Antrean panjang kendaraan, untuk bisa mendapatkan solar, di SPBU Itera-Kota Baru yang berada di Jatimulyo, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan | Foto : Eka Febriani / Lampung Geh
Lampung Geh, Bandar Lampung – Antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) kembali terjadi di Lampung dalam sepekan terakhir akibat kelangkaan solar subsidi. Kondisi ini dinilai menghambat aktivitas masyarakat, mulai dari petani, nelayan, hingga sopir angkutan. Anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Fatikhatul Khoiriyah menyebut, kelangkaan solar menjadi persoalan serius karena berimbas langsung terhadap roda perekonomian daerah. "Alat pertanian butuh solar, kendaraan butuh solar, nelayan tidak bisa melaut tanpa solar, sopir tidak bisa beraktivitas. Bahkan kebutuhan infrastruktur petani juga terhambat. Ini jelas mengganggu roda ekonomi daerah," ujar Khoir, saat diwawancarai, Senin (29/9). Khoir mengatakan DPRD akan mendorong semua pihak terkait untuk segera duduk bersama mencari solusi. Ia juga menekankan pentingnya pengawasan distribusi agar pasokan tidak disalahgunakan. "Kita dorong kolaborasi antarinstansi, termasuk pengawasan yang ketat. Sebab selain menjalankan fungsi pengawasan, kami di DPRD juga berhubungan langsung dengan masyarakat. Maka kami harus memahami dan menyuarakan keresahan mereka," ungkapnya. Menanggapi isu dugaan penimbunan, Khoir memastikan DPRD akan menindaklanjuti informasi tersebut. "Kita akan cari tahu apakah benar ada oknum yang melakukan penimbunan hingga menyebabkan ketersediaan solar berkurang. Kalau terbukti, tentu pihak berwenang harus bertindak tegas. Dan kami pastikan DPRD akan mengawasi itu," tegasnya.
Anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Fatikhatul Khoiriyah | Foto : Eka Febriani / Lampung Geh
Berdasarkan pantauan Lampung Geh, antrean panjang kendaraan, terutama truk dan mobil angkutan untuk bisa mendapatkan solar, masih terjadi di SPBU Itera-Kota Baru yang berada di Jatimulyo, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, pada Jum'at (26/9). Sementara itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan akan segera mengajukan penambahan kuota solar sebesar 9,06 persen dari jatah tahunan ke Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas). Kepala Bidang Energi Dinas ESDM Lampung, Sopian Atiek, menjelaskan lonjakan konsumsi solar terjadi cukup signifikan dalam tiga bulan terakhir. "Solar ini memang ada peningkatan di Lampung mulai Juli konsumsi meningkat 5.000 kiloliter (KL) dari kuota bulanan, Agustus bertambah lagi 9.000–10.000 KL, dan di September ini prediksi peningkatan minimal di angka 10.000 KL," ujar Sopian, Senin (22/9). Menurutnya, kenaikan kebutuhan solar dipicu oleh meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya di sektor transportasi. Dari hasil pengecekan bersama Pertamina di delapan kabupaten, ditemukan adanya SPBU yang kuotanya tidak mencukupi. (Cha/Ansa)