Legenda Kelam Malin Kundang menggelar press screening di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Senin (17/11/2025). Foto: Vincentius Mario/kumparan
Keras kepala kadang membuat kita jadi lebih punya tujuan. Tujuan bermanuver dalam genre film, misalnya. Come And See Pictures, di bawah tangan dingin Joko Anwar dan Tia Hasibuan, tak ingin larut dalam pengotakan genre horor atau thriller seperti Siksa Kubur (2024) atau Pengepungan di Bukit Duri (2025), dua film mereka sebelumnya.
Mereka kembali mengisi barisan genre yang jarang digarap di industri, psikologi- thriller-misteri yang kelam lewat film Legenda Kelam Malin Kundang. Menariknya, core cerita ini diambil dari warisan legenda yang turun temurun sudah kita kenal, kisah dari Sumatera Barat bernama Malin Kundang.
Sejak 5 menit awal film, seperti judulnya, kekelaman sudah terasa. Sebuah kecelakaan besar menghapus memori dari otak sang tokoh utama, Alif (Rio Dewanto). Peristiwa itu menjadi awal dari rentetan kisah tragis yang menguliti hubungan antar anak dan ibu, suami dan istri, tokoh utama dengan sekelilingnya, hingga membuka tabir rahasia kelam di balik mereka semua.
Interpretasi Modern dari Cerita Legenda
Jika dibandingkan dengan film misteri lain seperti The Body karya Oriol Paulo (2012) atau Tebusan Dosa karya Yosep Anggi Noen (Palari Films, 2024), Legenda Kelam Malin Kundang jauh berbeda.
Duo sutradara debut, Kevin Rahardjo dan Rafki Hidayat, berhasil menancapkan kukunya ke industri film Indonesia yang pragmatis. Keberanian mereka menginterpretasi cerita legenda populer Malin Kundang patut diapresiasi.
Sikap durhaka Malin Kundang yang kita kenal kini hadir lewat lensa modern yang jauh lebih ambisius, intens, dan penuh makna. Beberapa detail sengaja dimiripkan dengan sumber utama.
Cuplikan film Legenda Kelam Malin Kundang. Foto: YouTube Come and See Pictures
Misalnya, ada luka di kepala Alif (Rio Dewanto). Mirip dengan legenda Malin Kundang yang kita kenal turun temurun. Namun bekas luka itu ternyata punya alasan yang jauh lebih kompleks.
Bekas luka itu terlihat di pelipis kanan Alif, sisa pertengkaran masa lalunya dengan sang ibu, Amak (diperankan oleh Nova Eliza). Dari sebuah luka, ada tragedi besar yang pernah terjadi. Hal ini menjadi poin tambah dalam Legenda Kelam Malin Kundang.
Interpretasi segar lain bisa saya tangkap lewat makna 'kutukan' dalam film ini. Kalian jangan berharap menyaksikan Rio Dewanto menjadi batu di akhir film.
Di film ini, membatu adalah proses psikologis. Alif, sang Malin Kundang modern, tidak dikutuk oleh doa ibu yang tersakiti di tepi pantai.
Alif membatu dari dalam. Jiwanya mengeras seiring penolakannya terhadap masa lalu, memori kelamnya, dan asal-usulnya yang yang sangat tragis. Skrip garapan Joko Anwar, Aline Djayasukmana dan Rafki Hidayat Hidayat ini dengan cerdas dan logis menjelaskan semua cerita, tanpa ada satu celah pun.
Narasi Perbedaan Kelas
Secara teknis visual, Rafki dan Hardjo cermat menempatkan sudut kamera menyempit ke tokoh Alif. Ruang sempit ini membawa penonton seolah ada di sana, bersama Alif mengikuti setiap tragedi, pergulatan psikologisnya, dan menguak tabir bersama sang tokoh.
Pencahayaan pun dibuat muram dan dingin. Film ini terasa penuh teka-teki, muram, dan penuh pertanyaan, berkat kelihaian visual yang mereka buat. Terasa tak seperti karya debut berkat tangan Ical Tanjung sebagai pengarah sinematografi di hampir seluruh karya Joko Anwar sebelumnya.
Menariknya, ada narasi kejomplangan kelas yang saya tangkap dalam film ini. Misalnya, ada tiga sequence di mana kamera melempar ke kota yang sesak, situasi jalanan, masyarakat kecil di sana, lalu tiba-tiba bergeser ke Alif dan Nadin di tempat tidur dan rumah mewahnya.
