Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersiap mengikuti Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/10/2025). Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal IV 2025 bisa mencapai 5,6-5,7 persen. Dengan capaian tersebut, ekonomi Indonesia bisa tumbuh 5,2 persen sepanjang tahun ini.
Purbaya mengatakan, optimisme ini didukung kebijakan penempatan dana pemerintah di perbankan sebesar Rp 200 triliun, yang kemudian ditambah Rp 76 triliun pada awal November ini, hingga berbagai stimulus ekonomi.
Menurutnya, kebijakan penempatan dana kepada sistem keuangan tersebut baru bisa terasa dampaknya kepada perekonomian sekitar 2-3 bulan setelah injeksi, sehingga dia berharap dapat terlihat pada kuartal IV 2025.
"Kalau sebelumnya 5,02 di triwulan III, kita expect di triwulan ke 4 dengan stimulus ini, dengan stimulus yang lain-lain, BLTS dan lain-lain, kita expect ekonomi kita di triwulan ke 4 bisa tumbuh 5,6-5,7 persen," ungkapnya saat Rapat Komisi XI DPR, Kamis (27/11).
Dengan begitu, kata Purbaya, maka realisasi pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2025 secara penuh dapat terakselerasi, hingga mencapai 5,2 persen.
"Kalau itu terjadi maka pertama momentum pertumbuhan ekonomi kita sudah berbalik dari melambat ke arah kecepatan. Yang kedua, full year ekonomi kita bisa tumbuh sebesar 5,2 persen," kata Purbaya.
Jika perekonomian Indonesia membaik, dia juga berharap para investor baik itu Foreign Direct Investment (FDI) maupun melalui pasar modal dan riil bisa mengeksekusi rencana investasi dan ekspansi bisnisnya di Indonesia.
Selain itu, Purbaya juga menyoroti tingginya kepercayaan masyarakat yang juga berkontribusi pada pondasi perekonomian. Hal ini terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang tumbuh ekspansif ke level 121,2 pada Oktober 2025.
"Dari mungkin April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September turun ke bawah untuk indeks keyakinan konsumen saat ini maupun ekspektasinya. Tapi kita lihat Oktober naik dengan signifikan ke level 121,2. Artinya kita berhasil membalik optimisme masyarakat terhadap perekonomian kita," tegasnya.
Selain itu, penempatan dana pemerintah yang dialihkan dari Bank Indonesia (BI) ke sistem perbankan untuk disalurkan menjadi kredit juga berhasil meningkatkan laju pertumbuhan uang, dari sebelumnya hampir 0 persen, menjadi 13 persen pada September.
Namun, lanjut Purbaya pertumbuhan ini sedikit menurun menjadi 7,8 persen pada Oktober, sehingga direspons dengan penambahan suntikan dana sebesar Rp 76 triliun.
"Cuma di bulan Oktober turun sedikit lagi ke 7,8 persen, jadi agak kurang minyaknya, jadi saya sudah dorong lagi ke sistem tambah Rp 76 triliun, jadi ini harusnya naik lagi ke atas," ujar Purbaya.
Sejauh ini, dia menyebutkan dampaknya sudah terlihat pada penurunan suku bunga pinjaman, suku bunga deposito, hingga pasar uang antarbank juga mengalami penurunan.
Dengan kondisi seperti itu, diharapkan penyaluran kredit akan semakin moncer. Purbaya meyakini pertumbuhan kredit hingga akhir tahun ini bisa mencapai 10 persen.
"Dan itu tidak mengubah APBN, jadi saya belum ekspansi fiskal sama sekali, itu hanya memindahkan uang saya dari BI ke perbankan, yang akibatnya ketika uangnya seperti ini di sistem, itu masyarakat bisa memanfaatkan itu untuk ekspansi bisnis," tegas Purbaya.