Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan paparan saat konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Senin (22/9/2025). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai target pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 6 persen bukan hal yang mustahil. Namun, menurutnya, target itu baru realistis dicapai mulai 2027.
"Kalau 6 persen itu tahun ini atau tahun 2026, akan sangat berat. Tetapi jika tahun 2027 atau setelahnya, ini merupakan target yang rasional," kata Wija kepada kumparan, Minggu (28/9).
Wija menekankan, pemerintah punya pekerjaan rumah besar agar pertumbuhan tidak sekadar tinggi, melainkan juga berkualitas dan berkelanjutan. Dua hal utama yang perlu dibenahi adalah kepastian hukum dan iklim berusaha.
"Pemerintah mempunyai PR besar untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, berkualitas dan berkelanjutan, bukan hanya tinggi saja. Yaitu memperbaiki kepastian hukum dan iklim berusaha. Dua hal ini merupakan faktor terbesar yang menghambat ekonomi kita tumbuh sesuai dengan potensi yang sesungguhnya," jelas Wija.
"Sayangnya, dalam dua hal tersebut, kinerja kita dalam 5 tahun terakhir justru semakin memburuk. Pak Prabowo dan tim-nya perlu bekerja keras," imbuhnya.
Selain itu, disiplin kebijakan fiskal dan menjaga independensi Bank Indonesia (BI) dalam menjalankan kebijakan moneter juga krusial.
"Selain memperbaiki kepastian hukum dan iklim investasi, Pemerintah perlu memastikan kebijakan fiskal dijalankan dengan penuh disiplin, serta kebijakan moneter dilaksanakan dengan independensi BI," tegas Wija.
Ia juga menyebut faktor eksternal seperti perlambatan ekonomi global, fluktuasi harga komoditas, hingga geopolitik memang berpengaruh. Namun, kunci sebenarnya tetap ada di dalam negeri.
"Geopolitik dan ekonomi dunia selalu dinamis dari waktu ke waktu. Kita tidak boleh menyalahkan faktor eksternal. Solusinya ada, dan ini bersifat internal, kita harus mendongkrak daya saing ekonomi kita. Ini bukan PR mudah, tetapi PR berat jangka panjang, mengingat mayoritas bersifat struktural," ungkapnya.
Optimisme Wija hadir seiring keyakinan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. Dalam media briefing di Jakarta, Jumat (26/9), Purbaya menanggapi santai kritik dari akademisi Rocky Gerung.
"Biar aja (kritik), enggak apa-apa. Kan semuanya enggak bisa puas. Itu hal yang wajar," ujar Purbaya.
Purbaya bahkan menantang Rocky untuk meminta maaf jika target 6 persen benar-benar tercapai. "Dengan berjalannya waktu, kalau saya bisa balikin ekonomi dari 5 persen ke 6 persen atau lebih, Rocky Gerung harus minta maaf ke saya," katanya.
Ia menegaskan tidak alergi kritik, karena justru bisa menjadi pengingat bagi dirinya dan Kementerian Keuangan.
"Itu semacam kontrol juga buat saya. Artinya gini, jangan terlena juga. Mentang-mentang di Kementerian Keuangan anak buahnya banyak. Saya ke sini bukan buat tidur," tuturnya.