Cuplikan film Legenda Kelam Malin Kundang. Foto: YouTube Come and See Pictures
Selain menegaskan asal Alif dari jalanan yang dipungut oleh ayah Nadin (Faradina Mufti), menurut Rafki, film ini tidak hanya bicara soal durhaka dalam hubungan antar anak dan ibunya.
"Kami ingin menampilkan adanya perbedaan kelas, di mana karakter bersikap sebagaimana mestinya dalam film ini. Kami tampilkan gambar kota dan masyarakat kelas bawah, karena menggambarkan Alif berasal dari sana," kata Rafki dalam acara press screening, belum lama ini.
Dunia kelas menengah ke bawah ditinggalkan Alif, dan dunia yang ditinggalkannya itu akan kembali ditemui penonton dalam film ini. Ada jurang pemisah antara dunia Alif yang sekarang dengan masa lalunya.
Rumah mewah Alif dan Nadin yang didominasi kaca, beton, dan warna monokromatik dingin, berkontras tajam dengan gambaran kampung pinggiran Jakarta yang kumuh dan tertinggal.
Kondisi Karakter yang Butuh Penjelasan
Di balik semua pujian, menurut saya, film ini menyisakan beberapa pertanyaan yang mungkin mengganjal bagi sebagian penonton. Misalnya, kecelakaan besar yang dialami Alif di awal film, membuatnya hilang memori dan hanya dapat mengingat beberapa hal.
Salah satu yang hilang adalah memori masa lalunya, termasuk tentang ibunya. Memori itu akan muncul ketika Alif sendiri dan paranoia-nya kambuh. Alif lalu bisa mengingat detail peristiwa masa lalunya, hingga mengetahui rahasia yang disembunyikan oleh istrinya.
Cuplikan film Legenda Kelam Malin Kundang. Foto: YouTube Come and See Pictures
Pertanyaannya, penjelasan medis seperti apa yang dialami Alif? Apa yang benar-benar terjadi di kepalanya sehingga bisa seperti itu? Di awal film, sempat ada penjelasan medis. Namun, hal itu rasanya hanya terasa sepotong.
Bagaimana dari sisi psikologi? Kenapa istri Alif, Nadin, tidak bertindak dan membawa Alif ke profesional ketika melihat sesuatu yang aneh terjadi pada diri suaminya?
Legenda Kelam Malin Kundang membiarkan pertanyaan itu mengambang. Cara ini bisa diartikan agar membuat penonton ragu dan berefleksi, apakah Alif murni durhaka? Atau dia hanya korban dari masa lalu yang menghantam keadaan psikologisnya saat ini?
Keadaan ini seperti pedang bermata dua, di satu sisi menambah lapisan kompleks cerita, tetapi di sisi lain berisiko membuat motivasi karakter terasa kurang membumi.
Yang Tidak Kelam: Trauma Antar-generasi Harus Dihapuskan
Di balik kekurangan di atas, bagi saya, Legenda Kelam Malin Kundang meninggalkan argumen berharga, bahwa kedurhakaan Alif bukanlah dosa yang lahir dalam semalam. Ia adalah produk dari trauma yang diwariskan. Dan sebagaimana Alif bersikap di akhir film, trauma antargenerasi itu harus dihapuskan.
Lewat kilas balik, penonton bisa melihat bagaimana Amak bertahan dengan cara yang tragis karena himpitan kemiskinan. Alif yang menyaksikan semuanya itu di usia kecil, tentu sangat terpukul. Trauma itu terfragmentasi dan menurun di kepala Alif.
Sebagai orang tua, rasanya film ini akan sangat berarti untuk memaknai kembali sebuah label dalam keluarga. Label anak durhaka, ibu yang jahat, atau pelacur, rasanya bisa direfleksikan ulang.
Cuplikan film Legenda Kelam Malin Kundang. Foto: YouTube Come and See Pictures
Pada akhirnya, kisah Malin Kundang yang dikutuk menjadi sebuah batu dimaknai sebagai sebuah siklus dalam film ini. Puncaknya adalah sebuah ruang perawatan dalam jiwa, menjadi penutup yang jauh lebih indah daripada kutukan menjadi batu.
Alif memang membatu, bukan secara fisik, tetapi jiwanya mungkin terpenjara dalam penyesalan. Sekeras batu Malin Kundang, film ini terasa 'keras kepala' dan patut diapresiasi dalam menghadirkan kebaruan cerita ajaib di perfilman Indonesia.