTAR.
Perhatian publik terhadap bencana ini sangat besar. Oleh karena itu, PTAR mengajak seluruh pihak untuk mengedepankan kolaborasi, komunikasi, dan manajemen informasi yang baik demi menghindari opini yang berujung pada narasi-narasi yang tidak tepat, kontraproduktif, serta merusak upaya pertolongan dan pemulihan masyarakat terdampak.
PTAR juga berkomitmen mendukung kajian komprehensif dan independen untuk menghasilkan kesimpulan yang tepat dalam mitigasi risiko bencana di masa depan.