Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan terkait program paket ekonomi usai rapat koorddinasi dengan Presiden Prabowo Subianto di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Senin (15/9/2025). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti masih lemahnya permintaan di sektor perumahan. Hal itu tercermin dari serapan kredit yang rendah di PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN, yang baru mencapai 19 persen dari alokasi dana pemerintah sebesar Rp 200 triliun yang disalurkan ke bank-bank Himbara.
"BTN awalnya bilang akan menyerap dana besar, tapi ternyata realisasinya masih rendah. Ini menggambarkan bahwa permintaan di sektor perumahan memang masih lemah," kata Purbaya dalam Rapat Kerja Komite IV DPD RI bersama Kementerian Keuangan di Jakarta, Senin (3/11).
Menurutnya, lemahnya penyaluran kredit BTN mencerminkan kondisi permintaan masyarakat terhadap pembiayaan rumah yang belum pulih sepenuhnya. Meski demikian, Purbaya optimistis sektor perumahan akan kembali tumbuh seiring membaiknya perekonomian nasional.
"Mungkin ekonomi perlu bergerak dulu baru pelan-pelan permintaan rumah tumbuh. Kita tidak bisa memaksa orang beli rumah atau ambil kredit jika pendapatannya belum stabil. Tapi kalau tren ekonomi seperti ini terus berlanjut, saya perkirakan pada 2026 pendapatan sektor perumahan akan kembali sehat," ujarnya.
Seorang bocah bermain sepeda di kawasan perumahan subsidi pemerintah di Perumahan Sasak Panjang 2, Tajur Halang, Bogor, Jawa Barat, Rabu (17/2/2021). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO
Purbaya mengungkapkan, dari total dana Rp 200 triliun yang disalurkan ke lima bank Himbara yaitu Mandiri, BRI, BNI, BTN, dan BSI, rata-rata penyerapannya cukup baik, kecuali BTN yang menjadi yang terendah.
"Alhamdulillah rata-rata penyerapannya lumayan, kecuali BTN baru 19 persen. Dana itu nanti akan saya pindahkan ke tempat lain," tegasnya.
Sementara itu, berdasarkan data Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera), penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) hingga 20 Oktober 2025 telah mencapai 203.439 unit rumah senilai Rp25,24 triliun. Sejak 2022 hingga saat ini, total realisasi penyaluran FLPP mencapai 858.739 unit rumah dengan nilai Rp 101,3 triliun.